Bhinneka Tinggal (Retor)ika
Diposkan oleh rizkidwika

Sebelumnya, mungkin wawasan saya belum seluas mereka-mereka –para pakar dan pengamat politik— yang saban hari tampil di stasiun televisi untuk sekadar ngeksis atau mengkritisi kebijakan pemerintah. Mungkin juga tulisan saya kali ini cenderung kebanyakan omong dan nggak penting, terlebih saya ini cuma seorang blogger anak kelas tiga SMA yang sedang galau-galaunya menghadapi ujian nasional dan SNMPTN. Tapi inilah pendapat dan pemikiran saya, yang katanya masih termasuk generasi muda harapan bangsa mengenai negara ini.


Alangkah lucunya negeri ini.
Di usia yang bisa dibilang sudah tua ini, jujur, Indonesia memang aneh. Apa coba yang tidak aneh di negara ini?

Ada orang tua yang ingin anaknya jadi pejabat, lantas mereka menyekolahkan anak mereka sampai tingkat S1. Ujung-ujungnya, mereka jadi PNS, itu juga mereka harus nyogok sejumlah uang terlebih dahulu. Selang dua tahun, si anak hidup mapan jadi pejabat. Pejabat yang korup lebih tepatnya.

Ada lagi orang tua yang ingin anaknya sukses dan terkenal. Lalu mereka menyekolahkan anak mereka sampai jenjang kuliah. Ujung-ujungnya, mereka bikin video (bisa porno, bisa tidak), lalu di-upload di youtube, mendadak terkenal, dan punya uang banyak dari honor iklan makan produk daging olahan di televisi.

Malahan ada juga orang tua yang ingin anaknya berakhlak mulia. Mereka mengirim anaknya jauh-jauh ke pesantren di Jawa. Bukan jadi kyai, si anak malah di ajak seniornya masuk ke organisasi untuk ber’jihad’. Ujung-ujungnya, anak itu jadi teroris, memakai kefiyeh, lalu bikin video sambil megang senapan AK-47.

Menurut saya, Indonesia adalah negara paling-paling di dunia saat ini. Negara kepulauan paling besar, negara paling banyak suku bangsanya, negara paling korup, negara paling besar pemborosan anggaran belanjanya, negara paling absurd cuacanya, negara paling terlalu bebas dalam mengemukakan pendapat, dan negara yang paling heboh pemberitaan juga isunya.

Ngomong-ngomong soal isu, belakangan ini seperti yang kita ketahui, kerusuhan dan anarkisme tiba-tiba menjadi trending topic di negara ini. Dengan mengangkat isu-isu SARA, mereka –sebut saja oknum— berbuat rusuh di suatu daerah, entah didalangi atau atas inisiatif sendiri. Tak mau ketinggalan, daerah lain pun ikutan rusuh. Sebut saja kerusuhan demonstrasi di Monas menentang Ahmadiyah, rusuh jemaat HKBP di Bekasi, dan yang baru-baru ini adalah kerusuhan di Jalan Ampera. Ibarat ABG zaman sekarang, stabilitas dan keamanan negara kini sedang labil. Masyarakat resah, galau, dan ujung-ujungnya menyalahkan pemerintah. Anggota dewan yang antipemerintah malah ikut-ikutan menjelek-jelekan presiden, padahal giliran mereka dikritik saja, langsung pada tutup kuping.

Benar kan? Sudah tidak ada yang benar di Indonesia ini.
Yang paling benar di negara ini adalah ketidakbenaran itu sendiri!


Negara lupa kodratnya
Sepertinya, bapak dari bapaknya dari bapaknya bapak bangsa kita sudah tahu sejak dulu dan meramalkan bahwa kelak negara dengan ratusan juta penduduk ini akan menjadi bangsa dengan keberagaman suku bangsa terbesar di dunia.

Di zaman Majapahit yang wilayahnya kira-kira seluas Indonesia saat ini, salah satu pengarang kitab, yaitu Mpu Tantular membuat kitab Sutasoma yang di dalamnya terdapat sebuah kalimat yaitu bhinneka tunggal ika, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Tidak tahu apa karena beliau memang sakti atau karena zaman dahulu sudah ada layanan ramal weton via SMS, kalimat warisan ratusan tahun lalu itu kini menjadi semboyan negara kita, tercetak tegas di bawah lambang negara burung garuda.

Itu kan dulu, lha sekarang?
Sepertinya, esensi bhinneka tunggal ika telah kita lupakan. Kita hidup di zaman edan, dimana perkembangan teknologi berbanding terbalik dengan moral dan etika. Boro-boro mau hidup rukun, baru miskomunikasi yang menyangkut suku atau agama saja langsung tawuran di jalanan. Malah berdasarkan jajak pendapat yang diadakan Koran Tempo dua tahun lalu, kalau tidak salah dalam rangka seratus tahun kebangkitan nasional, separuh lebih masyarakat Indonesia lebih bangga menyebut diri mereka sebagai bagian dari suatu suku, bukan sebagai orang Indonesia. Sekarang, kalimat persatuan dan kesatuan nampaknya hanya terdengar di pidato kenegaraan presiden dan pada saat pelajaran kewarganegaraan saja. Kini bhinneka tinggal retorika.



Merayakan Keragaman
Seperti yang banyak orang bilang, rakyat Indonesia akan bersatu padu hanya jika ada dua kejadian. Pertama, kalau kedaulatan negara kita diinjak-injak Malaysia, dan kedua, kalau tim bulutangkis Indonesia masuk final Thomas dan Uber Cup saja. Cukup satir kan?

Sebetulnya masalahnya sepele. Kita semua itu gengsian! Kita gengsi kalau kita berbuat salah, lalu kita gengsi untuk meminta maaf, dan yang paling penting, kita gengsi menerima kenyataan kalau kita semua ditakdirkan hidup bersama dalam sebuah kata: Indonesia. Apa susahnya sih menghargai orang lain? Bukannya malah asyik hidup dalam keberagaman? Toh keberagaman kan diciptakan untuk saling melengkapi dan saling introspeksi, malah keberagaman bisa kita jadikan bahan dagangan pariwisata ke luar negeri, pendapatan negara makin banyak, dan akhirnya semua rakyat makmur terjamin!


Dengan diadakannya kontes menulis tentang keberagaman yang diadakan oleh Pesta Blogger 2010, merupakan sebuah momen yang tepat bagi kita semua untuk introspeksi diri dan berkaca. Kalau ada istilah toleransi, mengapa kita cuek dan mengacuhkan hak asasi milik orang lain?

Mulai sekarang,
Lakum diinukum waliyadiin.
Biarkanlah umat Islam mengamalkan hadits Nabi besarnya,
Biarkanlah umat Kristen dan Katolik pergi ke gereja,
Biarkanlah umat Hindu, Buddha, dan Konghucu merayakan hari-hari besarnya,
Biarkanlah kita semua hidup berdampingan, dan buktikanlah:
Kita bangga merayakan keberagaman!


--------------------------------
sumber foto: google.com dan berbagai blog

Photo

09/10/2010

di 12:16


Label:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah