Laman Catatan Perjalanan

Rizki Dwika, S.Ars.

(n) an Architecture-Interiorist. Makhluk Tuhan Paling Bekasi. Menulis, Jalan-jalan, Ber-arsitektur.

Kamis, 14 Juni 2018

#CurhatDong: OOTDedeh dan Kesederhanaan Mamah

  • Juni 14, 2018
  • by

2018 adalah tahun kelima keluarga gue menonton acara sahur yang sama.
Yha, sejak meredupnya acara sahur yang diwarnai dengan cikidaw-cikidaw-aweu-aweu selama satu bulan disebabkan pencekalan KPI, aksi tidak senonoh, dan lain sebagainya (sebut saja program Yekaes), keluarga gue mencari acara teve alternatif yang bisa ditonton buat sekadar menemani sahur. Berhubung bokap-nyokap di saat itu adalah pengikut acara Dangdut Academy dan kebetulan MC-nya pun elu-lagi-elu-lagi, pada tahun 2014 keluarga gue pun tertambat pada acara bernama AKSI Indosiar.

Berbeda sama acara sahur yang gue ganyemi di tahun-tahun sebelumnya yang kurang berfaedah, AKSI Indosiar mengedepankan ajang pencarian bakat dai-dai’ah baru yang dipertandingkan selama bulan Ramadan. Masing-masing peserta diberi waktu ceramah selama lima menit, kemudian mereka bakal dikomentari oleh penceramah-penceramah yang udah punya jam terbang di Indonesia, mulai dari Ustaz Subki, Ustaz Wijayanto, Ustaz Al-Habsy, hingga pendakwah favorit gue dari dulu hingga detik ini.
Iya, Mamah Dedeh





Meski gue nggak pernah bertemu langsung dengan Mamah Dedeh, entah kenapa gue merasa memiliki keterikatan batin yang cukup kuat dengan pendakwah yang satu ini. Gimana nggak? sejak gue masuk SMA alias tahun 2008, ceramah Mamah Dedeh di Indosiar selalu menemani keluarga gue sebelum beraktivitas. Soundtrack Mamah dan Aa yang dibawakan grup kasidah Annabawi di rumah gue pun menjadi alarm yang menandakan kalo sekarang udah jam enam pagi. Belum pernah denger? Lihat video yang ini deh, gerakan tangan ibu-ibu pengajian yang saling bertabrakan niscaya bakal bikin elu ketawa sendiri. NIH TONTON DI LINK INI NIH!

Ditemani sebungkus nasi uduk sambil gue masang sepatu dan manasin motor, kami sekeluarga menonton ratusan ibu-ibu yang membentuk formasi lingkaran mengelilingi Mamah Dedeh dan Cing Abdel dengan warna yang gonjreng persis kaya kue-kue di pasar subuh. Rasa-rasanya pagi di keluarga gue seperti belum lengkap kalau bokap-nyokap gue belum sindir-sindiran waktu nonton acara Mamah dan Aa di Indosiar. Rutinitas ini kami lakukan setiap hari, tahun demi tahun, gue keterima di kampus, lulus, hingga sekarang. Terhitung 2018 ini, artinya udah sepuluh tahun keluarga gue mengikuti ceramah doi di televisi.

***



Nggak tahu kesambet angin apa, di awal bulan Ramadan kemarin gue tiba-tiba tergerak untuk mendokumentasikan pakaian Mamah Dedeh di layar kaca setiap harinya. Utas panjang itu gue posting di twitter dan instagram gue dengan label berjudul #OOTDedeh, gabungan antara #OOTD dengan Mamah Dedeh (selengkapnya bisa klik twitter gue untuk mengikuti utasnya dari hari ke hari). Begitu gue cc-in ke Cing Abdel Achrian, pemuja Bubur Palapa yang juga menjadi MC di acara Mamah dan Aa, utas yang gue buat di twitter pun mengundang reaksi yang cukup positif dari pengguna twitter lainnya. Setiap hari selama Ramadan, gue memposting setiap tampilan Mamah Dedeh dengan warna yang cenderung itu-itu aja. Merah, biru, hijau, abu-abu, kuning, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon. Nggak ada yang berbeda dari gamis dan kerudungnya, terkadang yang membedakan cuma lain di warna saja (dan juga asesoris atau bros yang menempel di sebelah kiri). Tampilah yang sederhana, bahkan kalo kata gue kelewat sederhana bagi pendakwah yang memiliki pengikut militan di kalangan ibu-ibu yang tersebar se-Indonesia Raya. 



Nggak ada angin-nggak-ada-ujan, di pertengahan bulan Ramadan ini tiba-tiba gue menemukan video liputan di balik layar ceramahnya Mamah Dedeh yang dibuat secara ekslusif oleh VICE ID dari tab mention di twitter. Video selama 18 menit yang ditayangkan itu memberikan gue berbagai fakta tentang acara Mamah dan Aa yang belum pernah gue ketahui sebelumnya, mulai dari ibu-ibu yang ternyata di-briefing supaya waktu tanya jawabnya nggak salah sebut, latihan gerakin tangan sesuai lantunan lagu nasyid, hingga antrean penonton acaranya yang harus menunggu sampai tiga tahun supaya bisa diundang ke Indosiar. Men, tiga tahun men. Itu diundang pengajian apa namatin sekolah?

Selain memberikan pandangan baru tentang acara Mamah Dedeh, video liputan VICE itu juga membuat gue semakin bertambah hormat pada sang penceramah. Di akhir bagian liputan ekslusif itu, Mamah Dedeh ditanyai pendapatnya soal banyaknya dubsmash, youtube, tiktok, atau video-video parodi ceramah mamah yang ditampilkan dengan dandanan yang alayhum-gambreng. Di luar dugaan, bukannya marah atau bernada tinggi seperti biasanya, Mamah Dedeh malah menyatakan dirinya tidak tersinggung diparodikan anak-anak zaman sekarang. Secara bijak, Mamah Dedeh malah bilang kalo semakin diparodikan, berarti tausiahnya melekat di otak dan artinya ceramahnya berhasil.

Gokil, sikap Mamah Dedeh membuat gue berpikiran bahwa beliau merupakan panutan yang sesungguhnya.

***



Pendapat ini emang nggak populer, tapi sejujur-jujurnya, kelakuan fans yang mendewa-dewakan ulamanya sebagai manusia kayak gini membuat gue sebagai orang seagama yang biasa-biasa aja membuat gue merasa nggak simpati cenderung geli terhadap fenomena di Indonesia yang ramai setahun dua tahun belakangan ini. Belajar tuh dari Mamah Dedeh. Dua kali beliau pernah slip lidah dalam ceramah dan ditegur masyarakat, secara gentle dia meminta maaf dan membuat klarifikasi, bukannya teriak penghinaan lah, penistaan ulama lah, kriminalisasi lah, elah... fans fanatik. Segitunya amat sih ngebelain manusia?

Namanya juga manusia yang nggak sempurna dan punya khilaf, kalau emang salah mah salah aja, kali. Mau bawa nasab keturunan a-b-c-d-e? Lah, anaknya nabi-nabi juga banyak yang nggak beriman kok. Malahan Ratu Inggris yang sekarang disebut-sebut punya nasab yang bisa diteruskan jejaknya hingga ke Nabi Muhammad. Ada yang inget adegan ShahrukhKhan di film My Name Is Khan waktu menanggapi ulama provokatif yang berdakwah diMasjid? Dia mengambil kerikil kecil dan langsung melemparkan kerikil itu ke sang penceramah sambil teriak: setan! Itu setan!

Nah, kalau elu merasa abis dengerin ceramah, kuping lu malah budeg karena diteriakin dan hati nggak menjadi tentram, bisa jadi ulama yang elu hadapi sama dengan apa yang ditemui Shahrukh Khan tadi.

***

Sebagai seorang muslim yang bukan fanatis dan cenderung biasa-biasa aja, Mamah Dedeh membuat gue tertarik untuk mempelajari agama lewat kesederhanaan yang ditunjukkannya. Kesederhanaan yang ditunjukkan Mamah Dedeh bukan sekadar dari tampilannya yang cuma gamis dan jilbab langsung pakai tanpa perlu dililit, diputer, dikombinasi warna, dan lain sebagainya, tetapi kesederhanaan beliau juga ditandai dengan cara dakwahnya. Bukannya meminta dipanggil sebagai Ustazah apalagi Ibu Hajjah, beliau lebih nyaman dipanggil sebagai seorang Mamah—malah sering menyebut dirinya sebagai nini-nini, hal yang sangat berlainan dengan penceramah yang sering gue temukan di pinggiran jalan protokol yang menuliskan gelar sepanjang rangkaian commuter line mulai dari gelar akademis, haji, sampai gelar keagaman lainnya padahal Mamah Dedeh sering berkata kalau Rasulullah SAW aja nggak pernah minta dipanggil Haji Muhammad. 

Mungkin bagi gue, Mamah Dedeh adalah satu dari segelintir penceramah yang kredibel dan gue percaya sebagai panutan di tengah gelombang masyarakat Indonesia belakangan ini yang nggak segan-segan mencampuradukkan agama buat politik praktis semata. (Gue membagikan pendapat gue di bawah ini di twitter dan alhamdulillah mendapatkan respons yang serupa dari sebagian warganet. Oh gini rasanya, hape bergeter terus dapet notifikasi)...




Nggak cuma itu, sekonyong-konyong tadi pagi gue mendapatkan mention dari Cing Abdel di twitter berupa video yang mengagetkan di pagi buta. Ebuset. Sepuluh tahun nonton Mamah&Aa dikasih kecup syar'i sama beliau pulak! Cing, aku mimisan cing!






***

Berani berbicara, berani minta maaf, berani bertanggung jawab dengan omongannya. 
Pertahankan tertawa EHEHEHEU-mu dan sehat selalu di usiamu yang Agustus nanti 67, Mamah Dedeh...
Akhirul kalam, selamat Idulfitri para pembaca dan jamaah semua!
Taqabalallahu minna wa minkum!
Mohon maaf lahir dan batin!

0 komentar:

Posting Komentar