Cut Tari Bukan Metromini
Diposkan oleh rizkidwika

Beberapa bulan yang lalu, penulis panutan gue mbak Dee Lestari pernah memposting tulisan di blognya menyangkut kasus Luna Maya dan wartawan, yang masalah kamera si reporternya nyenggol kepala anaknya Ariel itu loh. Tulisannya yang juga merupakan curhat colongannya dia sebagai publik figur di Indonesia itu mengundang banyak reaksi dan persetujuan dari artis-artis. Tulisan itu berjudul, Luna Bukan Kopaja.

Dan kali ini, gue bakal ngangkat tulisan bertemakan sama, dari sudut pandang bukan publik figur pastinya. Cut Tari Bukan Metromini. Terdengar aneh? Kalo misalnya abis ini ada yang mau nulis dengan judul Ariel bukan Mikrolet, atau Indomie Sedaap bukan Supermie misalnya, sah-sah aja kok :)

Kenapa gue memilih membandingkan dia dengan Metromini, padahal Cut Tari bodinya nggak dicet warna oranye, putih, dan biru tua?
Begini. Selain karena tempat tinggal gue deket sama pangkalan Metromini 43 (baca:Jati Unggul, Harapan Jaya, Bekasi 17124), yaa karena pada dasarnya Cut Tari memang bukan transportasi massal seperti Kopaja, Metromini, atau Koasi.

Balik lagi ke masalah Cut Tari.
Udah lama kita nggak melihat Cut Tari yang selalu memberikan komentar pedasnya di !nsert, atau Luna Maya yang membacakan deretan video klip di Dahsyat. Selama liburan kemarin, kita yang notabene ABG-ABG yang masih labil -yang jiwanya masih gampang goyah kesana-kemari- disuguhkan tontonan kontroversional yang ditayangin berulang-ulang di setiap stasiun TV.

‘Kepada yang terhormat, Bapak Presiden Indonesia beserta Ibu..’
‘Kepada, Bapak Kapolri beserta Ibu’
‘Bapak Kapolda, Bapak Kabareskrim beserta Ibu’

Kalimat-kalimat itu memang kalimat yang sering diucapkan oleh Cut Tari, biasanya ketika menjadi MC dalam acara-acara seperti ulang tahun !nsert atau acara ulang tahun Trans TV. Namun kali ini berbeda, dia menangis.

Cut Tari meminta maaf kepada semuanya, pada suaminya, pada masyarakat, sampai presiden RI atas berita yang meresahkan selama ini. Dan pada akhirnya, Cut Tari mengakui bahwa dirinya memang pelaku dalam video porno tersebut. Berbeda dengan Cut Tari, Ariel dan Luna masih enggan mengaku secara blak-blakan. Kabar terakhir, Luna malah sempat-sempatnya merilis sebuah single yang diciptakan oleh Pasha Ungu.

Mungkin kita semua sudah muak pada berita-berita selama ini. Kasus Ariel-Luna-Cut Tari yang ditayangkan dimana-mana, pagi hingga malam, dari infotaiment sampai acara berita, dan di dalam sampai luar negeri. Kini perhatian publik memang sedang mengarah ke mereka bertiga. Pengalihan issue, katanya. Bersyukurlah para pelaku Century, koruptor, dan Anang-Syahrini. Kalian bisa bernapas lega.

Kata banyak orang, inilah risikonya menjadi publik figur. Harus hati-hati dalam menjalani hidup dan bersikaplah seolah-olah malaikat yang paling baik. Sekalinya mereka melakukan kesalahan, mereka harus siap dicecar banyak pertanyaan dan sorot kamera disana-sini. Siap eksis artinya siap mental!

Gimana nggak siap mental? Wartawan media cetak sampai media online bakalan ngejar mereka terus seharian. Nggak tahu siang, malam, atau subuh kalau perlu. Demi mendapatkan keterangan yang pasti. Toh kalau nggak mendapatkan keterangan resmi, mereka mencari narasumber lain yang sering sok-tahu, lalu mencampur-adukkan fakta dan opini mereka dalam sebuah acara Infotaiment.

Mengangkat hal yang dianggap tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Hal yang udah dicap tabu aja masih di umbar-umbar, nggak punya etika. Pantaslah mereka ini dikeluarkan dari dikotomisasi Jurnalistik. Infotaiment atau gossip bukan lagi bagian dari Jurnalistik. Titik.


Terlepas dari itu, mereka juga sama seperti kita. Artis sama dengan para pengemis. Pelajar tidak ada bedanya dengan tukang hajar. Presiden-pun tidak lebih mulia dari pesinden. Kita semua sama. Kita manusia. Butuh makan, butuh minum, butuh hak-hak asasi, dan pernah melakukan kesalahan, sekecil apapun namanya tetap saja kesalahan.

Cut Tari, dan juga artis-artis lainnya memang bukan transportasi massal. Bukan transportasi massal yang bisa kita ketahui kehidupan sehari-harinya sampai batas-batas privasinya hanya dengan sekedar membayar dua ribu rupiah untuk berlangganan SMS harian dengan mereka. Jangan jadi publik figur atau artis kalau lo risih dan jengah diterpa kabar miring!

Maaf tulisan ini nggak mengandung unsur humor atau apapun. Siapa tahu dari sini kita bisa mengambil pelajaran. Pertama, jangan menyimpan video mereka, apalagi mempraktikkannnya seperti yang terjadi di Bogor. Sekalipun lo anak IPA dan pernah belajar tentang reproduksi, lo dilarang keras melakukan adegan-adegan tersebut! Inget coy, Bekasi peraih adipura! Bersih kotanya, bersih juga penduduknya (gila, M2 banget nggak sih gue?).

Sekarang ini, proses hukum terhadap mereka terus berjalan. Dan pantaskah mereka kita maafkan?
Semua terserah anda.


----------
RizkiDwika, siswa SMA biasa. Menyambi kerja sebagai pengamat infotaiment dan sinetron-sinetron stripping low budget buatan Indonesia.



Photo

17/07/2010

di 17:04


Label:

3 komentar:

18 July 2010 at 08:15
Permalink this comment

said...

analogi yang menarik juga, yang jadi masalah kenapa wartawan terus-terusan mengekspose berita ini, apa ga kasian sama orangnya, terganggu sekali sepertinya

said...

wartawan infotaimentnya lebayy nih
kasian tau cut terongnya ampe stress
hehehehe salam kenaaal :)

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah