Lasbeg’s Diary: Tragedi Selat Sunda
Diposkan oleh rizkidwika





CAST
Rizki Dwika (abuabu). You know who he is, lah. Hibridisasi silang Syahrini dan Mulan Jameela.
Itulah mengapa dirinya ditakdirkan sang Mahacinta sebagai Makhluk Tuhan Paling Membahana.
Afrian Wicaksono (ijo). Mahasiswa IT bertubuh paling tinggi.
Kabarnya, pernah punya crush dengan Fatah saat masih kuliah bersama di Surabaya.
Fatah-Fitri (merah-yang diedit dimasukin potonya). Pasangan kekasih yang...
Ah bosen, ah, Udah pernah dikenalin. 



Keterangan: Postingan mahapanjang ini dibuat untuk mengikuti kontes
#NekadBlog dari #NekadTraveler Telkomsel Flash!
main-main ke sindang yey, seus!
:3



Masbro dan mbakbro yang baik hatinya.
Pertama-tama, izinkanlah saya beserta sang kekasih, tante Olla Ramlan untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan mendaratnya pasangan #NakedTraveler kita: Bang Gofar dan Teh Nila di tujuan akhir yakni Pulau Komodo. Kya! Lope-lope di udara! Tumpengan! Bikin Syukuran! 

Yoi. Perlu digarisbawahi, kebahagiaan gue ini bukanlah momen ikut-ikutan belaka. Gue bersuka cita karena mereka berdua adalah idola gue, yang secara tiba-tiba ditakdirkan semesta untuk menjelajah bersama. Sebagai jama’ah #HuFTBan9ed dan Nilatanzilers, percayalah kalo gue bukan fans karbitan.

Gue mengenal Teh Nila udah cukup lama, lebih tepatnya semenjak gue SMA dan masih gendut-gendutnya. Awalnya, gue mengetahui traveler ini saat do’i menjadi nominee dalam sebuah ajang pencarian kerja prestisius berskala internasional.

Waktu gencar-gencarnya berpromosi di komunitas dunia maya, gue berkesempatan kenal dengan doi lewat blog pribadinya. Setelah melalui proses sok-kenal-sok-deket yang cukup alot di tiap postingan travelingnya, akhirnya gue bisa kenal secara virtual dengan Teh Nila. Bahkan, akun twitter gue turut di-follow sama perempuan penjelajah ini.

Gila, men. Difollow teteh!

Gue pikir ini adalah sebuah prestasi yang bisa dimasukin ke CV ketika gue sibuk nyari kerja nanti. 



Masbro dan mbakbro yang berbahagia. Everybody loves to travel and being a traveler.
Bisa lepas dari kesibukan duniawi adalah harapan setiap orang. Gara-gara itu pula, banyak orang yang dibuat iri dengan kehidupan Teh Nila, yang seolah-olah seluruh waktunya didedikasikan hanya buat diving aja. Bisa hidup kayak Nila Tanzil itu menyenangkan. Sayangya, sebagai anak rumahan, gue memiliki track record yang amat cupu dalam jalan-jalan.

Ketahuilah, jarak terjauh yang gue tempuh di sebelah timur adalah Cepu di Jawa Tengah, sedangkan batas paling baratnya cuma Kota Tangerang. Kalo gue diberi kesempatan buat meng-cover lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke, gue mungkin bakal mengubah liriknya, sebatas Dari Cepu sampai BSD.

Masbro dan mbakbro yang berbahagia.
Dua bulan setelah perjalanan menyedihkan ke Jepara, Lasbeg kembali merencanakan untuk berpetualang bersama. Karena Fitri sang gadis asal lampung udah balik duluan ke kampungnya, akhirnya Fatah, Afrian, dan gue punya ide bego yaitu nyusul doi ke Pulau Sumatera. 
Akhirnya.... setelah penantian sekian lama, sepertinya rekor perjalanan gue bakal petjah juga. Masalahnya cuma satu. Gue harus izin apa ke orang tua?
Percayalah, gue pasti bakal dilarang mereka untuk traveling for no reason. Mau bilang jujur bakal jalan-jalan ke Sumatera, ah situ becanda. Kalian mau gue dicoret namanya dari Kartu Keluarga?
Et, tenang. Gue punya akal.

***



Hari-H, kami bertiga janjian meet up di Depok, lalu langsung cabut ke Terminal Kampung Rambutan untuk naik bus yang mengarah ke Pelabuhan Merak. Loh, kenapa nggak langsung ke sana aja?
Tepat sekali. Alasannya adalah, gue bilangnya ke orang tua adalah mau ke Depok dan nginep di kosan selama tiga hari. Nyatanya, gue pergi ke Depok... sonoan-dikit-sampe-merak-naik-feri-dan-sampailah-bakauheni.
Seenggaknya gue beneran ke Depok terlebih dulu, kan?

Karena waktu itu masih awal Ramadhan dan emang belom memasuki arus mudik lebaran, perjalanan kami bisa dibilang tanpa hambatan. Setelah hampir dua jam, bus yang kami naiki telah melewati daerah Serang. Akhirnya gue bisa melintas lebih jauh dari Tangerang Selatan.

Menjelang magrib, kami tiba di Pelabuhan Merak yang cenderung sepi. Berbekal nanya sana-sini, kami pun membeli tiket penyeberangan seharga Rp11.500,00 doang. Iya, saat itu gue baru tahu kalo tarif Jakarta-Lampung itu cukup murah. Bayangkan. Sekali jalan, kita cuma keluar duit sekitar Rp55.000,00 aja. Itu pun udah termasuk dua kali naik bus dan bayar kapal penyeberangan. 

Nggak lama, feri kami berangkat. Kami bertiga pun terpaksa berbuka puasa di atas kapal dengan jajanan, roti, dan minuman yang dibeli di pelabuhan. Setelah ganjel perut, kami langsung pindah ke dek lantai atas untuk menikmati suasana malam di atas kapal. Sialan, anginnya beneran ngajak ribut.

Awalnya, gue datang ke sana dengan ekspektasi bakal merekonstruksi adegan Kate Winslet waktu mandang samudera dengan elegan. Yang terjadi adalah, gue berpegangan erat sama pagar-pagar besi di sepanjang dek. Iya, gue justru me-reka ulang adegan Titanic yang hampir tenggelam.

Setelah tiga jam luntang-lantung di atas kapal penyeberangan, tepat jam sembilan, gue bisa melihat Monumen Siger—lambang khas Provinsi Lampung- di bukit Bakauheni.  Men, sebentar lagi gue bakal menginjakkan kaki di daratan Sumatera untuk pertama kali.

***



Dari pelabuhan, kami bertiga harus menempuh perjalanan 120 kilometer lagi dengan bus untuk bener-bener nyampe di Bandar Lampung. Kami menghabiskan ekstra hampir empat jam melewati Jalinsum –Jalur Lintas Sumatera yang terkenal mahagelap dan rawan kejahatan itu, hingga akhirnya kami nyampe dengan selamat jam satu dini hari, disambut dengan makan sahur yang terlalu pagi.

Setelah bangun dari hibernasi yang cukup lama di rumah Fitri, siangnya kami berempat berkeliling Bandar Lampung dengan dua motor tengah hari bolong. Pertama-tama, Fitri ngajak kami mengelilingi Unila dan memasuki Museum Kota yang tak jauh dari sana. Gara-gara museum itu, gue jadi tahu kalo asal kata Lampung berasal dari derivat bahasa Batak yang berarti Lapung alias besar/luas.

"Fat, itu apa?"
"Au"

Ceritanya, zaman dahulu ada perantau Batak yang sedang berkelana dan menemukan daratan indah yang amat luas. Secara refleks, orang itu langsung berteriak “LAPPPUUUNG”. Nah, itulah mengapa daerah tersebut hingga sekarang dikenal dengan nama Bandar Lampung. Coba aja pas itu gue yang menemukannya, niscaya Lampung masa kini bakal dikenal sebagai Bandar Anjir.
Soalnya, kalo gue lagi takjub, kalo nggak teriak Ayam, ya Anjir.

***



Selain itu, gue juga melihat berbagai hasil kebudayaan setempat, mulai dari tradisi upacara, pakaian, bahkan tradisi perkawinannya. Setelah puas melalui proses pencerdasan, kami langsung cabut ke toko keripik pisang yang khas dan paling terkenal dari kota itu. Gara-gara panas-panasan di tengah suhu Bandar Lampung yang nggak berprikemanusiaan, bagai sungai yang mendamba samudera, kami memutuskan buat nyari yang seger-seger dan tidak membatalkan puasa. Pergi ke pantai.
YOOOMAAAN. PAAAAANNNNTTTTAAAAIIIIII!

Dari sekian banyak bantai yang terkenal di Lampung, kami memilih pantai Pasir Putih sebagai tujuan berikutnya. Nggak lama, jam tiga sore kami berempat udah ngetwit touchdown di sana.

Percayalah, ini bukan Yuni Shara

Saat itu, pantai lagi sepi-sepinya. Sejauh mata memandang, cuma ada beberapa nelayan yang lagi duduk asyik sembari ngerumpi. Meski pasirnya beneran putih dan berbatu kayak di Laskar Pelangi, lagi-lagi nasib gue sama kayak di Pantai Kartini: Pantai yang gue liat nggak sesuai dengan ekspektasi.

Tiba-tiba, seorang nelayan merapat, mendekati kami.
“Dek mau ke Condong?
“Berapa pak?”
“20.000 per orang, dek”

Merasa ken-tang (kena tanggung) karena udah jauh-jauh tapi nggak menikmati suasana pantai yang lebih kece, akhirnya kami memutuskan untuk nyebrang ke Pulau Condong. Di perahu, gue langsung memilih duduk di bagian haluan, berharap poni gue bisa berkibar diterpa angin-anginan.

Yeah, naik perahu!

Hanya dalam waktu seperempat jam, akhirnya perahu kami merapat juga ke daratan. Begitu turun, gue langsung teriak imbisil karena saat itu Pulau Condong yang mahacantikdancantiknyakayakkamu itu bener-bener sepi. Roman-romannya, gue seperti bandar judi yang lagi liburan di pulau pribadi.


"Yang, pantainya indah ya?" - kata Dwika pada bayangan

Kehadiran kapal karam membuat saya
kayak Diana Pungky Jinny Oh Jinny

You Jump! I Jump!

Namaku tertera dihatimu

Dua makhluk random inilah yang berpacaran


Menit-menit pertama, Fatah, Fitri, dan Afrian duduk sambil foto-foto, sedangkan gue sibuk ngelukis pasir dengan belasan tulisan Dwika Was Here. Merasa bosan, akhirnya gue berjalan ke arah laut. Karena ceroboh, gue kepeleset dan muka gue nyungsruk ke laut. Dari jauh, mereka bertiga ketawa. Pas gue liat lagi, loh kok merah-merah? Duh, jangan-jangan gue tembus? 
Ternyata, telapak tangan gue udah penuh dengan darah. Nggak taunya, tempat di mana gue kepeleset tadi terdapat batuan karang yang ujungnya tajem-tajem semua.

Sambil perih-perih gimana, gue mencari sesuatu buat ngobatin lukanya. Randomnya, di pulau itu terdapat sebuah warung makan yang juga jualan plester dan perban. Gue curiga, jangan-jangan udah banyak orang sebego gue yang kepeleset di tempat yang sama.

Setelah dua jam ngabuburit dan menahan rasa sakit, kami pun memutuskan untuk kembali ke daratan. Ya, biarpun lagi apes, setidaknya gue merasa beruntung udah menemukan Pulau Condong.


Waiting for Suuuunset

Iya, Sepanjang hidup gue menikmati perpantaian di Indonesia yang nggak seberapa, pulau inilah yang jadi juaranya.

***



Masbro dan mbakbro yang berbahagia.
Besok paginya, kami bertiga pamit dan berterima kasih ke Nyokap-nya Fitri karena udah menyediakan akomodasi selama menggembel di sana. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Bakauheni untuk segera kembali ke Jakarta.

Abis kesenengan main air di pantai, kondisi kesehatan gue semakin drop. Dari yang tadinya cuma batuk membandel, sekarang ditambah lagi sama panas tinggi dan meler di sekujur lubang hidung. Kondisi ini makin parah karena semalemnya gue nggak tidur nungguin sahur. Maka, sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, gue persis narapidana pesakitan yang bener-bener lagi kesakitan.

Sesampainya di sana, kami langsung membeli tiga tiket penyeberangan dan masuk ke kapal. Kami bertiga memilih untuk duduk di ruangan yang ber-AC, karena suhu di luar amat panas. Siang itu, penumpang yang mau nyebrang nggak terlalu banyak, sehingga banyak bangku kosong yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat selonjoran. Karena gue nggak mau pulang ke Jawa cuma tinggal nama, akhirnya gue memilih untuk tidur sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba, waktu kapal mau merapat ke Pelabuhan Merak, gue terbangun dengan mata yang setengah terbuka.
ANJIR, LAH HAPE GUE MANA?!

Gue langsung kelabakan menengok kanan-kiri-atas-dan-bawah. Terakhir sebelum tidur, gue inget banget kalo gue lagi main dan sempet ngetwit pake hape itu. Gue pun langsung bilang ke Fatah dan Afrian dengan gestur sepanik Cinderella yang meninggalkan sepatunya di istana.  Seolah mau nangis, gue juga nanya-nanya ke seluruh ABK dan para penumpang yang tampangnya potensial buat nyopet atau ngutil barang.
Masih nggak nemu dan mereka nggak ada yang ngaku.

Tepat sebulan yang lalu, gue juga kecopetan android baru di dalam KRL. Tadinya, gue udah lama nggak menggunakan hape yang ilang ini karena udah menemukan penggantinya. Karena ilang, akhirnya gue kembali mengandalkan hape satu-satunya ini. Dan hilang lagi.

Bahkan gue punya tiga batre, saking bocornya :')

Karena kapalnya harus segera merapat, dengan berat hati, gue kembali menginjak tanah Jawa tanpa hape yang selama empat tahun sehidup semati, yang banyak nyimpen pesan dari gebetan-gebetan semasa SMA ini.


***




Masbro dan mbakbro yang berbahagia.
Jam tiga sore, setelah melewati Mal Taman Anggrek dan memasuki tol dalam kota, bus yang kami naiki terjebak macet, stuck, lebih tepatnya sama sekali nggak gerak. Dalam kondisi panas tinggi dan kekeuh melanjutkan puasa itu, gue memilih merenung dengan saksama.
Jalan-jalan gue kali ini banyak sialnya. Puasa-puasa, sakit di kampung orang, french kiss sama batu karang, dan yang paling menyedihkan... lagi-lagi hape gue ilang.

Nggak bakal ada asap kalo nggak ada api. Mumpung lagi di bulan yang baik, gue pun mencoba mencari akar permasalahan kenapa nasib gue bisa seapes ini. Kayaknya, semuanya diawali oleh satu penyebab. Benar, ngibulin orang tua.
Jangan-jangan, saat gue sedang bercengkrama dengan ombak, mereka khawatir karena punya firasat yang nggak enak. Atau, mungkin aja, pas gue berangkat, ada dua gelas, tiga piring, dan satu pigura yang jatoh dan pecah. Siapa yang tau, kan?

Masih dalam edisi spesial demam tinggi, kami baru mendarat di Terminal Kampung Rambutan jam setengah tujuh malam. Inilah momen yang membuat gue tersadar kalo berbohong itu tidak baik.
Jadi, adik-adik yang baik, jangan tiru modus operandi apa pun dalam perjalanan ini.

***



Epilog
Jelang lebaran, saat nonton teve bersama keluarga, Bokap mengkritisi liputan arus mudik di Pelabuhan Merak. Maklum, beliau adalah pensiunan Perhubungan Laut.
“Hih kalo lagi gini macetnya rame banget sampe ke dalem kapalnya. Nyebrangnya sih cuma tiga jam, tapi ngantrenya bisa seharian. Kamu belom nyobain ya? Ntar kapan-kapan kalo ada waktu kita nyobain feri ya.”
Gue cuma diam tanpa berani menanggapi.
Jangankan ke sana, Pah. Ngilangin hape di kapal aja anakmu ini pernah.
Uyeah.

Photo

20/08/2013

di 17:16


Label:

3 komentar:

27 August 2013 at 04:26
Permalink this comment

said...

aduh sayang ya hapenya kok ilang terus. coba dikasih tali trus diiket sama celana pasti ga bakal diambil orang, hehe.
kompak banget ya kalian, jadi ingat teman2 segengku dulu, nice story hehe

28 August 2013 at 19:07
Permalink this comment

said...

hahaha namanya juga belom rezeki sepertinya,
thank you udah mampir ke sini :))

said...

Aduh baca lagi jadi ga kuad ketawa tawa ih. Yuk main lagi, masih ada19.274 pantai lagi yang ada di lampung!

Nyari tiket promo? Yuk mampir
http://coretanpejalan.blogspot.com

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah