The Mess Runner 1: dari CGK ke SGN
Diposkan oleh rizkidwika

Aloha, Honolulu!

Setelah gue melewatkan waktu di bulan Februari tanpa suatu tulisan di blog karena ada target menulis lainnya yang sedang gue penuhi, kali ini gue bakal berbagi cerita mengenai perjalanan bodoh selama seminggu yang baru tanggal 1 kemarin dilakukan sama Gamaliel-Audrey-Cantika-nya Interior 2011 yang terakhir jejalan bareng pada saat Graduatrip dua tahun silam. Iya, dalam bentuk tulisan. Gue nggak berniat membuat vlog ala-ala manusia masa kini yang unfaeda dan tidak membuat masyarakat Indonesia menjadi rajin membaca.

Yha, setelah merayakan wisuda dengan jalan-jalan singkat ke Jawa bagian timur dan tengah, Gue, Gege, dan Ochan mengumpulkan tekad buat kembali meluangkan duit dan waktu di antara kerjaan, CAD, dan segala hal amit-amit yang menyertainya, untuk melakukan short escape bersama di tahun ini ke mancanegara. Gayung bersambut. Air Asia memberikan iming-iming surga dengan tiket murah yang disodorkannya pada akhir 2016 yang lalu. GAC pun tertarik buat berwisata ke negara ASEAN daratan. Dengan rate harga yang tersedia (sekitar 1.6 juta all-in dengan tiket pulang pergi dan tetek bengek airport tax-nya), pilihannya tinggal antara Bangkok atau Ho Chi Minh City. Sebagai golongan masyarakat sosial yang nggak kepengin nge-hype dengan liburan ke Bangkok kayak orang-orang, yaudah, kenapa nggak coba pilih Vietnam aja?











Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kami bertiga kumpul di T2 Bandara Soetta sejak jam setengah sebelas siang, tepat satu jam sebelum flight. Alih-alih masuk ke dalem dan boarding, kami malah leyeh-leyeh sambil membingungkan bakal beli apaan buat makan.


10.45
“E, jadi mau beli sesuatu buat di pesawat?”
“Beli donat aja apa? Ada Dunkin kan di T2?”
“Udah keyefsi aja yang deket”
“Oke yaudah, itu boleh deh buat maksi”
Gue dan Gege pun menuju ke gerai KFC di Terminal 2 Bandara Soetta terdekat. Begitu kelar ngantre dan memesan, gue melirik jam dan bergumam pada Gege.
“Gek, we need to go now, faster..”
(Klik pada Judul Buat Kepo Lebih Lanjut!)




Yak, jam menunjukkan pukul sebelas tepat dan saat itu kami baru bergegas boarding dan ngurusin segala rupa. Singkat cerita, sampailah kami di counter Air Asia… dan kami seharusnya check-in 10 menit sebelumnya. Beruntung kami dipermudah sama petugas. Kami masih diizinin buat check-in, kemudian lari secepat-cepatnya menuju bagian imigrasi.

Dari check in counter, kami bertiga lari ke bagian imigrasi. Zonk… di sana antrean buat para pelancong panjangnya udah kayak ular naga, karena cuma ada dua counter yang dibuka. Yha, tipikal Indonesia.

cuma dibuka dua, digabung umroh pula. Indonezya.


Skip-skip-skip, jam saat ini menunjukkan pukul 11.15. Penerbangan Air Asia kami udah final call, dan kami masih harus melewati satu bagian yang paling gue benci. Iyak, screening keamanan bandara. Nyebelinnya adalah karena gue harus bolak-balik melepaskan gesper dan membiarkan celana panjang gue kedodoran kayak mas-mas bercelana pensil yang sering jaga toko di ITC Mangga Dua.

“Mas-mas, itu di tasnya bawa apa? Coba dibuka”
“Mas bawa susu beruang ya? Nggak boleh, liquid harus ditinggal”
"Tap... tapi saya ngga nge-vape..."

Ngehe. Padahal gue sengaja nyetok susu beruang sampe tiga kaleng karena kondisi gue lagi drop banget sejak dua hari sebelum keberangkatan. Sialnya, nggak cuma gue yang kena. Gege dan Ochan juga dipermasalahkan soal paket keyefsi yang kami beli barusan. Gue yang nggak redho dunia akhirat kalo keyefsi-nya harus ditinggal pun langsung protes ke petugas bandara.
“Loh, masa ini harus ditinggal???”
“Oh, yang nggak boleh minumannya”
“Makanannya boleh dong???”
“Iya silakan, boleh dibawa”

Petugas darat pun menyuruh kita cepetan lari ke bus, kemudian diantarlah kami bertiga menuju pesawat yang bakal membawa ke KLIA, Malaysia. Sepanjang lima menit berharga itu, kami berlari-lari tunggang langgang. Ochan keringetan, Gege yang ponds flawless white-nya kian meluntur, gue pun harus terus lari sambil megangin lubang gesper di celana yang terus-terusan melorot. 

Gue seketika teringat adegan tokoh-tokoh The Maze Runner yang harus berpacu dengan waktu sebelum akhirnya gerbang labirin ketutup. Bedanya, dengan kondisi yang kayak begini, kami lebih cocok dipanggil dengan sebutan The Mess Runner.

The Mess Runner with their messy faces, abis kejar-kejaran sama penerbangan



14.30 
Dua jam perjalanan—dan perbedaan waktu satu jam dengan Jakarta, sampai juga di KLIA 2!
Oh iya, sejujurnya ini adalah pengalaman pertama gue bepergian ke negara orang. Norak emang. Biarin, yang penting gue pernah menjelajah 14 provinsi secara cuma-cuma bahkan digaji pulak, apalo??? apalo???

Kami tiba di KLIA 2 siang menjelang sore waktu setempat dan kami harus melanjutkan penerbangan jam 6.45. Kesan pertama? KLIA 2 bandaranya modern, nggak sumpek kaya terminal kedatangan tiap bandara internasional di Indonesia. Bentukannya menarik, banyak pokestop-nya pulak—iyak, gue masih mainan pokemon go, apalo??? apalo???

Hampir tiba di KLIA2 dan kelapa sawit di mana-mana

Langsung pen nyanyi Cintaku Bukan di Atas Kertas, rasa-rasanya

Setapak KLIA2 dari travelator. Bangunannya cu juga.

Livery airasia dan garbarata KLIA2

Suasana food court terminal transfer KLIA2

Kenapa ana' ana' interior kalo jalan pasti yang difoto ceiling-nya? 

WTF PANCURBASAH????? WTF GEGULUNG HOS?????

Mushala KLIA2. Nggak terlalu bagus, tapi lantai vynil mengubah segalanya.

GANJANG! BOMBARDIER NEGARA BONEKA MALAYA! -Bung Karno


Kucluk-kucluk-kucluk, di KLIA 2 gue kembali harus melalui dua kali screening keamanan dengan melepaskan gesper yang merepotkan. Semula, kami bertiga ngide untuk walking around ke Petronas atau Putrajaya selama waktu transit tiga jam, tapi berhubung siang tadi mendapatkan pengalaman yang kurang elok, kami pun memutuskan cuma keliling bandara sambil menikmati hotspot gratis yang disediakan di setiap sudut KLIA 2. Karena nggak ada satupun dari kita yang sedia duit ringgit, kami pun harus gigit jari merasakan wewangian makanan dari kafetaria yang baunya ke mana-mana selama tiga jam transit. Hari mulai gelap, kami pun kembali boarding dan harus terbang lagi ke Ho Chi Minh City (HCMC), destinasi yang sesungguhnya.

***


18.30
Penerbangan dari Kuala Lumpur ke HCMC ditempuh selama dua jam perjalanan. Kalo ditotal dari Jakarta, berarti penerbangan yang udah kami lalui bakal berlangsung empat jam. Selama penerbangan, gue dan kawan-kawan pun jadi punya hobi baru yaitu mengomentari secara nyinyir setiap suguhan makanan yang ditawarkan di kartu sajian setiap rute pesawat.

“Neeeh, lo liat neeeh. Menggiurkan kan gambarnya? Neeeeh lo liat foto asli makanannya, mahal-mahal cuma kayak nasi bancaan”
“Coba-coba, ini apa faedahnya mie cup difoto begini? Konsepnya lagi nyeduh terus tumpah???
“Apa apaan nehh teh botol harganya segini??? Mau pergi haji???”
Empat jam perjalanan mostly kami habiskan dengan tidur, sisanya diisi dengan mengobrol konyol antara kami bertiga, termasuk nyinyirin menu-menu makanan ini


HUWAW, GAMBARNYA NI'MAT
GOURMET SEKALI PENATAANNYA
PASTI BUATAN CHEF DEGAN
ATO MARINKA
ATO CHEF JUNA

Platang-plating matalu bejendul. Cuma nasi kotak begini neeehh

*mau seduh mie*
*yaaah tumpah*
*ih kok lucu? poto ah*

Sunset di pesawat yang leh uga. Jangan lupa duduk di row A!

HCMC dari ketinggian. Sungainya menyala-nyala




20.00
Jam 8 malam waktu HCMC—btw HCMC punya kesamaan waktu dengan Bangkok dan Jakarta, pesawat pun akhirnya mendarat di bandara internasional Tân Sơn Nhất Int'l yang berlokasi di jantung kota. Setelah melewati antrean imigrasi yang panjang, resmilah kami menjadi pendatang di negeri pantai timur Indochina!

But first, let us take some selfies!
Gerakan tiba-tiba membuat Gege kayak orang-orangan Archdaily
Lagi-lagi, foto ceiling lagi

boomerang senjatanya, huwow wow


Begitu kelar imigrasi, sebagai turis kebanyakan, hal pertama yang mesti kami lakukan adalah menukar uang—dan juga beli nomor lokal buat internetan selama seminggu ke depan. Gege dan Ochan menukarkan uang dalam jumlah yang lumayan besar karena mereka berencana bakal ngetrip ke Hanoi berdua, kemudian menikmati Halong Bay yang mendunia itu. Sedangkan gue… gue hanya menukarkan duit sejumlah 100 USD. Iyak, gue cuma nukerin selembar. Karena keterbatasan rupiah yang ada, gue cuma bisa membawa bekal sebesar 100 USD untuk digunakan secara bijak, seminggu. Gue tertantang menjalani trip seminggu ini dengan 100 USD Challenge. Cobak, dengan 100 USD, gue bisa di negeri orang ngapain aja?

Untungnya, kurs mata uang setempat (Dong), nilainya jauh lebih zonk ketimbang Rupiah. Kalo misalnya 1 USD dikonversi ke IDR sekarang sekitar 13.000, maka 1 USD bakalan setara dengan 22.700 Dong. Alhasil, selembar 100 USD yang gue bawa tanah air pun dikonversi menjadi 2.270.000 Dong.
Seketika feels like Imma rich people~



21.00
Begitu urusan mata uang udah beres, kini saatnya gue dan kawan-kawan memilih nomor perdana buat internetan. Mata kami pun tertuju sama kios Viettel yang membandrol harga paket unlimited sebesar 290.000 Dong plus bonus menelpon gratis sesama pengguna Viettel. Oke, deal. Kami pun kembali terhubung dengan tanah air melalui jaringan komunikasi 4G di negara orang—buat pamerin instastories lebih tepatnya. Hahaha, sampah emang kedengerannya.

Jam-jam random pertama di Ho Chi Minh City belum selesai sampai di sana. Begitu keluar dari bandara, perut kami mulai lapar. Ochan dan Gege pun memutuskan untuk melipir ke salah satu restoran ph.

Phở (iya nulisnya pake bendera karena Vietnam menggunakan tanda-tanda bendera beginian untuk menjelaskan pelafalan dan intonasi yang berbeda, misal "ga" berarti stasiun, tapi "gà" berarti ayam. Jauh kan?) adalah salah satu comfort food khas Vietnam yang merupakan campuran antara bihun, tauge, daging dan segala macam jenis dedaunan (yang keliatan sama gue sih daun sejenis mint atau kemangi) dan kemudian disiram sama kuah bening beraroma jahe dan rempah-rempah lain ditambah perasan jeruk nipis. Kalo di Indo, mungkin makanan ini sejenis sama soto daging. Oh iya, ada dua jenis ph yang terkenal, yaitu Ph Bo (pho dengan daging sapi) dan Ph Gà (pho dengan daging ayam). Berhubung gue masih takut sama kehalalan kandungan kaldu-kalduannya, alhasil cuma mereka berdua doang yang makan di bandara Tân Sơn Nhất malam itu.

Ph pertama di negara Paman Ho

ADA JAJANAN SERUPA NYAMNYAM DI VIETNYAM!!!

Penampakan terminal Tân Sơn Nhất Int'l Airport

22.00
Hari makin malam dan kami harus segera bergegas buat late check in buat hostel yang udah kami pesan via traveloka dengan rate Rp79.000 semalamnya. Berbekal pengalaman dari berbagai traveler Indonesia yang berkunjung ke HCMC, dari bandara ini ada dua jenis transportasi yang bisa digunakan ke pusat kota, yaitu bus umum dan taksi. Buat taksi sendiri, percayakan pilihan pada taksi berlabel VINASUN atau MAI LINH. Dua taksi ini adalah taksi yang paling terpercaya karena mereka menggunakan argo dan nggak pernah melakukan scam—ini adalah hal serius yang harus diperhatikan setiap turis di Ho Chi Minh City. Selalu tanya harga sebelum ngapa-ngapain karena HCMC terkenal dengan berbagai penipuan harga yang dilakukan penduduk lokal pada wisatawan.

Kami pun mendapatkan satu taksi VINASUN dan diantarkan menuju Saigon Backpacker Hostel yang berada di Distrik 1, pusat kota, tempat kami menginap di hari pertama. Jangan lupa untuk bilang "use the meters" supaya argonya jalan dan nggak ditembak harga, yha!

Dengan bahasa tarzan –karena drivernya nggak paham banget bahasa Enggres, kami menempuh 30-menit-kita-di-sini-tanpa-suara sambil melewati keramaian kota yang juga dikenal dengan nama Saigon ini. Kotanya super rapi, pedestriannya lebar-lebar. Taman dan lampunya gemerlap, kayak kondisi Surabaya pas lagi malam hari. Bedanya, jalan dan posisi kemudinya kebalikan dari Indonesia. Di sini jalannya di sebelah kanan. Oke… Gue yang duduk di depan pun merasa kayak lagi tes ujian mengemudi…

Setelah sampai di lokasi, kami mengeluarkan duit 150.000 Dong (argo menunjukkan 146.000). Sopirnya pun ngoceh-ngoceh in Vietnamese. Gue bingung. Sopirnya langsung memperlihatkan selembar karcis bertuliskan 10.000 dong. OOOOOHHH, gue baru nangkep kalo maksudnya dia minta duit tambahan buat parkir bandara.

Setelah melakukan check-in dan paspor kami dipegang sama resepsionis—ini adalah aturan setiap hostel demi keamanan selama jalan-jalan daripada paspornya kecopetan, kami pun diberikan kamar dormitories di lantai empat dengan kamar berisi empat kasur tingkat dan bergabung bersama dua bule US yang sudah lebih dahulu mengisi kamar tersebut. Kami langsung mandi, ngecas, nyeduh popmie—iyes! popmie rasa baso berlabel halal yang dibawa dari tanah air adalah penyelamat hidup Rizki Dwika, ftw!- kemudian membaurkan diri dengan chit-chat bareng David si bule US yang udah lama tinggal di hostel ini.


Dormitory kami (+David in frame)
Memotret Gege dari celah-celah kasur, yaela :(
Backdrop foto di kamar dorm -dengan muka berminyak kek panci lebaran



Obrolan-obrolan mengenai Bali, Saigon, sampe Donald Trump bersama David pun menutup petualangan kami di Saigon yang warbiyaza random di hari pertama ini.

. . . . . .



HARGA-HARGA PENTING

Damri Bekasi-CGK .... Rp55.000,00
Keyefsi Soetta T2 ....... Rp35.000,00
Pho Bo Bandara .......... 55.000₫ Porsi
Taksi Bandara ............. 160.000₫ (Tarif ke Distrik1)
Hostel Dormitories ..... Rp79.000/bed, mixed-dorm 8 orang, ac, kamar mandi dalam


Photo

11/03/2017

di 17:00


Label:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah