Kayfa Haluk Yaa Akhi Yaa Ukhti
Diposkan oleh rizkidwika

Setelah sekian lama tidak menyapa sanak saudara di buku diari digital ini… akhirnya…
KAYFA HALUK!!! Apa kabar semuanya?!

Ya, setelah postingan beberapa bulan lalu berjudul Makhluk Tuhan Paling Skripsi yang nggak ada kelanjutan jilid duanya, akhirnya gue menyempatkan untuk kembali menggoreskan jemari pada situs nista ini. Ah iya, tulisan ini ditujukan bagi seluruh manusia gabut di alam semesta yang katanya sering khilaf membaca kisah gue, sembari mengklarifikasi kabar simpang siur mengenai gue yang beredar di luar sana:

“Eh, sekarang Dwika gawe di mana sih?”
Si-A “Udah di biro arsitek bukannya?”
Si-B “Eh nggak, bukannya dia lagi jadi juragan bantal?”
Si-C “Nggak tahu, kalo update di Path jalan-jalan mulu perasaan hidupnya”
Si-D “Lah, terakhir gue denger katanya udah jadi simpenan janda kaya!”
Si-E “Sotil! Orang gue lihat dia berhijab sembari menengadahkan tangan bernyanyi (((InsyaAllah…InysaAllah…InsyaAllah ada solusinya))) setiap pagi di acara Mamah dan Aa!”

Sebelum berimajinasi lebih jauh, melalui tulisan ini gue mau sedikit berbagi cerita sekaligus menjelaskan bahwa kondisi gue saat ini masih hidup dan sehat walafiat. 
Bukan, bukan. Nggak sekadar sehat.

Gue lagi berada di titik yang paling bahagia.





(Klik pada Judul Buat Kepo Lebih Lanjut!)



Pertama, gue resmi telah menyelesaikan studi di Universitas Indonesia, kampus random berwarna kuning di ujung Kota Depok yang gue gila-gilai sejak ukuran celama masih 35 saat kelas dua SMA. Dengan masukan-masukan Mbak Enira, sang pembimbing akademis, sang pembimbing skripsi, sang pembimbing karya tulis mapres, serta sang Mamah Muda, gue berhasil melewati fase-fase skripsi, sidang, revisi, hingga mengunggah segala macam dokumen printilan demi mendapatkan golden ticket menuju Balairung tepat pada waktunya.

Foto pascasidang. Itu kalo celananya difoto, masih ada bekas ngompol-ngompol nervousnya itu.
Keterangan: foto di-crop untuk mengurangi gossip di luaran. Trims.
Mau nulis caption bersama bidadari-bidadari...tapi kok ya nggak ihlas.
Yaudah anggap aja nggak pake caption apa-apa.
The Enireus pascasidang, jamaah bimbingan skripsi Bumil Kenira.


Empat tahun berjalan secepat itu. Gue yang kala itu masih bulat, gemas, dan terus berkhayal babu bisa diterima di UI sekarang harus melewati segala macam prosesi wisuda tepat di tempat di mana gue duduk manis mengikuti acara Bedah Kampus tahun 2010. Pikiran gue kembali menerawang ke belakang sembari mengingat euforia pas baru keterima, drop waktu ospek MADK, masuk Ars bukan siapa-siapa sampai keluar mendapatkan predikat yang nggak terbayang sebelumnya. Diiringi Genderang UI, mata gue sempat mbrambang berkaca-kaca pas ikutan nyanyi bareng maba.
Iya, di hari wisuda itu gue segitu menye-menyenya.


Mz tegang amat. Mau wisuda apa ijab qabul?
Bersama Adiq dan Kakaq. 
Bersama pasangan Departemen Arsitektur tergemes, Prof Yandi dan sang Istri.
Sumber ilmu pengetahuan setahun belakangan ini.
Beberapa teman senasip sepenanggungan di studio.
Yang paling kanan, di-crop juga nggak masalah kok.
Teman menggembel dan keliling sepenggal Indonesia selama empat tahun,
yang kiri dan tengah sudah LDR selama 4 tahun.
Doakan, sebentar lagi dua strip.
Spesies bernama Nerissa, bahan cela-celaan Interior 2011 selama empat tahun
(and still counting) yang dilindungi oleh negara
Selempang bertuliskan Makhluk Tuhan Paling Ambis.
Trims.






Kedua, gue menikmati kesibukan pascakampus.
Ketahuilah, saudara-saudara. Permasalahan terbesar bagi wisudawan yang baru matang dari ovennya adalah, “Abis ini lo mau lanjut ke mana?”
Kalo udah begini, jurus gue untuk membalas pertanyaan tabu tersebut adalah:
“Gue mau casting film biar kayak Nicholas Saputra. Kalo nggak dapet film sekelas Gie, kelas-kelasnya film esek-esek Keluarga Punjabi biarin deh, nggak apa-apa.”

Seperti yang sudah diketahui khayalak ramai, pascasidang skripsi kemarin, gue memulai untuk merintis bisnis bantal gemas, bantal sofa berukuran 30x30 cm yang puffy, halus, dan harganya sesuai dengan kantong mahasiswa. Di awal-awal bisnis perbantalan, gue mengonsep brand, gagasan, pemesanan, sampai proses produksi secara sendirian. Awalnya, gue nggak berpikiran bakal sebanyak ini yang bakal pesan.
Nggak tahunya……. mau pengsan.

“Halo, selamat siang. Ini bantal Kumaha ya?”
“Permisi mas aku mau mesan bantal yang A buat tanggal segini bisa?”
“Mas, aku dapet kenalan dari temenku, mau pesan yang ini bisa?”
 “Assalamualaikum. Mas harganya berapa ya?”

Setiap harinya, hape gue dipenuhi notifikasi dari para sister-sister di luaran sana yang ingin memberikan kado wisuda pada sahabat dan orang yang dikasihinya. Tunggu dulu. Kamu kira gampang? Enak aje, palalu bejendul!!!

“Mas, kalo warnanya diganti lebih mudaan gimana?”
“Mas itu nama gelarnya dipisah titiknya”
“Mas kalo ditambah love-love di ujungnya boleh?”
“Mas ini saya pesen satu nggak dapet potongan nih?”
”Mas gimana sih, kan kemarin warnanya dongker, kok ini malah ungu banget!!! nyebelin-nyebelin-nyebelin-mas-aku-mau-putus!!!”

Sifat sista-sista pembeli dari Instagram yang beragam inilah yang membuat gue seringkali mengelus dada hingga habis kesabaran. Saat itu juga rasa-rasanya gue pengin berlari ke tebing, menyetel lagu Isyana, kemudian menjerit di part
“TAK BISAAAA KUUUUuuu TERUSKAAAAAAANN. DUNIA KiiiiiiiIIIITAAAAaaaaa BEEEEEEEEERRRRRBEDDDAAAAaaaaAAA”

Meski untungnya terhitung lumayan, sesungguhnya rasa capek yang dirasakan dari mencari rupiah lewat jualan bantal bisa dibilang luar biasa. Minggu depan gue ceritakan kronologis lengkapnya di postingan berjudul Catatan Hati Seorang Kang Bantal. Nantikan segera! Trims.


Pengemasan bantal-bantal yang dilakukan sendirian. Sedi.
Sedikit bantal gemas yang membuat kepala pusing.
Sedikit desain bantal wisuda yang bikin mabuk.
Mari dipesan! Langsung buka ig @kumaha.inc!!





Ketiga, gue sedang ketiban durian runtuh, beserta pohon-pohonnya.
Membalas chat sista-sista, harus bolak-balik Bekasi-Kutek buat ngambil barang, membungkus bantal, mengirimkan, dan sebagainya lama kelamaan menjadi rutinitas yang cukup membosankan.
Sambil menggendong sekarung bantal yang siap dikirim ke berbagai pelosok Indonesia, di dalam commuter line gue sering bergumam… “Nyet, capek banget. Pengin deh, dapet kerja jalan-jalan, dibayarin, digaji pula”

Sejak ada program dokumentasi jalan-jalan baik di teve maupun situs internet, profesi traveler seringkali membuat gue ngiler. Coba dipikir, makhluk goblok mana yang nggak kepengin coba? Lu bisa menjelajah ke negeri jauh di mata, dibayarin segala macam hotel dan tiketnya, kemudian, lu mendapatkan uang jajan setelahnya. Tapi,…gue mikir lagi.

1. Meski huggable, badan gue bagaikan bumi dan langit kalo dibandingin sama host acara My Trip My Adventure. Otomatis nggak bakal ada orang atau merek apparel yang mau sponsorin gue untuk berwisata.
2. Gue nggak bisa main gitar apalagi nyiptain lagu semacam Jebraw Jalan-jalan Men. Alat musik yang bisa gue mainkan hanya angklung, pianika, dan suling Yamaha. Kebayang nggak, Jebraw sama Naya jalan-jalan ke pulau antah berantah sambil bawa bawa suling Yamaha. Mau ngapain coba, mainin Mengheningkan Cipta?

Berdasarkan dua alasan tersebut itulah, gue langsung mengurungkan khayalan babu gue. Meski awal tahun ini gue sempat disponsori pas menjadi surveyor ke Medan selama tiga hari, gue merasa kesempatan tersebut nggak bakal datang lagi untuk kedua kali.
Ternyata semuanya salah.
Khayalan babu gue diijabah.

Jam sembilan, setelah terbangun dari tidur-tidur kerbau, tiba-tiba teman gue bernama Naufal menyampaikan rezeki Tuhan yang dititipkan melalui pesan whatsapp dari tangannya.
“Dwik, lagi sibuk apa? Mau nggak ikutan ini, blablablablablablablabla panjang kali lebar kali tinggi blablablablabla.”
“ANJEEEEEER GUE MAU!!!”

Sebagai spoiler, selama sebulan ini, gue bakal berkeliling Indonesia setiap minggunya. Minggu lalu, gue baru pulang dari negeri ujung barat Indonesia bernama Aceh. Minggu ini, gue masih jetlag-jetlag gemes setelah pulang dari Makassar semalam. Minggu depan, kemungkinan ke Ambon, lalu ke sini, lalu ke sana, lalu ke sebelah sana lagi.

Semuanya free.
GRATIS.
GE-RA-TIS.
PESAWAT.
HOTEL.
UANG MAKAN.
GAJI!!!!!!!
Kemudian terdengar Josh Groban menyanyi YOU RAISE MEE AWWWPPPPPPP… layaknya acara Bedah Rumah punya Helmy Yahya.

Morning flight Teuku Rassya jalan-jalan bersama Nadya Hutang-gayung
Bangun-bangun kuterus Kualanamu.
Bersama Hamzah dan Arie, pemuda-pemudi hits harapan Banda Aceh.
Biar kaya Nicsap. Menutup hari dengan indomie.

Momen tersebut adalah bangun tidur paling epik sepanjang tahun 2015 ini. Kayak mimpi indah. Oke. Gue bakal menceritakan pengalaman-pengalaman ini di minggu-minggu berikutnya.

***



Tiga poin di atas adalah beberapa alasan kecil mengapa gue merasa sedang berada di titik bahagia. Entah kenapa, gue merasa Yang di Atas banyak memberikan keajaiban-Nya buat gue di tahun ini. Terlalu banyak hal baru yang gue rasakan. Hidup gue tahun ini nggak bisa ditebak. Pesan moral dari tulisan panjang ini mungkin begini, jangan takut besok hari bakal jadi apa. Selama melakukan hal yang dipercaya baik, nggak resek sama orang, dan nggak sibuk ikut campur sama urusan orang, lanjutkan aja. Niscaya apa yang lo lakukan bakal ada jalannya, bakal ada rezekinya.

Balik lagi ke judul, kalau gue ditanya Kayfa Haluk, jawabannya satu.
Alhamdulillah bahagia.


Photo

10/10/2015

di 18:36


1 komentar:

2 November 2015 at 19:35
Permalink this comment

said...

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
Gosip itu memang mengerikan, sampai jadi simpanan janda kaya, haha.

Selamat ya sudah lulus :)
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah