Ayat Ayat Cinta (Novelnya)
Diposkan oleh rizkidwika



Tok..tok..tok..tok..
‘Maria.. Maria..’
‘Fahri ?’
‘Ana, ana bata..’
‘Kamus Arobi ?’
‘La.. La..’
‘Kamus English ?’
‘La.. La..’
‘Eh ?’
‘Ana.. ana bata anta ila syaaiti. Diluati.’


Sedikit cuplikan opening Film Ayat Ayat Cinta, kurang lebih begitu karena gue nggak bisa Bahasa Arab. Film yang diangkat dari novelnya Habiburrahman El Shirazy ini udah gue tonton puluhan kali. Film terbaiknya Indonesia, sampai – sampai gue hafal dialognya.

Ngomongin soal Ayat – Ayat Cinta, FYI gue sama sekali belom baca novel best seller ini. Ketinggalan Zaman memang, walau kenyataannya gue bukan Si Doel anak Betawi (ngejayus).

Alkisah, siang hari yang panas di SMA Negeri 4 Bekasi gue mampir ke perpustakaan. Melihat rak buku novel dan, mengambil novel Ayat – Ayat Cinta yang sampulnya udah ….. (gue kehabisan kosakata dalam menggambarkan kondisi fisik cover itu). Kelihatannya sih udah kaya kumpulan naskah sastra asli tahun 1945. Kondisinya udah parah deh.

Pembacaanpun dimulai
Dan memang benar kata orang, Ayat Ayat Cinta (novel) beda jauh sama Ayat Ayat Cinta (film). Banyak banget adegan di Novel yang nggak turut disertakan di film, sebut saja adegan waktu Fahri kena heat stroke, waktu Fahri sama Aisha ke Alexandria, dan waktu Fahri satu sel sama Profesor dari Universitas di Mesir dan orang Al Azhar lainnya.

Lewat novel itu juga, gue dapet pembetulan cerita. Misalnya waktu itu gue kira Kentucky Maadi adalah nama kota. Ternyata Kentucky Maadi itu nama cabang KFC yang ada di kota Maadi, haha. Jadi kepikiran buat sekuel Ayat Ayat Cinta.

Adegannya nanti begini :
Fahri : Aku punya teman Turki yang sekarang ada di Amang Seroja.
Aisha : Amang Seroja? Aku punya paman di Amang Seroja. Mungkin, pamanku kenal temanmu. Siapa namanya ?
Fahri : Namanya Eqbal Hakan Erbakan.
Aisha : Siapa Namanya ?
Fahri : Eqbal Hakan Erbakan.
Aisha : La illaha illallah, dia itu pamanku !
Fahri : So ein zufall (Sungguh Suatu Kebetulan)
Hahaha.

Saya terbawa alur.
Fahri, seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan Magisternya di Al Azhar Mesir adalah pemuda yang konsekuen. Dia rela pergi jauh – jauh menerjang panasnya Kairo demi menepati janji – janjinya, misalnya untuk talaqqi Syekh Usman dan sebagainya. Akibatnya, seringkali dia terkena heat stroke dan mimisan.

Penghayatan, penghayatan.
Nampaknya gue ngebacanya terlalu menghayati. Sehari sejak membaca novel itu, kepala gue rasanya berat. Pusing. Gue tahu betapa nestapanya Fahri yang hidupnya didedikasikan hanya untuk tugas – tugas. Mirip kaya gue, walaupun gue masih beruntung hidup di Kota Bekasi yang suhunya 27 – 30° Celsius.

Gimana endingnya ?
Sayangnya, buku yang gue pinjam dari perpustakaan SMA Negeri 4 yang bayarannya kini turun Rp. 100.000 adalah buku bajakan. Ada banyak bab yang cacat, ketahuan banget ngantuk motokopiinnya. Dan yang paling sialnya lagi, ceritanya gantung di tengah.

Ceritanya selesai waktu adegan Maria ngimpi ketemu Siti Maryam di Surga dan Maryam berkata bahwa dia harus memiliki kunci surga. Dan kelanjutannya ? Hanya tukang fotokopian yang tahu.

Photo

14/02/2010

di 14:10


Label:

0 komentar:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah