Kalau tentara akan berjuang dengan senjatanya,
Kalau mahasiswa akan berjuang dengan aksi teatrikalnya,
maka.. penulis akan berjuang dengan pena, pedangnya.

Kayanya baru pertama kali gue nulis yang sifatnya memotivasi seseorang begini. Sebetulnya disini gue nggak bersifat menggurui, atau bersikap seperti Master of Menulis dan sebagainya. Tapi disini gue mau sharing aja tentang menulis, berdasarkan pengalaman yang gue peroleh selama ini.

(Tulisan akan dibuat dalam bentuk ilustrasi wawancara, wawancara saya dengan mas Putra Nambalban. Calon incumbent pemenang Pandasonic Gombel Award 2010 kategori pembawa acara berita)

***

Lokasi : Belakang White House, USA
Waktu : Abis Nambalban wawancarain Obama
Tema : Menulis itu Mudah

***

Putra Nambalban : Hari ini, saya berhasil mewawancarai penulis lokal amatiran yang tidak berbakat di SMA Negeri 4 Bekasi. Rizki Dwika !
Oke langsung saja. Menulis adalah hal yang susah, tapi.. kok judulnya gampang ?

Rizki Dwika : Begini ceritanya.
Menulis dalam bahasa universal artinya adalah menggoreskan sesuatu baik itu pikiran atau hasil penangkapan indra kedalam bentuk yang nyata.

Putra Nambalban : Bahasa Mas ribet. Intinya apa ?

Rizki Dwika : Ribet ya? hehe. Intinya gini, nulis itu ya nulis. Nuangin sesuatu ke atas media menulis.

Putra Nambalban : Media menulis ? Saya tahunya Gramedia doang mas, sama Gagasmedia palingan

Rizki Dwika : Astaghfirullah. Media menulis sendiri bermacam – macam. Kertas, bisa. Komputer, boleh. Buku gambar, silahkan. Buku paket, mangga. Buku pelajaran, hayuu. Otak? Bisa.

Putra Nambalban : Menulis pake otak ? Kok bisa ? Kata Bapak guru nulis itu di jidat..

Rizki Dwika : Aduh mas ini tampang innocent kok Pe’a sih. Dibalik jidat ada apa coba ? Otak kan ? Nah nulis pake otak itu gini. Kita berdiam diri sejenak, paling lama lima menitan lah. Nah disaat itu, kita refleksikan semua bayangan yang kita lihat, kita dengar, kita rasa, kita ucap kedalam kata – kata. Istilahnya tuh gini, otak itu komputer. Nah di komputer ada Microsoft Word-nya kan ?

Putra Nambalban : Oke. PENONTOOOOONN ! (woooy). IKLAN ! (kuda-kudaaan!) *ceritanya iklan*

***

Putra Nambalban : Balik lagi nih wawancara kita bareng Rizki Dwika. Oke, biasanya banyak sekali orang yang punya potensi dalam menulis, namun orang itu sering males dan ogah – ogahan. Menurut mas ?

Rizki Dwika : Menurut kutipan twitter Raditya Dika hari Senin tanggal 23 kemarin, menulis itu harus dibiasakan. Sama kayak eek. Kalo mas Putra nggak biasa eek, maka sisa makanan yang di perut bisa busuk di dalem kan ?

Sama kaya nulis. Ibaratnya ide itu sisa makanan, dan menulis adalah eek. Kalo mas nggak mengeluarkan ide – ide, bisa – bisa idenya malah busuk di dalem.

Putra Nambalban : Jadi, sisa makanan sama dengan ide dong. Wah tadi pagi saya buang ‘ide’ banyak loh.

Rizki Dwika : (mengelus dada, melakukan inspirasi yang sangat panjang)

Putra Nambalban : PENONTOOOOOONN ! (wooooyy). IKLANNNN ! (tarik napaaas) *ceritanya iklan lagi*

***

Putra Nambalban : Kita ada di segmen terakhir Muterin Indonesia Sore. Oke selanjutnya, apa sih yang dibutuhkan untuk menulis ?

Rizki Dwika : Pertanyaan yang bagus. Yang dibutuhkan orang dalam menulis adalah kemauan. Kedua, usaha. Ketiga, bahan dan observasi. Keempat, sasaran pembaca. Misalnya orang itu mau bacaannya dipublikasikan luas atau tidak, dan lain – lain. Kelima, evaluasi. Baca lagi tulisan anda dari awal sampai akhir. Ada yang jelek atau nggak, ada yang salah ejaan atau nggak..

Putra Nambalban : Ya, saya sangat setuju. Lalu, bumbu – bumbu untuk menulis apa sih ?

Rizki Dwika : Ah si mas, mau masak apa pake bumbu. Tapi bener juga, Misalnya gini, saya sedang memasak OSENG – OSENG TULISAN dan telah menyiapkan bahan – bahan, sepotong IDE, potongan sayur KREATIFITAS, dan bahkan saya sudah membeli alat masak Teflon bolak balik ‘NIAT’HAPPYCALL.

Tapi, tanpa ada garam KETULUSAN HATI dan penyedap rasa micin merk LEBAY, OSENG – OSENG TULISAN saya tidak akan istimewa. Untuk itu kita perlu kedua bahan tersebut.

Garam Ketulusan Hati paling penting. karena selain kata Inul kalo sayur tanpa garam akan kurang enak kurang sedap, segala sesuatu tanpa niat dari hati = nol. Hal ini sama halnya dengan kerja. Kalau kerja cuma bisa nyari materi, tapi nggak sreg dengan hati.. tandanya anda telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup anda.

Tapi untuk bumbu kedua, micin LEBAY boleh dipake, tapi cuma sedikit. Kenapa ? Karena yang berlebihan itu nggak baik. Bayangkan suatu tulisan dari awal sampai akhir isinya kalimat lebay semua. Pembacanya pasti masuk angin duluan. Sama kaya micin ajinomoto, kalo kebanyakan nggak sehat kan ?

Putra Nambalban : Pertanyaan terakhir. Perlukah seorang penulis memiliki ciri khas ? Bagaimana seorang penulis menemukan jatidirinya ?

Rizki Dwika : Setiap penulis memiliki ciri khasnya. Entah itu akan memiliki, atau sudah memiliki. Dan untuk memilikinya, kita bisa menerapkan doktrin kedalam alam bawah sadar kita.

‘JUST BE YOURSELF, JUST BE YOURSELF, JUST BE YOURSELF’ kata – kata jitu yang biasanya ditulis seorang pelajar yang otaknya lagi stuck, dan dia disuruh ngisi motto hidup di Buku Tahunan.

Dengan menjadi diri sendiri, kita bisa meng-eksplor potensi diri kita sendiri. Kita nggak perlu jadi Raditya Dika, nggak perlu jadi JK Rowling, nggak perlu jadi Tine Maria Kuswanti (maaf salah sebut, ini penulis buku paket kimia saya. haha), bahkan nggak perlu jadi Indra Julianta. Jadi diri sendiri, jadi diri sendiri.

Biasakan nulis setiap hari, walaupun itu cuma draft SMS di hape. Misalnya anda lagi capek, tinggal tulis aja ‘GUE CAPEK BANGET. SEMUANYA BIKIN EMOSI.’ Setiap hari seperti itu, lalu tingkatkan jumlah katanya sedikit demi sedikit.

Kalau anda sudah terbiasa, coba ngelatih diri dengan mendeskripsikan suatu benda dalam 1000 kata. Nggak berbobot nggak apa – apa, anda bisa mengarang bebas dan ngelantur.

Misalnya saya milih objek Hape. Ada bisa cerita hapenya itu seri apa, merek apa, beli dimana, harganya berapa, kesan kesannya punya hape itu, kenangannya, bahkan anda bisa nyerempet – nyerempet ke hal yang nggak penting, misalnya “hape ini dibuat Finlandia yang letak negaranya dekat Denmark dan Belanda, negeri penghasil keju dan orang bule terbanyak”.

Kalo anda udah sering nulis, nanti karakteristik tulisan anda bisa terbentuk. Slow down baby, take it easy just let it flow, wuuuw.

Putra Nambalban : (terdiam), maaf mas, tadi saya lagi buka fesbuk. Yang terakhir bisa diulang ?

Rizki Dwika : (terhenyak) Mas masih mau hidup kan waktu nerima Pandasonic Awards nanti ? Mendingan mas tinggalin saya sendirian SEKARANG !

nb. Permintaan maaf yang sebesar – besarnya dari saya untuk Mas Putra Nababan yang asli, dimana jika ‘Nababan’ dibalik akan sama dengan ‘nababaN’.
Pipis, Lope, and Gaholl.

Photo

23/03/2010

di 10:38


Label:

0 komentar:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah