Laman Catatan Perjalanan

Rizki Dwika, S.Ars.

(n) an Architecture-Interiorist. Makhluk Tuhan Paling Bekasi. Menulis, Jalan-jalan, Ber-arsitektur.

Kerandoman & Catatan Perjalanan

#CurhatDong: OOTDedeh dan Kesederhanaan Mamah


2018 adalah tahun kelima keluarga gue menonton acara sahur yang sama.
Yha, sejak meredupnya acara sahur yang diwarnai dengan cikidaw-cikidaw-aweu-aweu selama satu bulan disebabkan pencekalan KPI, aksi tidak senonoh, dan lain sebagainya (sebut saja program Yekaes), keluarga gue mencari acara teve alternatif yang bisa ditonton buat sekadar menemani sahur. Berhubung bokap-nyokap di saat itu adalah pengikut acara Dangdut Academy dan kebetulan MC-nya pun elu-lagi-elu-lagi, pada tahun 2014 keluarga gue pun tertambat pada acara bernama AKSI Indosiar.

Berbeda sama acara sahur yang gue ganyemi di tahun-tahun sebelumnya yang kurang berfaedah, AKSI Indosiar mengedepankan ajang pencarian bakat dai-dai’ah baru yang dipertandingkan selama bulan Ramadan. Masing-masing peserta diberi waktu ceramah selama lima menit, kemudian mereka bakal dikomentari oleh penceramah-penceramah yang udah punya jam terbang di Indonesia, mulai dari Ustaz Subki, Ustaz Wijayanto, Ustaz Al-Habsy, hingga pendakwah favorit gue dari dulu hingga detik ini.
Iya, Mamah Dedeh





Meski gue nggak pernah bertemu langsung dengan Mamah Dedeh, entah kenapa gue merasa memiliki keterikatan batin yang cukup kuat dengan pendakwah yang satu ini. Gimana nggak? sejak gue masuk SMA alias tahun 2008, ceramah Mamah Dedeh di Indosiar selalu menemani keluarga gue sebelum beraktivitas. Soundtrack Mamah dan Aa yang dibawakan grup kasidah Annabawi di rumah gue pun menjadi alarm yang menandakan kalo sekarang udah jam enam pagi. Belum pernah denger? Lihat video yang ini deh, gerakan tangan ibu-ibu pengajian yang saling bertabrakan niscaya bakal bikin elu ketawa sendiri. NIH TONTON DI LINK INI NIH!

Ditemani sebungkus nasi uduk sambil gue masang sepatu dan manasin motor, kami sekeluarga menonton ratusan ibu-ibu yang membentuk formasi lingkaran mengelilingi Mamah Dedeh dan Cing Abdel dengan warna yang gonjreng persis kaya kue-kue di pasar subuh. Rasa-rasanya pagi di keluarga gue seperti belum lengkap kalau bokap-nyokap gue belum sindir-sindiran waktu nonton acara Mamah dan Aa di Indosiar. Rutinitas ini kami lakukan setiap hari, tahun demi tahun, gue keterima di kampus, lulus, hingga sekarang. Terhitung 2018 ini, artinya udah sepuluh tahun keluarga gue mengikuti ceramah doi di televisi.

***



Nggak tahu kesambet angin apa, di awal bulan Ramadan kemarin gue tiba-tiba tergerak untuk mendokumentasikan pakaian Mamah Dedeh di layar kaca setiap harinya. Utas panjang itu gue posting di twitter dan instagram gue dengan label berjudul #OOTDedeh, gabungan antara #OOTD dengan Mamah Dedeh (selengkapnya bisa klik twitter gue untuk mengikuti utasnya dari hari ke hari). Begitu gue cc-in ke Cing Abdel Achrian, pemuja Bubur Palapa yang juga menjadi MC di acara Mamah dan Aa, utas yang gue buat di twitter pun mengundang reaksi yang cukup positif dari pengguna twitter lainnya. Setiap hari selama Ramadan, gue memposting setiap tampilan Mamah Dedeh dengan warna yang cenderung itu-itu aja. Merah, biru, hijau, abu-abu, kuning, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon. Nggak ada yang berbeda dari gamis dan kerudungnya, terkadang yang membedakan cuma lain di warna saja (dan juga asesoris atau bros yang menempel di sebelah kiri). Tampilah yang sederhana, bahkan kalo kata gue kelewat sederhana bagi pendakwah yang memiliki pengikut militan di kalangan ibu-ibu yang tersebar se-Indonesia Raya. 



Nggak ada angin-nggak-ada-ujan, di pertengahan bulan Ramadan ini tiba-tiba gue menemukan video liputan di balik layar ceramahnya Mamah Dedeh yang dibuat secara ekslusif oleh VICE ID dari tab mention di twitter. Video selama 18 menit yang ditayangkan itu memberikan gue berbagai fakta tentang acara Mamah dan Aa yang belum pernah gue ketahui sebelumnya, mulai dari ibu-ibu yang ternyata di-briefing supaya waktu tanya jawabnya nggak salah sebut, latihan gerakin tangan sesuai lantunan lagu nasyid, hingga antrean penonton acaranya yang harus menunggu sampai tiga tahun supaya bisa diundang ke Indosiar. Men, tiga tahun men. Itu diundang pengajian apa namatin sekolah?

Selain memberikan pandangan baru tentang acara Mamah Dedeh, video liputan VICE itu juga membuat gue semakin bertambah hormat pada sang penceramah. Di akhir bagian liputan ekslusif itu, Mamah Dedeh ditanyai pendapatnya soal banyaknya dubsmash, youtube, tiktok, atau video-video parodi ceramah mamah yang ditampilkan dengan dandanan yang alayhum-gambreng. Di luar dugaan, bukannya marah atau bernada tinggi seperti biasanya, Mamah Dedeh malah menyatakan dirinya tidak tersinggung diparodikan anak-anak zaman sekarang. Secara bijak, Mamah Dedeh malah bilang kalo semakin diparodikan, berarti tausiahnya melekat di otak dan artinya ceramahnya berhasil.

Gokil, sikap Mamah Dedeh membuat gue berpikiran bahwa beliau merupakan panutan yang sesungguhnya.

***



Pendapat ini emang nggak populer, tapi sejujur-jujurnya, kelakuan fans yang mendewa-dewakan ulamanya sebagai manusia kayak gini membuat gue sebagai orang seagama yang biasa-biasa aja membuat gue merasa nggak simpati cenderung geli terhadap fenomena di Indonesia yang ramai setahun dua tahun belakangan ini. Belajar tuh dari Mamah Dedeh. Dua kali beliau pernah slip lidah dalam ceramah dan ditegur masyarakat, secara gentle dia meminta maaf dan membuat klarifikasi, bukannya teriak penghinaan lah, penistaan ulama lah, kriminalisasi lah, elah... fans fanatik. Segitunya amat sih ngebelain manusia?

Namanya juga manusia yang nggak sempurna dan punya khilaf, kalau emang salah mah salah aja, kali. Mau bawa nasab keturunan a-b-c-d-e? Lah, anaknya nabi-nabi juga banyak yang nggak beriman kok. Malahan Ratu Inggris yang sekarang disebut-sebut punya nasab yang bisa diteruskan jejaknya hingga ke Nabi Muhammad. Ada yang inget adegan ShahrukhKhan di film My Name Is Khan waktu menanggapi ulama provokatif yang berdakwah diMasjid? Dia mengambil kerikil kecil dan langsung melemparkan kerikil itu ke sang penceramah sambil teriak: setan! Itu setan!

Nah, kalau elu merasa abis dengerin ceramah, kuping lu malah budeg karena diteriakin dan hati nggak menjadi tentram, bisa jadi ulama yang elu hadapi sama dengan apa yang ditemui Shahrukh Khan tadi.

***

Sebagai seorang muslim yang bukan fanatis dan cenderung biasa-biasa aja, Mamah Dedeh membuat gue tertarik untuk mempelajari agama lewat kesederhanaan yang ditunjukkannya. Kesederhanaan yang ditunjukkan Mamah Dedeh bukan sekadar dari tampilannya yang cuma gamis dan jilbab langsung pakai tanpa perlu dililit, diputer, dikombinasi warna, dan lain sebagainya, tetapi kesederhanaan beliau juga ditandai dengan cara dakwahnya. Bukannya meminta dipanggil sebagai Ustazah apalagi Ibu Hajjah, beliau lebih nyaman dipanggil sebagai seorang Mamah—malah sering menyebut dirinya sebagai nini-nini, hal yang sangat berlainan dengan penceramah yang sering gue temukan di pinggiran jalan protokol yang menuliskan gelar sepanjang rangkaian commuter line mulai dari gelar akademis, haji, sampai gelar keagaman lainnya padahal Mamah Dedeh sering berkata kalau Rasulullah SAW aja nggak pernah minta dipanggil Haji Muhammad. 

Mungkin bagi gue, Mamah Dedeh adalah satu dari segelintir penceramah yang kredibel dan gue percaya sebagai panutan di tengah gelombang masyarakat Indonesia belakangan ini yang nggak segan-segan mencampuradukkan agama buat politik praktis semata. (Gue membagikan pendapat gue di bawah ini di twitter dan alhamdulillah mendapatkan respons yang serupa dari sebagian warganet. Oh gini rasanya, hape bergeter terus dapet notifikasi)...




Nggak cuma itu, sekonyong-konyong tadi pagi gue mendapatkan mention dari Cing Abdel di twitter berupa video yang mengagetkan di pagi buta. Ebuset. Sepuluh tahun nonton Mamah&Aa dikasih kecup syar'i sama beliau pulak! Cing, aku mimisan cing!






***

Berani berbicara, berani minta maaf, berani bertanggung jawab dengan omongannya. 
Pertahankan tertawa EHEHEHEU-mu dan sehat selalu di usiamu yang Agustus nanti 67, Mamah Dedeh...
Akhirul kalam, selamat Idulfitri para pembaca dan jamaah semua!
Taqabalallahu minna wa minkum!
Mohon maaf lahir dan batin!

#CurhatDong: O Gini Rasanya Jadi 24



Mulanya, hari-hari berjalan seperti biasa.
Tapi seminggu yang lalu, ketika gue terbangun dari tidur jam tujuh pagi, gue lantas tersadar akan suatu hal.
Anying. Umur sekarang umur gue udah 24.
Seminggu lalu, tepatnya di tanggal 17 adalah hari di mana gue sudah 24 tahun terlahir ke dunia. Ya, sebetulnya ada miskonsepsi mengenai umur di masyarakat kita sih, entah itu disadari atau nggak. Soalnya, hari kelahiran biasanya dianggap sebagai awal dari umur baru, padahal yang terjadi adalah kebalikannya. Hari kelahiran itu sebetulnya merupakan hari terakhir kita berada di usia tersebut. 
Misalnya gini deh. Seorang bayi lahir di tanggal 25 bulan 4. Setelah menjalani kehidupan selama setahun, kemudian keluarganya pun merayakan ulang tahun sang anak yang ke-1. Padahal, secara teori, saat itu umur sang anak sudah berada di dunia yang tubir ini selama setahun dan mulai menapaki kehidupannya yang ke 2 tahun. Dengan demikian, sebetulnya gue kini sudah menjelang usia 25 dan gue sedang menjalani kegalauan umur seperempat abad.
Ketahuilah bahwa fenomena "anjir-bentar-lagi-gue-udah-25" is real, saudara-saudara. Itu bukanlah isapan jempol, suatu hal yang mengada-ada, apalagi dilebih-lebihkan. Kerap kali keputusan-keputusan penting mulai dari karier, pendidikan, jodoh, urusan perduitan, dan lain sebagainya dikeluarkan pada rentang usia tersebut. Gue sendiri mungkin sudah memutuskan pilihan apa yang harus gue ambil ke depannya, yang pastinya nggak bisa gue bocorkan seluruhnya ke masyarakat ramai (karena nggak ada yang peduli juga sih, emangnya gue Nikita Mirzani, ngomong dikit menghebohkan Lambe Turah). Tapi bocorannya adalah... sejauh ini gue nggak kepingin menjalani kehidupan kantoran lagi dan memilih untuk konsisten menjadi pekerja lepas sampai dapet kesempatan buat sekolah.
***

Sebetulnya kerja di kantoran itu kelihatannya emang enak. Gajinya tetap, lingkungan kerjanya jelas, kerjaannya pun jelas karena ada prosedurnya. Selain karena gue bosenan dan nggak betah duduk depan layar komputer selama 10 jam lebih setiap harinya (iya, postur tubuh favorit gue ketika lagi ngerjain suatu desain adalah tengkurep di lantai plus bantal, bukan duduk manis dengan kemeja panjang di kursi kantoran. Udik emang). Tapi, setelah gue menjalani setahunan menjadi budak korporat, gue memilih untuk resign dan mengejar target besar gue sambil menjadi freelancer palugada, apa lu minta, gue ada.
Kerjaan nulis kisah perjalanan secara berbayar, ng-endorse situs perjalanan dengan nulis testimoni sebagai buzzer, ngawasin kerjaan kontraktor di proyek, ngasdos, ngebantu riset dosen, ngedesain dan disuruh ikut koordinasi lapangan ke Surabaya secara cuma-cuma, hingga berkesempatan keliling berbagai kota di Sumatera dan Jawa selama tiga bulanan pun sudah gue lakukan demi keberlangsungan hidup dan dapur di rumah. Selama hampir dua tahun menjadi freelancer palugada, berbagai tawaran dan kesempatan yang mustahil gue terima jika gue menjadi full-timer di sebuah kantor pun satu per satu gue dapatkan. Kedengaran menyenangkan? Kenyataannya, nggak juga.
Namanya juga pekerja lepas, rezeki pun kadang ada yang nyantol, ada yang lepas. Terkadang duit di tabungan mengalami paceklik alias kemarau panjang sampai gue pun gagal panen waktu narik duit di ATM, terkadang ada masa di mana rekening gue bermandikan uang hingga tumpeh-tumpeh, bawaannya ingin lempar-lemparin lembaran Sukarno-Hatta ke muka setiap netizen layaknya Bu Dendy. Iya, siklus per-rekening-an gue sebagai seorang freelancer dalam satu tahun benar-benar nggak jelas. Apalagi masih harus dihadapi dengan kondisi invoice (tagihan jasa kita ke client) yang suka telat cair.
"Hadeh, kalau begini, besok Ara sama Agil makan apa, Abah....."
Masalah itu belum seberapa. Sebagai freelancer, kadang gue kelepasan buat menolak atau menerima suatu pekerjaan mengingat kebutuhan gue dengan lembaran bernama uang.
"Wah, ada peluang ini nih, ambil ah.""Eh kok kedengerannya seru sih. Oke gue gabung.""Oke saya siap, bisa kok kalo kerjaannya tiga bulan doang..."
"Mmmm diterima ga ya"
Eh... Tiba-tiba kerjaan gue dalam sebulan udah empat biji aja... Bidang kerjaannya beda-beda semua lagi.... Aduh ini gimana bagi waktunya.
Begitulah hidupku beberapa bulan ini. Jadi dewasa kok kayanya melelahkan banget ya......
***

Jika menarik panjang waktu ke belakang, emang nggak ada waktu yang mengalahkan betapa enaknya masa-masa SD di mana masalah terbesar yang dihadapi paling banter cuma ulangan MTK dan radang tenggorokan, itu juga gara-gara kebanyakan jajan ciki di sekolah. Nggak ada kata revisi, bayar tagihan itu ini, apalagi masalah client yang kabur dan nggak bayar setelah desain diserahkan. Di tengah tren dedek-dedek berusia wajib belajar di zaman sekarang yang berupaya dengan keras menumbuhkan brewok, tampil dengan dandanan tante-tante, bahkan di sekolahan manggilnya pun udah Papah-Mamah, gue justru ingin melakukan yang sebaliknya.
Ya Allah,... Baim pengen kembali kecil seperti masa-masa yang lalu :(
Beruntungnya, di usia gue yang berjalan menuju angka 25 ini gue masih memiliki muka yang kebocah-bocahan. Bukan berniat sombong, tapi emang gue mau jumawa sebab udah setahun belakangan ini gue sering dikira orang lain lebih muda ketimbang umur yang sebenarnya.

Pertama, di stasiun dan halte busway, gue pernah dipanggil sama Mbak-mbak maupun mas-mas stranger dengan panggilan "Dek".
Kedua, gue pernah dikira mahasiswa S1 sama orang di stasiun yang lagi nyari responden buat kuisioner skripsian-nya.
Ketiga, gue bayar angkot lima ribu, dikasih kembalian dua ribu. Dis-is-fo-real.
Keempat, lebih miris lagi, gue dikira mahasiswa S1 sama dosen yang gue asistenin. Kebayang nggak gimana rasanya?

Bukan cuma tampang aja, kelakuan gue di umur menuju 25 ini pun gue masih melakukan banyak rutinitas yang nggak pernah absen gue lakukan dari sejak kecil.
Jajan batagor, siomay sapu-sapu, pempek KW, telor gulung, segala jenis camilan mecin yang biasa mangkal di depan sekolah atau Pintu Gerbang Kutek, bahkan di usia di mana teman-teman sepantaran gue antusias ngikutin judul serial TV atau Netflix yang rumit, gue justru memilih untuk menghabiskan lebih dari empat jam buat nonton beberapa judul kartun di Nickelodeon atau Cartoon Network dalam sehari semalam, malahan gue masih bisa ketawa ngakak setiap nonton Spongebob maupun Gumball. Gue juga terkadang heran sama kelakuan gue sendiri.  O inikah hikmah dari bermuka bocah? 
***


Teman-teman yang gabut sehingga menyempatkan untuk membaca tulisan yang maha tidak jelas, ketahuilah bahwa tulisan ini memang tidak ada juntrungannya. Janji deh... tulisan setelah ini bakal lebih berfaedah. Tapi, pesan yang ingin gue sampaikan adalah...  persetan dengan usia. Usia hanyalah hitungan deret angka biasa, lebih tepatnya angka-angka yang digunakan oleh para om, tante, budhe, saudara-saudara, bahkan netijen untuk mengglorifikasi pertanyaan "MANA CALONNYA?""EEEEHHH, GIMANA, KAMU KAPAN NIKAH?"

Menjadi dewasa adalah keniscayaan, tetapi bukan berarti kita nggak bisa menikmati hidup yang menyenangkan, tanpa beban, nggak banyak spaneng menghadapi segala problematika kehidupan, sama halnya yang kita jalani sewaktu kita masih anak-anak. Kalo kita bisa menjalankannya bersamaan, kenapa nggak?
Yauda segitu aja ah, mau jajan cilor lagi. Nggak usah kayak netizen rese' yang terus menanyakan kapan-nikah-kapan-nikah deh, kalau ngana nggak ngesponsorin seragam pager ayu dan pager bagus atau bayarin katering. Intinya, mohon doanya supaya rekeningku setahun ke depan diwarnai dengan musim hujan yang deras yha!!!!!!!

#SabdaDwika01: April Apalah-Apalah


(parental advisory: tulisan ini lebih enak dihayati dengan iringan lagu Nella Kharisma - Jaran Goyang)
Assalamualaikum! Sampurasun, wahai pembaca-pembaca edun!
Setelah sekian lama berpisah dikarenakan beberapa faktor yang melanda setahun belakangan ini (baca: kemalasan gue dalam mengisi blog dengan berbagai tulisan nirfaedah, rutinitas belakangan ini sebagai seorang freelancer palugada—apa lu minta gua ada, dan kesibukan gue yang sempat nulis berbayar di situs orang dengan harga menggiurkan tapi sayangnya itu semua sudah berakhir, hiks) akhirnya gue memutuskan untuk kembali menulis di rumah nan sederhana ini.
Ya, kali ini gue pulang ke blog gue sendiri.
2018 masih ngeblog? Ngapain! Nge-vlog keleuz, jadi selebhram, di-endorse suplemen peninggi badan, Youtube-youtube-youtube lebih dari TV-boom!
Hm... untuk yang satu itu sih jujur kayaknya Deva Mahenra kurang berminat. Sori-sori aja, ya.
Bukannya Deva nggak menerima pergeseran zaman, tapi sejujurnya gue masih gagal paham kenapa banyak orang Indonesia yang rela membuang-buang kuota buat mantengin seseorang yang nggak dikenal ngoceh di dunia maya berujar “hello wazzap guyzzz” ke seluruh pemirsanya... Itupun kalo emang ada yang jadi pemirsanya.
Bukan, bukan berarti gue nggak menikmati Youtube. Gue juga menggunakan situs streaming tersebut buat nonton beberapa video dari berbagai channel misalnya re-run Mata Najwa, Indonesia Lawyers Club, ocehannya Pandji, atau Deddy Corbuzier yang mana merupakan entertainer beneran dan punya karya sungguhan di Indonesia. Gue juga menggunakan Youtube buat sesuatu yang kadang kurang ada manfaat bagi umat seperti nonton Fluxcup, Hati2diinternet, mantengin berbagai pertikaian yang videonya viral berkat lambe turah, mulai dari video Bu Dendhy yang menebar duit di depan muka Mbak Nyla Nylala sang pelakor, berita saling sindir antara Via Vallen - Ayu Tingting, hingga yang rame dua minggu terakhir ini: perang urat syaraf-jakun-dan-silikon antara Melly Bradley dan Lucinta Luna yang nggak berkesudahan. Kalo udah merasa lelah dengan apa yang terjadi di Indonesia, biasanya gue bakal melakukan aktivitas berselancar di dunia maya yang paling epik: nonton On The Spot di Youtube...
Yes. I do watching that Youtube-based TV program, directly in Youtube..........
Tapi, beneran deh. Apa serunya sih, nonton orang non-seleb yang memunculkan dirinya di Youtube secara rutin?  Gue masih nggak habis pikir aja, anak zaman sekarang itu kalo ngisi paket bulanan tuh berapa gigabit, sih? Gue aja harus melakukan ritual semedi seharian hanya buat milih paket tilkumsil yang harganya murah tapi paling worth it setiap paket mau abis....
Alhasil, di tengah pergeseran budaya tersebut akhirnya gue memilih untuk bertahan dengan cara lama: nge-blog. Entah kenapa, gue masih percaya dengan besarnya kekuatan tulisan —ya... meski belakangan pembaca blog ini nggak sebanyak beberapa tahun silam. Gue merasa bahagia aja gitu, kalau misalnya gue tiba-tiba dikirim email pembaca (sebut saja begitu) yang menanyakan berbagai hal tentang isi tulisan yang gue buat, terutama tulisan tentang jalan-jalan.
***


Belum lama ini, gue dikirim DM sama seseorang dari sebuah production house TV swasta yang kebetulan mau liputan ke Ho Chi Minh City dan tanya-tanya mengenai apa aja yang harus dipersiapkan saat berkunjung ke sana karena dia membaca blog gue. Ya, ternyata di tahun anjing api ini masih ada aja manusia yang lebih memilih untuk googling dan membaca ketimbang nontonin orang tak dikenal dari layar ponselnya. Gila, seneng aja rasanya bisa berguna buat sesama pejalan.
Berbekal motivasi itu, akhirnya di bulan yang baru ini gue kembali meneguhkan hati untuk menulis di blog sendiri yang kemudian bisa memberi pengetahuan dan inspirasi buat banyak orang. Supaya rajin memperbarui blog di setiap bulannya, gue melakukan empat penyegaran kecil dan besar.

Pertama, blog gue ganti rumah. Platform-nya sih sama, domainnya pun masih pakai domain yang lama setelah tiga bulan ini mati dan nggak bisa diakses lagi. Kali ini, gue mau lebih banyak menulis perihal jalan-jalan dengan sedikit bumbu-bumbu berbau arsitektural —mengingat gue udah diizinkan semesta untuk blusukan ke 17 provinsi dalam tiga tahun belakangan. Tentang pengalaman ngerasain bandara di setiap kota, tips milih merek oleh-oleh yang paling khas di setiap kota, mencicipi makanan setempat yang rasanya lezat, sampai cara terbaik milih seat di pesawat... sayang aja rasa-rasanya kalo gue nggak membagikan pengalaman bodoh yang gue alami sendiri ke pembaca yang lebih luas cakupannya.

Kedua, tampilan layout yang gue gagas pun citarasanya lebih baru dan “agak” profesional ketimbang sebelumnya yang masih dibuat saat gue merasakan kerasnya hidup sebagai mahasiswa. Di tampilan blog yang baru ini, gue juga menambahkan halaman depan yang berfungsi sebagai portfolio online gue sendiri—meski konsekuensinya jadi banyak banget muka gue terpampang besar-besar di laman situs ini. Yhaa... barangkali di antara pembaca yang terjebak di situs nista Rizki Dwika dan kebetulah butuh jasa interior atau renovasi rumah, cincai laa hubungi langsung ke saya. Pesan sekarang! Hari Senin harga naik!

Ketiga, dalam setiap bulannya gue akan mencoba istiqomah menulis setidaknya tiga artikel setiap bulannya dengan tema yang beragam, mulai dari pemikiran random mengenai isu terkini yang menerpa bangsa kita dan heboh di dunia maya, tentang destinasi wisata, catatan perjalanan, dan tips perjalanan yang pernah gue lalui, atau sesekali mengulas objek arsitektur kecil-kecilan seperti fasilitas umum kota yang kehadirannya ada dan dekat di sekitar kita.

Keempat.... silakan kencangkan sabuk pengaman, membuka penutup jendela, melipat atau mengunci meja di hadapan, serta menegakkan sandaran kursi dan segenap awak kabin berseragam gemesh mengucapkan “Selamat datang, selamat menjelajah rumah Rizki Dwika yang satu ini!”
Dengan mengucapken basmallah seraya memotong tumpeng dan sembelih kerbau, bersama dengan Pak Harto dan istri, secara resmi, saya memutusken, meresmiken kembali blog penuh ketidakseriusan ini dan ditujukan untuk kepentingan umum. Woo-hoo!

@rizkidwika

rizkidwika

Bekasi-Jawa Barat