Laman Catatan Perjalanan

Rizki Dwika, S.Ars.

(n) an Architecture-Interiorist. Makhluk Tuhan Paling Bekasi. Menulis, Jalan-jalan, Ber-arsitektur.

Sabtu, 29 Februari 2020

#SabdaDwika: Yang Sedang-Sedang Saja

  • Februari 29, 2020
  • by

Selamat hari kabisat!

Tahun 2020 adalah tahun yang sangat chaos. Gimana nggak? Beragam kejadian yang menegangkan terjadi di sepanjang tahun kabisat ini, mulai dari bencana, kerusakan lingkungan, berisiknya politik dalam negeri dan internasional, hingga wabah aneh yang pola penyebarannya menyeramkan. Padahal, 2020 yang melelahkan ini sebetulnya berjalan baru dua bulan.
Baru. Dua. Bulan.

Berhubung udah lama sekali gue nggak mengisi blog ini, izinkan gue menceritakan berbagai kejadian sepanjang awal tahun yang membuat pusing pala barbie dan memancing untuk dikritisi. Ya udah, selamat membaca.


Tahunnya Kejadian-kejadian Luar Biasa

Indonesia mengawali tahun 2020 dengan agenda bersama yaitu Jabodetabek kebanjiran. 31 Desember, gue sekeluarga memilih untuk staycation di Hotel Mercure di daerah Cikini Jakarta dengan harapan gampang nonton kembang api di kawasan Bundaran HI. Setelah ngambil kunci, masuk kamar, dan goler-goler sore sambil nonton Suara Hati Istri Indosiar, sekonyong-konyong hujan deres melanda Jabodetabek.
Pikir gue saat itu “ya udah lah, palingan ntar malem ujannya mereda”
Ternyata prediksi gue salah.

Hujan terus turun, bahkan setelah makan malem pun gerimisnya awet nggak tau kapan kelarnya. Gue yang awalnya pengen jalan kaki ke Bundaran HI buat nonton kembang api pun menjadi hoream alias males karena faktor cuaca. Ya udah lah, nonton dari teve aja. Ngapain juga ngebelain dateng ke Bundaran HI sambal basah-basahan? Mau nonton bulu dada Haji Rhoma Irama berkilauan terkena ujan?

Sambil kemulan di dalam kamar hotel, singkatnya, malam itu keluarga gue menikmati pergantian hari dari jendela kamar sambil nontonin siaran langsung dangdutan di Indosiar. Paginya, pas gue lagi ngecek twitter sambil ngantre nasi goreng buat sarapan, gue kaget: hah, pada kerendem banjir? Eh buset.

Ternyata hujan yang terjadi di malam pergantian tahun tersebut adalah hujan dengan curah paling gede di Jabodetabek sepanjang sejarahpencatatan dari zaman Walanda hingga BMKG sekarang. Nggak cuma di pinggir-pinggir sungai di Jakarta. Bogor, Bekasi, Tangerang, dan wilayah lainnya juga kebagian banjir yang nggak kalah parah. Begitu pulang dari hotel, untungnya rumah gue yang berada di kawasan elite bernama Northern Bekasi kering dan nggak kebanjiran, meski rumah kakak gue di kompleks sebelah kebagian becek beberapa senti yang merangsek ke seluruh rumah.

Tahun baruan, banjir.
Ah, pikir positif aja. Semoga ini jadi pertanda kalo 2020 bakal cuan.

Beberapa hari setelahnya, tanpa tedeng aling-aling, terjadilah konflik panas antara Iran dengan Amerika Serikat lantaran pembunuhan petinggi militer Iran oleh drone milik negaranya Trump. Ya elah… baru juga ganti tahun, udah ancang-ancang mau perang dunia aja. Beruntung hingga hari ini, konflik Iran-Amerika nggak menunjukkan tanda-tanda terjadinya gonjang-ganjing besar yang gimana-gimana.

Apa artinya ancaman bagi keberlangsungan hidup umat manusia sudah mereda? Eits, jangan senang dulu, anak muda.

Sejak akhir Desember 2019, beberapa kota di China geger dengan kemunculan virus yang dinamakan korona, yang penyebabnya sendiri masih nggak jelas karena apa. Penyebarannya cepet, pake banget. Menurut WHO, dari tanggal 31 Desember 2019 sampe 3 Januari 2020, laporan penduduk yang terjangkit penyakit ini baru sekitar 44 orang di Wuhan. Hari ini? Udah ada 82.294 kasus yang melanda 55 negara di seluruh dunia.

“Ya udah sih, nggak usah takut! Di Indonesia kan belom masuk!”

Maaf-maaf aja, kalo soal yang itu, gue nggak percaya. Gimana mau percaya? Negara dengan penduduk sebanyak Indonesia, yang sektor pariwisatanya lagi kenceng-kencengnya, yang hampir seluruh negara tetangganya udah pada terjangkit, kok ya bisa terlewat dari korona? Kita malah larut dalam meme-meme tentang betapa manjurnya Tolakangin, kerokan, dan kebiasaan jajan makanan kotor yang sudah menjadi tradisi mendarah daging bagi warga negara +62. Apa iya, Indonesia bisa sesakti itu?




Jawabannya tentu tidak. Bener aja, belakangan WHO mempersoalkan negara yang kelewat jumawa karena belum kemasukan korona. Setelah ditelusuri juga, beberapa pasien korona yang dirawat dari negara di Eropa dan Jepang punya riwayat transit di Bali atau daerah lainnya di Indonesia. Sementara itu, otoritas pembuat kebijakan malah sering mengeluarkan pernyataan publik yang bikin kepala gue sebagai jelata menjadi tambah pusing, mulai dari “ngatain” hasil penelitian orang Harvard tentang Indonesia yang udah kemasukan korona, penyambutan rombongan wisatawan dari negara asal penyakit ini secarabesar-besaran di Sumatera Barat, rencana mau menggunakan influencer internasionalbuat berwisata di Indonesia di musim korona, sampe yang paling terakhir dan yang paling wadidaw: Indonesia bebas korona akibat doa qunut para ulama.

Allahuakbar
Ya udah lah, kalo begini ceritanya, gue sebagai rakyat jelata mau pasrah sambil merapal doa qunut aja. Semoga kita nggak kenapa-napa.




Tahunnya Kebisingan Jilid 2

Gue pikir, segala kebisingan politik nasional bakal berakhir setelah dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden Terpilih di bulan Oktober 2019 silam, apalagi capres Prabowo yang nggak terpilih di Pilpres kemarin itu secara mengagetkan masuk dalam formasi menteri kabinet yang baru. Yakin nih gue, bakal anteng ini namanya cebong-kampret.

Tebakan gue salah lagi. Nggak taunya, keributan politik masih aja terjadi.
Belum ada satu tahun presiden menjalankan periode keduanya, baik politikus maupun hama-hama politik bernama buzzeRp di media sosial kembali saling sikut untuk mempromosikan jagoannya masing-masing yang diprediksi bakal bersaing di 2024. yang mana masih empat tahun lagi alias masih lama anjeeer. Setiap pihak menyerang pendukung pihak lainnya secara membabi buta dengan melancarkan segala jurus kotor yang dimilikinya, termasuk menyeret ranah arsitektur yang gue yakin betul kebanyakan dari mereka cuma bernarasi kosong.

Satu dari sekian pembicaraan yang paling ribut adalah tentang revitalisasi Monumen Nasional. Oke, gue emang tahu bahwa setahun sebelumnya, dibuat sayembara arsitektural terbuka buat merenovasi interior Monas dan Lapangan Medan Merdeka. Namun, sebagai warga jelata yang nggak paham banget tentang alur birokrasi, hukum, dan pemerintahan, gue cenderung melewati pemberitaan tentang Monas ketika lagi browsing ngisi waktu luang karena nggak mau terseret dalam politisasi isu. Semua berubah ketika gue membaca pendapat seorang politikus yang menyatakan bahwa revitalisasi Monumen Nasional adalah kejahatan lingkungan.

Buset. Ibarat abis makan soto betawi pake emping, leher gue langsung kenceng. Emosi terpancing, gue langsung spaneng. Gue belajar empat tahun di arsitektur, bercengkrama dengan sejarah arsitektur dan modernisme pascakemerdekaan selama tiga tahun, dan sekarang pun masih nambah lagi dua tahun buat melengkapi pengetahuan yang masih cetek ini. Kok ya baru sekarang ini gue denger kalo revitalisasi kawasan landmark ruang terbuka di tengah kota adalah kejahatan lingkungan.

Halo, asalamualaikum??? Apa kabar itu Teluk Benoa yang direklamasi, puluhan penyu di Bengkulu yang mati, dan hutan Kalimantan yang botak-botak dilihat dari pesawat karena digunduli???

Karena merasa penggiringan opini tersebut udah kelewat, gue pun memilih untuk membagikan pendapat dan pengetahuan gue tentang revitalisasi Monas tersebut dalam sebuah utas di Twitter pribadi gue tanpa menyinggung politik. Maaf-maaf aja nih ya, gue sebagai jelata yang memilih jalan ninja di bidang arsitektur udah merasa jijik.



Di luar kebisingan politik, kebisingan lain juga terjadi sepanjang Januari dan Februari ini, mulai dari ditangkapnya sesembak Lucinta Luna yang menggegerkan publik karena narkoba, beberapa RUU yang secara konten kayaknyadibikin secara sembarangan, hingga pernyataan Komisioner KPAI tentang hamil dikolam renang yang sekarang mendunia dan masuk portal berita lebih dari enam negara. Seabsurd itu memang negara kita.




Tahunnya Ketidakpastian

Kelihatannya emang tahun 2020 ini nggak secantik kombinasi dua angka kembar yang menyertainya. Selang dua bulan berjalan, 2020 memberikan banyak kejutan yang lebih banyak negatifnya ketimbang positifnya. Pemberitaannya berisik, nadanya pun jelek semua.

2020 masih nyisa sepuluh bulan dan entah kenapa gue yakin betul kalau bulan-bulan ke depan, kita bakal dihadapkan dengan penuh ketidakpastian. Bentuknya bermacam-macam, bisa dalam skala yang luas seperti kondisi ekonomi (yang naik turun kayak Rupiah dalam seminggu ini dan harga emas yang paling tinggi sejak gue main Pegadaian Digital tahun 2018), geopolitik (yang secara ujug-ujug, Arab Saudi menutup jamaah luar negeri buat umroh ke Tanah Suci), hingga ketidakpastian dalam skala personal seperti peluang karier, kesehatan, jodoh, rezeki, dan sebagainya.

Kalau dipikir secara mendalam, bisa jadi segala kebisingan dan kejadian luar biasa yang gue sebutkan di awal tadi juga merupakan dampak dari sikap manusia yang cenderung serakah dan berlebihan.
Jabodetabek kebanjiran? Faktornya banyak: bisa karena pertumbuhan permukiman yang semakin menggila, padat tanpa menyisakan ruang hijau dan ruang biru, bisa juga karena pemerintah yang kurang gercep buat mengantisipasi curah hujan yang tinggi.

Ribut-ribut Monas? Bisa jadi karena dua penyebab: 1) terlalu menganggap Monas sebagai tempat sakral, padahal sakralnya Monas bukan bersifat ritual, melainkan memori ruang kota yang terus berubah dalam dua abad belakangan; 2) pemujaan yang berlebihan terhadap seorang figur politik, atau malah sebaliknya: karena kebencian yang berlebih terhadap sosok politik. Dua-duanya sampah. Dua-duanya toxic.

Pemerintah yang denial soal korona? Bisa jadi karena sikap para petinggi yang kelewat pede dan terkesan nutup-nutupin informasi, nggak kaya pemerintah negara lain. Duh, jangan sampe ini wabah meledak tiba-tiba kayak di Korea Selatan, deh…

Intinya sih, sebagai rakyat jelata, gue cuma bisa mengingatkan buat kalian yang lagi membaca tulisan ini: sepertinya, cara terbaik untuk menghadapi ketidakpastian adalah dengan cara bersikap tenang, tahan, dan jangan terlalu gampang kebawa emosi. Ibarat judul lagu dangdut, yang sedang-sedang saja. Langkah ini bisa diterapkan untuk bekal menghadapi ketidakpastian hingga sepuluh bulan ke depan:

1. jangan reaktif dan dibawa hati ketika menyikapi kejadian yang melanda sekitar kamu. Tahan, pahami dulu, baru boleh komentar;
2. jangan mudah percaya ketika mendapatkan suatu kabar, baik itu dari media sosial, situs berita, bahkan dari pemerintah itu sendiri. Harus latihan mikir kritis. Elaborasi, jangan asal telen informasi; dan yang terakhir
3. seperti kata Erie Suzan dan Iyeth Bustami, jangan terlalu jatuh cinta karena kalo nantinya berpisah maka hancurlah hati. Huhuhu.


Dah ah, gitu aja. Semoga sehat dan bahagia selalu menyertai kita hingga kabisat berikutnya.
Selamat memaknai tanggal kabisat yang amat langka!

0 komentar:

Posting Komentar