Gastritis, Limbung Karena Lambung
Diposkan oleh rizkidwika

Bibir dikulum sama bu dosen
Assalamualaikum, warga netisen!

Dalam suasana H+7 setelah lebaran ini, izinkan gue pertama-tama mengucapkan… Selamat Hari Raya, masyarakat Indonesia! Kalian semua saya maafkan! Jadi kapan kita halalbihalal? Mungkin nonton, jalan, atau makan-makan?

Udah beberapa bulan ini blog gue kosong tanpa tulisan, terakhir cuma cerita tentang Vietnam yang belum selesai dan gue bingung harus ngelanjutinnya dari mana. Bukannya males, tapi belakangan ini gue lagi ambisius buat nulis di tempat lain yaitu di Blog Traveloka, di mana gue bisa meng-uang-kan tulisan cerita perjalanan gue dalam bentuk transferan di sana—meski dalam bahasa yang lebih teratur dan nggak receh kayak nulis di mari. Alhasil, blog yang tiap tahun harus diperpanjang domainnya ini pun jadi banyak debunya, karena gue kewalahan buat menulis ulang cerita perjalanan dalam dua gaya bahasa yang berbeda. Pelan-pelan aja, mungkin cerita The Mess Runner bakal dilanjutkan di postingan berikutnya, tungguin yha!

Nah, daripada mubazir, dalam suasana bulan Syawal ini pun gue beritikad buat pelan-pelan meramaikan kembali rumah ini sekaligus mau melanjutkan secret project yang tengah gue lakukan dan dijadwalkan harus selesai bulan Juli ini. Mohon doanya! Yarabb, aku sudah kepengen jadi artis dan bosan jadi warganet semata!
Oke, yang barusan lupain aja.

Meski judulnya Hari Kemenangan, sejujurnya nih, gue tahun ini nggak merasa menang dari apa-apa disebabkan tahun ini gue puasanya bolong enam. Bukan, bukan. Gue bukan batal gara-gara digodain anak sekolahan nyeruput marimas dingin siang-siang pinggir jalan, bukan. Gue harus menanggung utang enam hari berpuasa gara-gara segumpal organ dalam tubuh gue yang mulai rewel bernama… lambung, hingga akhirnya gue harus merasakan kasur rumah sakit setelah sembilan tahun nggak 
berurusan sama rawat inap. Begini ceritanya...



(Klik pada Judul Buat Kepo Lebih Lanjut!)



Pada hari Minggu, sepuluh hari sebelum masuk awal bulan puasa, pagi itu semua biasa saja. Gue mengawali hari dengan sarapan sebungkus nasi padang berlauk rendang yang dibeli di warung langganan, kemudian siangnya adek gue mesenin ayam ricis level dua, tingkatan yang sebenernya masih dalam jangkauan gue untuk dimakan. Iya, semuanya biasa saja.

Sore menjelang, setelah bangun dari boci—bobo ciang, gue merasakan getaran-getaran pelan yang kemudian direspons oleh otak gue sebagai rasa lapar. Dilalah, tak lama gue kemudian diajak kakak dan ipar sekeluarga buat makan seafood di luar. Pikir gue, mumpung lagi laper kan yaudah gue di sana melahap nasi panas-panas sama kerang saos padang. Rasanya warbiyaza emang.

Begitu di perjalanan pulang, gue tambah bingung kok rasa-rasanya ini nyeri nggak ilang-ilang. Pas nyoba ke kamar mandi pun nggak menghasilkan apa-apa, malah nyerinya makin menjadi-jadi. Kalo diibaratin ya, rasanya kayak lagi terlentang di tengah jalan, kemudian lu dicengkeram tepat di perut dan dibawa terbang sama naga indosiar. Iya, sakitnya amat nggak masuk nalar.

Gue pun meminta bokap nganterin gue ke Klinik Pratama BPJS yang cuma berjarak tiga ratus meter doang. Lagi nyiap-nyiapin dokumen, gue kemudian teringat satu hal. Kampret, gue lupa bayar premi dua bulan…

Secepat kilat, gue dan bokap bermotoran ke ATM buat bayar premi supaya bisa dilayanin sama BPJS. Begitu di sana, badan gue mualnya nggak terkira, sampe-sampe gue nggak kuat berdiri dan harus masukin nomor pelanggan dengan posisi berlutut supaya nggak keliyengan di depan mesin ATM. Nggak lama, gue merasa nggak tahan dan berlari ke jalan depan dan… HOWWWWEEEEEEKKKKKKK, keluarlah segala macam makanan yang belum selesai dicerna itu.

Setelah menuntaskan muntah selama dua ronde, gue langsung ke klinik sembari menahan sakit di perut. Pikiran gue udah aneh-aneh, takut banget kalo usus buntu, harus operasi, dan lain sebagainya. Begitu sampe di sana langsung tiduran di UGD, diteken-teken dokter, dikasih obat, disuruh istirahat, selesai. Ebuset? Ini nggak ada suntikan apa gimana biar nyerinya cepet ilang? Rela dah rela disuntik yang banyak juga…

Setelah dua jam setelah minum obat dan nggak ada reaksi apa-apa, gue nggak sabaran dan minta dibawa ke UGD di RS lainnya. Gue kembali tiduran, dipencet-pencet dokter, terus diberi beberapa obat dan suntikan. Sejam pertama, nggak ngefek. Gue kemudian disuntik lagi. Tengah malam, sakitnya masih nggak ilang. Dosisnya dinaikin lagi, total malem itu gue dizalimi sama tiga suntikan. Subuh akhirnya gue pulang walau masih nggak mendingan. Sakitnya bener-bener lenyap besok siangnya, tepat dua belas jam.
Gue pikir, segala rasa sakit itu lenyap untuk selama-lamanya. Ketika gue merasa udah baik-baik aja dan bisa terlentang dan tengkurep dengan indah, gue meniatkan diri buat dateng Presentasi Eksternal anak PAI 4 keesokannya di hari Selasa…

***



Pagi di hari Selasa, semuanya masih berlangsung biasa aja. Setelah sarapan bubur dan ngobat, gue pun langsung berangkat. Setelah lari-lari kecil di Stasiun Manggare mengejar kereta di jalur enam… nyeri-nyeri brengsek itu muncul lagi. Makin siang, rasanya makin hebat, bahkan buat jalan kaki pun gue harus superpelan karena kalo sixpack gue goyang, nyerinya langsung ampun-ampunan.

Jam satu siang, gue akhirnya nggak kuat dan memilih tiduran di pos klinik Stasiun Pasar Minggu dan dilayani dengan baik di sana. Rebahan, diolesin minyak, dikasih Ranitidin, dikompres air panas. Jasamu sungguh tak terhingga, mbak-mbak yang aku lupa siapa namanya.

Perjalanan masih panjang, di Stasiun Manggare gue kembali nggak kuat dan pengin tiduran. Di sana pelayanannya nggak sebaik Pasar Minggu. Staf-staf kesehatannya malah ngegosip sendiri sambil makan bakso malang. Ada kali tuh, empat sampe lima orang. Buat muntah pun gue harus berjalan dulu ke luar klinik, baru kemudian balik lagi tiduran. Benar-benar menyebalkan.  

Daripada gondok, gue memilih buat pindah ke jalur empat dan naik kereta pulang ke arah Bekasi. Waktu itu udah jam empat sore, jam-jamnya orang pulang kantor. Beruntung kereta gue ini keberangkatan Manggare jadi isinya belum banyak. Gue ngembat tempat duduk prioritas sambil melanjutkan kembali guling-gulingan kesakitan, bahkan gerakan gue jauh lebih rewel ketimbang dua bumil yang duduk di bangku yang sama.

Begitu turun di Stasiun Kranji, gue pun masih harus ke parkiran dan ngebawa motor sampe rumah dengan kecepatan cuma sanggup 20 km/jam doang. Akhirnya tepat jam enam gue mendarat di kasur sambil meringis kesakitan. Mau nggak mau, gue harus kembali nge-UGD dan diinterogasi dokter lagi.

“Ini kamu kenapa?”
“Kemarin makan wajar nggak pedes-pedes amat dok, blablabla, gini gitu, disuntik, kasih obat, kambuh lagi”
“Telat makan?”
“Nga dok”
“Kamu gila pedes?”
“Nga dok. Memang-gue-anak-nakal-tapi-masih-batas-wajar” Nggak deng. Gue nggak nyanyiin lagu Yanglek. Takis udah bubar. Mampos sukurin!
“Kamu ngerokok?”
“Nga dok”
“Kamu minum soda?”
“Udah setahun ngehindar dok, paling banter pucuk harum. Hobinya air putih”
“Kopi?”
“Nga dok”
“Kamu ‘minum’?”
“Yawla dok, minum granita aja saya gumoh dok, gimana mabok”
"Kamu pasti ngelawan sama orang tua kamu ya???"
langsung muncul intro lagu kemudian ada suara Opick nyanyi Terangkanlah...terangkanlah...
"Dok emangnya sinema hidayah indosiar????????"

Dokternya agak bingung, sementara gue terus menerus ngelus perut kayak lagi mau pembukaan lahiran. Jam sepuluh masuk UGD, dilihat ini itu, disuntik dua kali, dicek darah dan pasang infus yang sakitnya nggak ada apa-apanya ketimbang nyeri di perut, akhirnya langsung dirawat inaplah hari itu juga. Kampret emang.



Gue dirawat di RS deket rumah selama empat hari dengan diagnosis Gastritis, yang kemungkinan bisa disebabkan gara-gara stress dan juga akumulasi gaya hidup yang rusak semenjak kuliah, di mana gue dulunya adalah penikmat Mc Float mekdi setiap dua minggu sekali serta didaulat sebagai pimpinan laskar Front Pembela Indomie semasa begadangan bersama tugas tercinta. Meski gue akui di semester kemarin ini sangat sulit buat mengurangi konsumsi indomie kuah ala warkop dengan telor setengah mateng, sayur, irisan bawang, kornet, dan parutan keju karena indomie adalah surga duniawi yang benar-benar kurindukan.

“Ini lambung kamu emang udah nggak kuat sama cabe. Coba deh abis dirawat ini, kamu harus sebulan ke depan sama sekali nggak boleh kena cabe, supaya lambungnya recovery biar jadi virgin lagi. Abis itu, baru boleh tapi dikontrol”



Gue diberi tahu apa aja yang boleh dan apa aja yang nggak. Pedes, nggak. Asem, nggak. Susu, jangan dulu. Santen, nggak boleh. Indomie, haram. Soda, dilarang. Sayur-sayur banyak yang nggak boleh soalnya banyak sayur yang merangsang gas lambung. Hamish Daud cuma diperbolehkan makan nasi lembut, ayam goreng, sama telor setiap hari….. YhaRabb, Itu juga setelah minum empat tablet dan sesendok sucralfate kentel sebelum makan. Eneg.

***


Hawa-hawa di rumah sakit emang nggak ada enak-enaknya sama sekali. Makanannya nggak enak, nasinya dingin, mau ke kamar mandi susah, ngerasain disuntik dari selang infus pun rasanya menjalar geli-geli basah. Untung selama perawatan di rumah sakit kemarin ditanggung BPJS. Kalo nggak, amsyong banget kayaknya. Wong tindakan pertama di UGD aja udah abis tiga juta, gimana rawat inepnya? Makanya, daftar BPJS! Jangan telat bayar, nanti prosesnya susah karena kudu bayar denda dan ngurus macem-macem di kantor pusatnya.

Begitu kelar perawatan selama empat hari di rumah sakit, gue masih harus mengonsumsi obat dan rawat jalan selama dua mingguan. Gara-gara gastritis juga, gue jadi menjalani bulan Ramadhan dengan perut yang nggak enak. Bolong enam hari, sholat harus duduk karena nggak sanggup nunggang-nungging, nggak teraweh di masjid, nggak bisa cheating makanan kesukaan semacam Asinan, Gado-gado, Pecel, Urap, Gudeg Krecek, Garang Asem, Nasi Padang, apalagi semangkuk Indomie. Pernah sekali gue colongan bandel sahur pakai rendang dan kemudian mulai nyeri menjelang imsak. Kalo udah begitu, gue pun harus berkawan mylanta cair buat mengurangi luka di balik sixpack ini.

Sampai tulisan ini diturunkan, Alhamdulillah kondisi lambung yang kronis ini sudah jauh lebih sehat, meski waktu lebaran kemarin sempat kumat gara-gara spaneng mikir dan konsumsi santen yang kelewat banyak. Meski keliatan sehat, sebagai member baru Lemah Lambung Lambung Club gue harus sadar betul kalo serangan bisa datang kapan aja dan rasanya itu sangat nggak enak. Bagi gue pribadi, sakitnya gastritis kemarin itu adalah sakit kedua yang paling sakit setelah sunat. Nggak mau lagi-lagi. Kapok pake u. Kuapokkkk.

Pesan moralnya adalah, wahai kamu manusia-manusia yang belum pernah terpapar sakit lambung, khususnya anak arsitektur yang hidupnya kebanyakan dicekoki sama kopi. Perbaikilah pola asupanmu mulai sekarang juga, supaya nggak menderita dan waktumu buat berkarya nggak terbuang sia-sia di rumah sakit sana :(


Sekali lagi, mohon maaf kasihsayang lahir dan batin!
Salam hangat,

Deva Mahenra dan Chelsea Islan.


Photo

01/07/2017

di 17:00


Label:

0 komentar:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah