Ugh (Sebuah Keluhan Maba)
Diposkan oleh rizkidwika

Tragisnya blog gue ini. Setelah penulisnya mendadak hilang dari peredaran bak produk makanan yang ditarik Depkes karena mengandung unsur haram, rating blog ini jadi anjlok. Anjlok banget.

Biar begitu, gue masih sedikit berbangga karena sampai detik ini gue masih merajai pejwan di situs-situs pencarian dengan kata kunci “Rizki Dwika Aprilian”, “Rizki Dwika”, atau “Cowok Imut Multitalenta”. Bukannya norak atau latah ingin populer, menjadi nomor satu di situs pencarian adalah salah satu impian gue. Fakta lapangan membuktikan bahwa di Indonesia ini ada ratusan nama yang namanya hampir mirip bahkan sama persis dengan gue. Ada yang namanya Rizki Dwi Aprilian, Aprilianto, Apriliani, Apriliano, Aprilia, yaa, cuma dimodifikasi aja. Jadi, setiap ada situs-situs untuk orang-orang yang kebelet gaul baru, gue buru-buru sign up dengan nama RizkiDwika supaya nggak keduluan sama mereka.
Derita nama pasaran.


Keping Satu: Maba


Belakangan ini, santer beredar kabar kalo gue dibai’at NII KW 9, lantas menghilang dari dunia nulis-nulisan. Ada juga broadcast yang menyatakan kalo gue lagi melarikan diri ke Argentina karena sedang tersangkut kasus makar besar. Dunia gempar mencari keberadaan gue. Lima fanbase gue yang terdiri dari ribuan remaja perempuan galau se-Jabodetabek turun ke jalan, menuntut pemerintah mengembalikan Dwika yang telah hilang beberapa hari, melakukan orasi, menimbulkan kemacetan di jalan raya, sambil sesekali membenarkan posisi cabe yang nyangkut di behelnya.

Klarifikasi. Saat ini, gue sedang sibuk menjadi, uhm, seorang Mahasiswa Baru.
Setelah menempuh perjuangan panjang diiringi tangisan air mata (karena gue sakit hati udah diremehin sama bokap gue sendiri soal gue yang nggak mungkin bisa nembus di sebuah PTN di Depok), sesuai dengan postingan yang lalu, gue berhasil diterima di Universitas Indonesia, dan memutuskan mata rantai keluarga besar gue yang rata-rata kalo negeri diterimanya di Undip semua. Subhanallah.

Ekspektasi gue pertama persis kaya gadis desa berambut indah dari kampung di Sukabumi yang menemukan tulisan Selamat Anda Memenangkan Dinner Bareng Delon di Bali Selama Lima Hari Lima Malam! di balik kemasan rejoice sachet, bungah. Tapi, makin kesini, entah kenapa gue terlihat tidak se-interest dengan UI yang dulu.

Waktu dapet jadwal kegiatan mahasiswa baru, gue terhenyak beberapa detik. Anjirrrr jadwalnya nggak nyantai coy. Ada paduan suara, Ospek tingkat universitas, fakultas, jurusan, character building, syuting, les drum, trus main bola *eh *BaimCilik. Gue hanya mengernyitkan kening. Btw, ngernyit apaan sih?

Luasnya kampus UI yang naudzubillah ditambah dengan ketidaktersediaannya motor membuat gue terpaksa kemana-mana dengan jalan kaki. Ya, Jalan kaki! Mengingat tariff ojek yang setara buat makan sekali di UI, gue lebih memilih menggunakan sepasang piranti canggih untuk berjalan ciptaan Yang Mahakuasa ini. Recommended buat anak-anak baru yang sok-sokan mau ngirit duit, ngecilin perut, sekaligus mencetak betis seindah lobak kualitas pilihan Carrefour. Buktinya, waktu gue pulang ke Bekasi, gue dibilang kurusan.
Eaaaa.


Keping Dua: Kukusan


Kukusan?
Nama hina apakah itu?
Neraka kedelapan-kah?
Atau Atlantis hilang yang pernah diramalkan Plato dan Socrates?

Kukusan adalah sebuah desa dengan peradaban seadanya yang terletak persis di belakang hutan Universitas Negeri Depok. Desa dimana penduduknya masih beragama di KTP saja, sebagian kanibal, dan mayoritas bermata-pencaharian sebagai tukang ojek dan juragan warteg pemeras uang mahasiswa. Disinilah gue terikat kontrak selama empat tahun untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus syuting acara Primitive Runaway.

Gimana nggak primitive. Di Desa Kukusan, gue bermukim di sebuah pondok kos bernama Wisma Pelit Sinyal, dan di pondok tersebut, gue menempati sebuah kamar nyaman yang lebih cocok disebut goa. Tempat laknat tersebut benar-benar laknat. Gadget tercanggih yang ada di goa gue hanya kipas angin, ponsel, dan chargernya. Boro-boro TV dan komputer, rice cooker pun nggak ada.

Tidak sampai disitu saja, sesuai nama pondoknya, wisma tersebut benar-benar pelit sinyal. Internetan di pintu, sinyalnya empat. Posisi badan miring sepuluh derajat ke kiri dari arah timur, sinyalnya maksimal lima. Naik kasur, sinyalnya nol. Menghadap kiblat, sinyalnya minimal dua bar. Kalau gue berhasil mencuri kaus kaki makan malamnya Flying Dutchman dan diberi tiga permintaan, hal yang pertama gue minta adalah sebuah menara BTS di goa gue.

Kondisi membosankan seperti itulah yang gue rasakan seminggu ini, ditambah lagi gue sedang melaksanakan ibadah puasa yang identik dengan sahur di pagi buta. Gue yang kebo kaya begini mana sanggup bangun. Alih-alih dibangunin pacar, bisa dibangunin alarm pun keajaiban. Eh tunggu, emang gue punya pacar? ………………..

Alhasil, setiap hari di bulan Ramadhan gue hanya --- “Jam enam yah, yahhh nggak sahur lagi deh yahhh, uhm, Alhamdulillah ajah yahhh” Kata gue sambil ngulet-ngulet horni bergaya perawan seret jodoh berusia 29 tahun bernama Syahrini yang baru bangun tidur.


“Jomblo itu rasanya kayak ditusuk-tusuk jarum, cekit-cekit, cekit-cekit.” – Ibu tanpa nama, iklan Mylanta



Keping Tiga: Dunia Maya


Siapa bilang dunia maya diciptakan cuma buat download-download video dan konten yang terlarang, eh dilarang Tifatul Sembiring demi melampiaskan hasratnya masing-masing?
Dua bulan terakhir ini, gue diculik ke dalam sebuah komunitas facebook bernama Kaskuser Laskar 11, wadah sosial sekaligus media galau bagi dua ratus orang peserta SNMPTN 2011 se-Indonesia.

Setiap hari sejak menunggu pengumuman SNMPTN, calon-calon mahasiswa dari PTN-PTN Favorit dan para BSHnya bergumul ria. Ada yang eksis, ada yang sensi, ada yang tukeran nomor hape, Ada yang cinlok, bahkan ada berlanjut di ranjang *dibata Jeroanayam
Ratusan karakter manusia yang berbeda-beda pun semakin intim. Silaturahmi pun terjalin. Biar ada yang belum melihat batang hidung masing-masing, namun kita merasa kita itu satu Ibu lain supir, lalu dipisahkan karena ditukar oleh pembantu yang sirik di rumah sakit waktu proses persalinan.

Singkat cerita, di forum itu gue bertemu jenis-jenis individu barang langka. misalnya Ayu Diah Nandini yang rambutnya minta ditebang, ada Fitri gadis lampung yang jurusannya lebih LAKI dibanding gue, ada Irfan yang tiba-tiba menghilang dari peredaran lalu muncul lagi, ada Laras, dek dokter mahasiswi FKUI kelahiran 95 *anjir, ada manusia-manusia yang belebihan muatan seperi Sule dan Ega, dan yang paling melegenda, Dezky Oka Wahyudi.
-------- (#np Julia Perez-Belah Duren)

Dezky (sebut saja begitu) adalah salah satu anak yang mengaku gaul sebagaimana anak Jakarta kebanyakan. Kisah hidupnya dihabiskan dengan menggaul, digaulin, rokok, nongkrong, dan blackberry. Selain itu, Dezky adalah salah satu legenda di Laskar 11. Gimana nggak, satu grup gempar begitu mendengar program diet doi yang sukses menurunkan 23 kilo. Gilllla, 23 kilo. Gilla! Dan ternyata, program dietnya itu ditujukan untuk cintanya.

Sayangnya, kisah cintanya nggak selancar diet ketatnya. Berkat program dietnya ini, dia memang berhasil mengubah statusnya dari jomblo menjadi single ke playboy-playboyan, naasnya, dia masih mengejar satu cintanya, cintanya yang tertinggal di Medan, eh Bekasi Utara.

Entah modus hendak menculik gue atau apa, karena kesamaan posisi geografis, doi sering cerita ke gue tentang cintanya. Doi sering galau berasa lagi di kanal H2H kaskus, dan sebaliknya, gue mendadak suka jadi sok wise akhir-akhir ini. Gue juga nggak tahu kesambet setan dari mana bisa kaya gitu.
Tapi, bayangin saudara. Kalo dipikir, makhluk imajiner ini naas juga. Satu tahun lebih dua bulan Dezky mendekati gebetannya, dari zamannya masih genjyuut hingga saat ini, namun apa daya, tanpa nyali. Mereka sama-sama jomblo dan menggantung hingga kini. Seperti kutipan seorang chef ternama ini…

“Rencana matang, Ide bagus, Eksekusi, gagal. Gagal total” – Master Juna

Teman-teman, saya minta doanya yah untuk teman saya yang satu ini agar dimudahkan cerita cintanya sekaligus tahun depan bisa menghuni kampus Ganesha di Bandung bersama BSH lainnya. Sebenernya postingan ini sedikit rancu dan endingnya sedikit mengintimidasi.
Tapi biarin, yang penting mintz.
Ugh :v


Photo

08/08/2011

di 13:04


Label:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah