Duit, Do-it!
Diposkan oleh rizkidwika

It’s not about the money, money, money.
We don’t need your money, money, money.
We just wanna make the world dance,
Forget about the price tag.
Jessie J, 23 tahun, penyanyi omdo. Ngaku nggak butuh duit tapi tiketnya di Pond’s Teen Concert Rp. 350.000,00


Halo kawan-kawin yang berbahagia,
Entah mengapa, dua bulan belakangan ini gue keracunan lagu di atas, lebih tepatnya sejak karaoke bersama Geng Ketje (baca:Ke-ce, dibaca seperti biasa), geng curhat yang dibentuk secara insidental, terdiri dari Ardi, Afkar, Susil, Tyas, dan David Archuleta Gue sendiri. Selain catchy, kalau ditela’ah liriknya, lagu ini memang benar.

Money can’t buy us happiness.
Tapi, dalam kasus ini, persetan dengan semua itu.
Akhir-akhir ini gue lagi butuh duit, butuh sekali.


***

Dalam rangka pre-event Makrab Arsitektur UI: Sunday Ars 2012, maba-maba yang bertindak sebagai panitia harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, atau bahasa anak kampusnya: ngedanus. Nge-dana-usaha, nyari dana dengan usaha. Sebagai bagian dari divisi Danus SA 2012, pengalaman susahnya mencari duit pun gue rasakan di sini.

Berbagai cara mulai dari jualan kue-kue, piscok, ngamen sepanjang Margonda, sampai jualan di GBK udah kita lakukan. Rencana-rencana ‘loe-sakit-jiwwa-tauw-nggawk?’ kayak jual ginjal masing-masing bahkan udah sempet kita pikirkan. Tapi, rencana Divisi Danus yang paling kece adalah, mmm, here we go.



Jum’at (24/02) lalu, 17 maba Departemen Arsitektur dengan mengenakan pakaian 80’an, pagi-pagi buta sudah berkumpul di Halte Teknik. Diindikasikan mereka cabut kuliah MPK Agama, untuk tampil di acara dengan total lima puluh juta, Rangking 1 Trans TV. Karena orangnya banyak, kami berangkatnya pun misah-misah. Sebagian naik satu mobil, sisanya masuk empat taksi.

Gue, Isnat, dan Mushab berangkat setengah enam dalam taksi yang sama.
Setelah melawan kejamnya macet di Lenteng Agung hingga Pancoran dan pandangan mata yang tak lepas argo yang terus bergulir, jam setengah tujuh akhirnya kami sampai di Tendean, masuk Kompleks Trans Corp.

Abangnya pun nurunin kami di parkiran dalam, samping setting rumah Big Brother. Abis bayar abang-abangnya, kami bertiga turun dari taksi. Kesan pertama, gue ternganga-nganga. Ibarat meme-nya 9gag, iler gue berpelangi. Kenapa?

Bagi gue, menginjakkan kaki di gedung ini sama rasanya waktu gue menginjakkan kaki di Stasiun Pondok Cina setahun lalu. FYI, gue adalah Transmania, sebutan orang yang freak sama Trans Corp dan tetek bengeknya. Waktu Amingwati dan lipgloss-nya masih jaya-jayanya, gue punya obsesi besar untuk bisa bekerja di sana. Saking niatnya, waktu SMP gue intens kontak-kontakan sama presenter Jelajah kaya Fransisca Rathy, Riyanni Djangkaru, dan Adita Nanda via Friendster. Dan sekarang, gue berada di markas besar mereka?!
Ambulans! Panggilkan Ambulans!!!


From Sevel Tendean


Kembali ke topik.
Abis turun dari taksi, kami bertiga berjalan nyari-nyari Studio 10, tempat syuting Rangking 1. Hari masih pagi, namun suasana di luar studio sudah hectic. Orang-orang dengan kostum warna-warni yang sulit gue identifikasi mana yang alay dan mana yang peserta sudah sibuk wara-wiri sambil berfoto-foto ria. Tak lama, mas-mas mancung berseragam yang mukanya mirip Pak Lili guru biologi mengadakan instruksi. Kami semua masuk ke studio.

Pagi itu, tim yang akan bertanding antara lain Arsitektur UI, Desain Interior UPH, Perpajakan yang gue lupa entah dari mana, satu tim rekayasa yang disetting bakal keluar di soal pertama, plus kru dan selebriti kurang terkenal di balik layar Termehek-Mehek. Di dalam studio, kami langsung memilih tempat. Lucky number seventeen, dengan sigap gue ngambil posisi yang mepet di depan itu.

Tiga puluh menit pertama, kami dikasih instruksi cara menjawab soal, bagaimana angkat papan dan taruh di dada, goyang-goyangin papan, sampai teriak jargon ‘pinter nggak tuh’ sambil muter jari lalu tepuk tangan dengan baik dan benar.

Saat itu, gue sempat-sempatnya bimbang. Pertama, gue ngantuk mampus, secara malamnya gue cuma tidur lima belas menit karena bikin maket dari stik eskrim. Kedua, AC-nya dingin banget, rasa-rasanya Toshiba, Samsung, LG, Sharp, Denso, Sanyo, dan merk-merk KW super kaya Changhong lagi perang siapa yang paling dingin di dalam sini. Ketiga, sebagai dampak dari kondisi kedua, gue kebelet, tapi nggak tau kebelet apa. Entah pipis, entah ee, gue dilema.


Mushab, Isnat, Eliezer, dan Archuleta kurang tidur yang mabuk minuman ditambah mabuk judi


***

Five, Four, Three, Two, One!
SHOWTIME!
Dua pembawa acara dengan tarif eksklusif namun tinggi badan minimalis, Ruben Onsu dan Sarah Sechan, membuka acara dengan haha hihi basa basi. Mereka pun membacakan soal pertama, isi kata.

Dengan suara seadanya, mereka berdendang.
“Maju tak gentar, membela yang benar. Maju tak gentar, titik-titik kita diserang.”
Kampret, soal macam apa ini. Like a boss, gue pun menulis dengan gegap gempita.
“Lima, empat, tiga, dua, satu. Angkat papan.”
“Jawabannya HAK!”
Papan-papan bergoyang. Alay-alay yang disetting untuk keluar pun turun panggung, wait what? Perwakilan ARS UI, Eliezer juga keluar? Pantesan tadi kru disamping gue ngebisikin jawaban ke arah kami, ternyata soal pertama dikasih pur toh :v

Soal kedua, masih terlalu konyol. Bahasa inggrisnya lawan pangeran. Princess, simple. Papan-papan bergoyang. Pesertanya bertahan semua.
Masuk soal praktikum, gue mulai keringetan. Gue dengan otak yang nalarnya kurang mumpuni ini disuruh menebak fenomena fisika?!

Soalnya begini. Profesor Sogi dan Master Tarno ngegosokin sedotan plastik, lalu ditaruh di atas botol plastik. Apabila tangan didekatkan ke sedotan tadi, apakah sedotannya akan Mendekat atau Menjauh?
Gue bingung, oke, gue ngasal: mendekat. Pas liat jawaban Anita, Isnat, Mushab yang jawab menjauh, gue makin galau. Pas dicoba.
“Jawabannya mendekat!”
Papan-papan bergoyang. Setengah ARS UI turun tahta.
Emak! Bapak! Anakmu yang lemot bisa ngelewatin Babak Praktikum!
*dadah-dadah ke kamera*

Masuk segmen ketiga, Aku Ingin Tahu.
Sogi ngasih VT tentang burung-burungan. Pertanyaannya, burung apa yang bisa menirukan suara manusia? A. Beo, B. Nuri, C. Betet, D. Ketiganya.
Lima, empat, tiga, dua, satu. Mati, gue ga sempet mikir.
Yaudin, gue nulis: A. Beo
VT dilanjutkan.
“Jawabannya D. Ketiganya!”
Papan-papan bergoyang. Yah, keluar. Gue nengok ke belakang, yah kami habis semua…


***

Kami pun menonton sendu babak selanjutnya dari bangku penonton.
Gagal punya chance dapet lima puluh juta itu nyesek, jenderal!
Lebih nyesek lagi adalah udah bolos berjama’ah, yang masuk final itu Talent yang nggak bisa jawab soal ecek-ecek dan cuma dapet satu juta doang, bung!
Harga diri, mana, harga diri?!

Acara pun selesai. Peserta joget-joget nggak jelas, kami foto-foto, terus dapet nasi box plus ngembat nasi boxnya lagi. Di depan gedung Trans, kita ngedumel sambil bercerita.
Yang lalu biarlah berlalu,
Danus harus bekerja lebih giat lagi. Kami pun melangkah keluar, numpang makan di Seven Eleven Tendean, bersama alay-alay lainnya...


Gagal Pulang ke Depok dengan 50 juta


***

Setidaknya, gue dapet pelajaran.
Nyari duit bukanlah perkara gampang.
Nyari duit itu nggak ada yang instan.
Anak-anak di Kantek yang jual tisu, koran, sama risol aja sanggup berjuang demi uang, masa gue nggak?

Nyari duit itu butuh usaha,
Nyari duit itu butuh do-it, kerjakan! Jangan ngomong doang!
Anyway, sebagai tambahan, gue mohon restu ke kalian. Rencananya mulai Maret hingga tahun depan, gue sedang melancarkan rencana berdagang kaos dan mencoba survive di Depok dengan living cost Rp. 30.000,00 per minggu.
Demi backpacking to Singapore 2013, kawan-kawan!
Lain kali saya ceritakan,
Oh Singapore :’)

Photo

03/03/2012

di 19:48


Label:

1 komentar:

said...

just do the best and we'll get the best result...

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah