Laman Catatan Perjalanan

Rizki Dwika, S.Ars.

(n) an Architecture-Interiorist. Makhluk Tuhan Paling Bekasi. Menulis, Jalan-jalan, Ber-arsitektur.

Kerandoman & Catatan Perjalanan

#Ngarsiteg: Menakar Al Safar



Semula, gue nggak tertarik berkomentar tentang hal ini. Tapi sebagai orang sarjana arsitektur sekaligus penikmat sejarah arsitektur sejak 2011, rasa-rasanya gue punya tanggung jawab moral buat ikut membagi pengetahuan yang gue miliki. Nggak banyak, karena gue nggak bermaksud menggurui dan menjelek-jelekkan suatu kelompok. Gue hanya merasa semakin jengah dengan isu yang diembuskan mengenai bentuk-bentuk segitiga di Masjid Al Safar karya Ridwan Kamil.

Tulisan ini ditujukan untuk belajar bersama. Buat yang hati dan pikirannya masih bawa-bawa cebong-kampret, Jokowi-Prabowo mending nggak usah baca. Seneng amat sih perpecahan. Enough is enough.

***

Oke, mari kita serius dikit.
Senin kemarin, Ridwan Kamil mengadakan acara diskusi publik yang cukup ramai, di mana doi “disidang” terkait masjid yang dikait-kaitkan dengan iluminati, penyembah dajjal, apalah-apalah itu. Dari acara tersebut, gue berkesimpulan. Semua ini bermula dari persepsi orang. Ada masjid, dipakai orang buat salat, terus orangnya mikir, lho ini kok nggak kaya masjid biasanya ya? Lalu dia menerjemahkan apa yang dia liat itu dengan pengetahuan atau memori yang dia punya, eh terhubunglah dengan illuminati.

Apa orang yang berpersepsi kayak gini salah? Menurut gue nggak sepenuhnya salah.
Seperti yang kita ketahui, negara kita sejak booming internet tahun 2000-an udah kenyang ama dikit-dikit Yahudi, dikit-dikit Iluminati. Buku-buku berbau tema Dajjal di masa itu laris di toko buku. Bahkan nama "Pokemon" yang artinya "saya yahudi" aja masih banyak yang pada percaya beberapa tahun silam.

Kenapa gue beranggapan kalo orang yang memiliki persepsi ini nggak sepenuhnya salah: Manusia itu makhluk simbol. Mata lihat sesuatu, diproses di otak, coba diterjemahin "ini tuh apa ya?" Otak pun bakal ngerespons, me-recall memori yang sudah kita ketahui sepanjang hidup. (keyword: Semiotika) Contoh kasus: nih, menurut lu ini kek apa?


Ini adalah kantor di China. Bikinan Rem Koolhaas, arsitek kenamaan dunia. Menurut gue bangunan ini mirip kayak celana jeans. Tapi ada juga orang yang kritik kalo gedung ini kayak pose orang lagi memberaki Kota Beijing. Sedangkan gue beranggapan gedung itu kek celana jeans karena punya dua "kaki". Ada yang punya persepsi lain? Bebas, berpersepsi siapa yang larang? Adalah hak setiap orang untuk punya anggapan dan membagikan pendapatnya.




Di arsitektur, yang namanya elemen bangunan, dekorasi, apapun itu, selain punya aspek fungsi juga bisa jadi simbol atau bahasa untuk mengirim pesan. Tapi bisa juga nggak, karena ini bukan hal yang wajib. Yang penting fungsi & kekuatannya dulu. Sebagai simbol, itu belum tentu. Bisa jadi perancangnya sengaja nggak ngasih tendensi apa-apa lewat karyanya. Sederhananya gini. Lihat desain halte di bawah.


Dari foto, halte tersebut sengaja dipasang ornamen gigi balang Betawi. Dari tempelan tersebut, kita langsung bisa menerka, oh ini pasti fotonya diambil di Jakarta. Bayangin kalo tempelan gigi balangnya hilang, agak susah untuk menebak pesan dan lokasi di mana halte itu berada. Di situlah peran sebuah elemen arsitektur bisa mengomunikasikan bahasa atau pesan tertentu ke orang yang ngelihat. Elemen tadi (sebagai simbol) diterjemahkan menjadi pesan, lalu dipersepsikan oleh orang yang melihatnya. Nah, memiliki persepsi apapun terhadap karya arsitektur itu nggak ada yang larang. Yang jadi masalah adalah itu ngomporin masyarakat dengan isu ini, lalu dipake buat membunuh karakter/karir politik seseorang.

Yang kek gini nih baru bisa disebut Dajjal, sejahat-jahatnya makhluk pembuat kerusakan.



Kembali ke soal masjid
Kenapa sesuatu bisa kita anggap aneh? Karena apa yang kita lihat berbeda dengan pengetahuan yang kita punya. Pun dengan masjid Ridwan Kamil yang dianggap aneh karena berlainan dengan kebanyakan masjid yang ada di sekitar kita: yang sering disempitkan harus ada menaranya, kaligrafinya, kubah besar, ornamen bulan dan bintang di puncaknya kalo perlu. Apakah yang namanya mendesain masjid itu ada aturannya? Jawabannya, sama sekali nggak.

Correct me if I'm wrong, tapi nggak ada ayat di dalam Alquran yg menyatakan bahwa membuat masjid harus ada ini, anu, ono, dan itu. Masjid punya satu akar kata dengan sujud. Yang diatur berdasarkan hadits justru adalah tempat-tempat yang dilarang untuk melakukan salat (di kamar mandi, tempat yang najis, dst).

Gimana masjid di zaman nabi sendiri? Masjid pertama yang dibikin Rasulullah adalah Masjid Quba. Quba bukan diambil karena punya Kubah, tapi karena lokasinya di Quba, selatan Madinah. Masjid ini dibangun sederhana. Empat dinding segiempat dengan material batu campuran tanah, atap pelepah kurma, serta sumur untuk mengambil wudhu. Nggak ada sejarahnya sahabat nabi ngecor beton bikin kubah.

Masjid Quba hari ini adalah hasil serangkaian renovasi yang dilakukan di masa setelahnya. Bangunan Masjid Quba yang semula sederhana itu diperbesar. Ditambahin menara untuk tempat mengumandangkan azan, ditambahin mihrab sebagai tempat imam melakukan salat, ditambah ini, itu, anu, baru deh kubah.



Asal Muasal Struktur Kubah
Apakah kubah itu diciptakan oleh umat Islam? Menurut sejarah, bukan. Bangunan berbentuk kubah itu sudah ada jauh sebelum Rasulullah menyampaikan Islam di jazirah. Treasury of Atreus di Yunani. Dibangun sekitar 1250 SM. Strukturnya dari batu bertumpuk dan bentangan kubahnya mencapai 14.5 meter.


Pengetahuan membangun kubah (dome) ini pun diteruskan dari Yunani Kuno ke Romawi. Mereka terobsesi buat menghasilkan bangunan megah yang punya diameter kubah yang semakin lebar. Titik kejayaannya adalah saat mereka berhasil membangun Pantheon (tahun 125 M) yg punya diameter 42 meter. Bayangin, hampir selebar Istiqlal!



Semula kubah-kubah ini dipake buat bangunan penting seperti tempat pemujaan dewa-dewi. Setelah masuknya Kristen, kubah pun menjadi salah satu struktur yang lazim muncul di gereja-gereja besar di Eropa. Bermula dari Yunani, diterusin Romawi, lalu Bizantium (Romawi Timur) dan salah satunya adalah Hagia Sophia yang berubah fungsi menjadi masjid di era Ottoman Turki (yang bahkan masih menyisakan berbagai lukisan mozaik gereja dan masih ada sampe sekarang.





Kapan Islam mengenal kubah?
The Arabs built mosques or adapted local religious structures such as churches in the lands they conquered; however, for most of the 7th century, they were satisfied to have flat-roofed structures recreating the flat-roofed mosques of Medina and Mecca. The first domed building constructed by the Arabs was the Dome of the Rock in Jerusalem (691). Since the use of wood in domes had been shown to be very practical in churches, timber was used in the Dome of the Rock. It made the structure lighter and more flexible but had to be covered with copper or lead to protect it from the weather. The use of small domes in Fatimid mosques in Egypt apparently was adopted from examples in the Maghreb. The dome became the dominant feature for mosques, although it was also used in palaces, in particular over audience chambers, and in other places such as schools, and hamams.
Selanjutnya, baca di sini.

Sementara Eropa lagi bermegah-megahan membangun gereja berkubah beton, bangunan bangsa Arab di masa itu sederhana. Dinding batu/campuran lempung, atap datar atau dari pelepah daun. Rumah-rumah model gini lazim ditemui di Timur Tengah sampe sekarang karena memang sesuai iklim: jarang ujan, siang panas, malem dinginnya ekstrem. Bangunan yang ada di sana keliatan sederhana bukan karena peradabannya yang ketinggalan ketimbang Eropa, tapi lebih praktikal aja. Lagipula, material itu sangat mudah ditemukan di Jazirah.



Sepeninggal nabi, mulailah kekhalifahan memperluas wilayah hingga nyampe ke tanah Yerusalem, kota suci tiga agama. Karena pengetahuan membangun bangsa Arab di masa itu nggak semaju Eropa, khalifah-khalifah ini pun memakai jasa "arsitek" Romawi buat membangun dan renovasi. Salah satunya, Dome of Rock yang semula kubahnya berbahan dari kayu, kemudian direnovasi hingga seperti sekarang.



Arsitektur Islam di Luar Timur Tengah
Selain memperluas wilayah di Timur Tengah dan Afrika, Islam juga menyebar ke belahan bumi lain antara lain lewat pedagang maupun utusan. Tujuannya berdagang, atau kalau betah ya berbaur dan tinggal di sono. Berbeda dengan bangsa Eropa yang terang-terangan membawa misi Gold-Glory-Gospel. Mereka pun nggak bawa pengetahuan arsitektur Timur Tengah yang mereka miliki.

Ini Masjid Huaiseng di Guangdong China. Masih ada sampe sekarang. Dibangun abad ke-7 Masehi oleh Saʿd ibn Abī Waqqās, sahabat Rasulullah yang memimpin penaklukan Persia, lalu membawa Islam ke China. Berasa kubahnya? Boro-boro. Bentuknya kek bangunan yang sering kita liat di film Sun Go Kong.



Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ada tiga teori asal usul masuknya Islam ke Indonesia. Ketiganya bisa benar, bisa juga salah:
1.Dari Gujarat India (1300 M)
2. Dari Persia (1300 M)
3. Dari Mekkah langsung di abad ke-7 lewat utusan khalifah. Bahkan sebelum tahun 700 ada catatan bahwa sudah ada permukiman muslim di Pantai Barus Sumatera. Apa saat itu sudah ada masjid? Belum ada catatan yang sahih. Sejauh ini, setahu gue, ada empat masjid tertua yang ada di Indonesia dan bentuknya beda jauhhhhhhh dengan yang ada di Guangdong dan juga di Timur Tengah.


Masjid Saka Tunggal Banyumas (1288)
Masjid Wapauwe (1414)
Masjid Ampel (1421)
Masjid Demak (1479)

Menurut gue, inilah keunikan Islam yang masuk ke wilayah baru: universalitas. Arsitekturnya mudah beradaptasi dan nggak memberatkan, termasuk dalam mendirikan tempat ibadah. Di iklim ekstrem Timur Tengah bangunannya beradaptasi dengan iklim, tantangan alam, dan ketersediaan bahan material yang ada di sana. Di China juga demikian, di Nusantara pun demikian. Substansinya adalah yang penting wudhu, menghadap kiblat, dan tempatnya sah dipake salat.

Contoh lain betapa adaptifnya masjid di agama Islam adalah Masjid Samarra yang berada di Irak. Masjid ini dibangun pada tahun 848 (di saat yang sama, kita baru aja kelar membangun Borobudur). Bentuk spiralnya ini terinspirasi dari Menara Babel di peradaban Mesopotamia yang hidup di tanah itu sebelumnya. Masjidnya menggunakan arsitektur setempat dengan material yang gampang ditemuin di sana.




Masjid-masjid Indonesia Prakemerdekaan
Di saat yang sama, moyangnya Indonesia juga punya pengetahuan membangun yang berlainan dengan kemampuan berarsitektur orang Timur Tengah, China, maupun Eropa. Kita tinggal di area hutan hujan tropis. Kalo hujan gede banget, kalo siang bisa panas banget. Belum lagi tantangan alam seperti banjir, gempa, gunung berapi, tsunami, dan hewan buas. Alhasil moyang kita punya ilmu tersendiri untuk membuat bangunan, salah satunya adalah di bagian atap di mana umumnya atap rumahnya besar-besar biar nggak panas kalo siang, posisinya harus miring (biar hujan nggak ketampung) dan umumnya menggunakan batang kayu dan daun ijuk atau rumbia karena mudah ditemukan di hutan.




Dengan pengetahuan kuno tersebut, masjid di Nusantara pun dibangun dengan menggunakan pengetahuan serupa, yang awam kita kenali. Kebayang nggak kalo misalnya ada aturan dari khalifah tertentu bahwa masjid di masa itu harus pake batang pohon sama pelepah daun korma? Masa iya harus ngimpor korma duluan dari Timur Tengah untuk membangun masjid? Buset salatnya kapan...

Indonesia baheula masih didominasi oleh Hindu-Buddha (yang masuk dari luar Nusantara, lalu bercampur sama tradisi Austronesia yang moyang kita punya). Arsitekturnya pun beradaptasi. Hal yang membedakan rumah penduduk dengan bangunan suci di masa itu adalah ukuran dan materialnya. Rumah penduduk umumnya kayu, sedangkan bangunan suci dibuat dari batu (atau atapnya dibedain, biasanya menjulang).

Prinsip ini ada di banyak kepercayaan. Orang-orang Austronesia percaya makin tinggi tempat, maka makin suci (dan makin makbul untuk berdoa). Itulah kenapa kita bisa menemukan punden berundak di bukit-bukit, salah satunya Gunung Padang Cianjur. Nggak cuma letaknya aja, atap rumah ibadah yang dibuat tinggi juga dipercayai bisa mengantarkan doa lebih cepet ke langit: misal atap Katedral, Pagoda, Pura di Bali, dll.


Situs Megalitikum Gunung Padang
Tipikal Atap Katedral
Masjid Rao Rao di Tanah Datar Sumbar, 1924

Masjid-masjid era awal di Nusantara pun mengadaptasi pengetahuan membangun yang udah kita punya ini. Ini adalah beberapa gambar masjid pertama yang ada di Indonesia. Lazim di masanya, sekaligus cara menarik minat warga untuk mendekat, mempelajari, kemudian pindah Islam. Bahkan DNA masjid ini juga tersebar di Asia Tenggara lainnya. Bangunannya no kubah-kubah seperti Eropa dan Timur Tengah.



Masjid Menara Kudus
Masjid Samalanga Aceh
Masjid Gede Kauman Jogja
Masjid Jepara Jawa Tengah
Masjid Minangkabau
Masjid Telok Manok Thailand
Masjid Kampung Kling Malaysia

Penggunaan kubah untuk bangunan berbau Islam di Indonesia baru terjadi tahun 1880. Istana Maimun Deli, arsiteknya Theodoor van Erp. Iya, orang Eropa. Untuk menghasilkan sebuah istana untuk Kerajaan Islam, jadilah dia mencampur-campurkan aliran yang dia ketahui, mulai dari menyomot nuansa Turki, Cordoba, juga Eropa. Strategi ini dia pake lagi ketika disuruh lagi membangun Masjid Raya Medan (tahun 1906).


Istana Maimun Deli
Masjid Raya Medan

Sedangkan masjid berkubah pertama muncul 1879 di Banda Aceh oleh Belanda. Iya, lagi-lagi Belanda yang bangun. Secara singkatnya, Aceh punya masjid sejak 1612, terlibat perang sama Belanda tahun 1873, masjidnya dibakar. Jenderal Belanda pun menjanjikan masjid pengganti sebagai permintaan maaf. Arsiteknya yang ditunjuk siapa? Gerrit Bruins. Orang Belanda. Karena pengetahuan orang Belanda terhadap Islam terbatas, dia menggunakan gaya Mughal India (ala-ala Taj Mahal), kemudian dibuatlah masjid berkubah pertama di Indonesia, diperluas, jadilah Masjid Baiturrahman seperti hari ini.


Lukisan Aceh beserta masjidnya di abad ke-18
Masjid Raya Banda Aceh yang baru
Masjid Baiturrahman sekarang

Setelah Masjid Baiturrahman dan Masjid Raya Medan, hingga mau kemerdekaan nggak ada catatan kalo ada pembangunan masjid yang menggunakan kubah. Malah Wolff Schoemaker, arsitek mualaf domisili Bandung merancang Masjid Cipaganti (1933) yang atapnya malah "Nusantara" banget.

Dengan demikian, Islam bukanlah yang pertama menggunakan kubah sebagai atap rumah ibadah di Indonesia. 1787-1794, Gereja Blenduk di Semarang sudah menerapkannya. Bahkan kalo stupa bisa diitung, agama Buddha duluan-lah yang menggunakan kubah. 


Gereja Blenduk, duluan ngubah ketimbang yang lain

Sampai sini sepakat dulu: 1. Kubah bukanlah kewajiban dalam arsitektur masjid, bukan pula monopoli suatu agama; 2. Islam punya keunikan tersendiri yakni universalitas dalam tempat ibadah. Bentuknya bisa beragam tergantung kondisi alam, letak geografis, kultur, dkk. selama terpenuhinya syarat sah untuk salat.

***


Masjid-masjid Indonesia Orde Baru dan Orde Lama
Abis merdeka di tahun 1945, pembangunan masjid penting berkubah setidaknya ada dua. Keduanya di Jakarta, yakni Masjid Istiqlal dan Al-Azhar Kebayoran Baru. Istiqlal menggunakan kubah karena Sukarno mau menunjukkan superioritas Indonesia ke dunia, bisa bikin masjid yang kokoh untuk berdiri ratusan tahun. Sedangkan Al-Azhar mengikuti apa yang lazim di Timur Tengah.



Masjid Istiqlal saat dikonstruksi
Masjid Al-Azhar Blok M

Di era Sukarno juga, muncul juga gagasan baru: masjid modern yang antikubah. Masjid ini disetujui langsung oleh Sukarno. Masjid itu Salman ITB, dirancang oleh alm Achmad Noe'man yang dijuluki arsitek 1000. Menariknya, beliau nggak pake cara Timur Tengah, nggak juga pake cara Nusantara. Beliau menggunakan prinsip arsitektur modern yang berkembang di abad 19 di Eropa. Masjidnya nggak berkubah, mengutamakan penghitungan rasional, komposisi geometri kubus yang sederhana, dan satu lagi: diusahakan supaya ruang utamanya bisa tanpa tiang di tengah-tengah. Prinsipnya gampang: fungsi. Ngapain lu capek-capek ngabisin duit, kalo begitu aja udah bisa ngasilin bangunan yang pas?


Masjid Salman ITB

Yang patut di-highlight: waktu mendesain Masjid Salman, dia mengutip 2 ayat dalam Alquran. Pertama: Q.S. Al-Baqarah ayat 170. Lewat ayat ini, dia mencoba mendobrak stereotip bahwa masjid harus kayak di Timur Tengah atau kayak Masjid Demak. Terjemahannya baca di sini.

Kedua, Q.S. Al-Isra ayat 27, “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” Ini yang menurut gue makjleb dan membuat kita harusnya berpikir ulang. Ini pas banget untuk dijadikan acuan sebelum membangun masjid. Karena di lingkungan kita masih banyak yang mengeluarkan ratusan juta hanya untuk kubah, berlomba-lomba membangun masjid yang megah, padahal bermegah-megahan dalam membangun masjid adalah ciri-ciri kiamat besar menurut hadits.


 Masjid tipikal YAMP yang diduplikasi di 999 titik

Masuk era Soeharto yang berpikirnya ala raja Jawa banget, lewat Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) beliau membuat masjid tipikal buat dibangun di pelosok negeri. Totalnya nggak kurang dari 999. Inspirasinya Masjid Demak. Jadi kalo kita salat di pedalaman Sumatera kek, Sulawesi kek, ketemunya bakal atap beginian lagi.

Jadi, kalau dirangkum, menurut gue periodisasi masjid di Indonesia kurang lebih gini: 
•Masjid awal Islam: adopsi arsitektur lokal atau Hindu Buddha (~1900)
•Masjid kubah: diperkenalkan oleh Orang Belanda (1900)
•Masjid arsitektur modern: era Sukarno (1945-1965 an)
•Masjid Jawanisasi: era Soeharto (~1998)



Masjid-masjid Indonesia Pascareformasi
1998, Soeharto turun karena Reformasi, lantas apa yang terjadi? Kebebasan berekspresi. Bukan cuma berpolitik aja, orang-orang pun nggak takut lagi bikin masjid yang tampilannya bukan Masjid Demak. Kubah-kubahan pun mulai membumi. Bahkan Masjid Agung di berbagai tempat mulai ganti atap. Sebagai contoh: Masjid Raya Bandung.


Transformasi Masjid Raya Bandung

Setelah Reformasi gue pribadi melihat ada tiga aliran desain masjid yang semuanya berjalan paralel: 1. Demam Timur Tengah yang bermegah-megahan dengan kubah besar; 2. Masjid yang mencoba menjembatani antara warisan lokal & kekinian; 3. Masjid Kontemporer yang desainnya kekinian banget.



Masjid Demam Timur Tengah biasanya memiliki kubah lebih dari satu, penuh ornamen ramai, kalau perlu diwarnain emas (bahkan pake emas asli biar maksimal). Sebut saja misalnya Masjid Dian Al Mahri Depok.



Masjid Lokal x Kekinian, biasanya mencoba membawa bentuk/teknik yang dimiliki Nusantara untuk dikombinasikan dengan teknologi/pengaruh dari luar. Misalnya di bawah ini yang kontemporer tapi terasa lokal (misal Masjid Agung Jawa Tengah). Meski ada kubahnya, tapi di bagian bawah dan dalam mengadopsi struktur atap tajug (joglo).



Masjid Kontemporer, termasuk si Al Safar ini sendiri. Eksplorasinya bebas karena tidak ada pakem desain tertentu yang harus diikuti, plus nggak mesti mengangkat budaya lokal.

Dari ketiganya, secara arsitektur, mana yang bener? Menurut gue nggak ada yang bener dan yang salah. Selama prinsip atau esensi yang dibahas tadi dipenuhi: disediakan area wudhu, pembagian area cowok-ceweknya jelas, orientasi menghadap kiblat, safnya lurus dan menerus, suci bebas dari najis, bebas dari gambar figuratif hewan/manusia/patung sesembahan, dan (sesuai pendapat Alm. Achmad Noeman) nggak boleh boros dan mubazir. Mirisnya, disadari atau tidak, poin terakhir seringkali kelewat di masyarakat kita. 

***


Menakar Al Safar
Bagian ini adalah pendapat pribadi yang berangkat dari kuliah A-Z yang gue sampaikan di bagian sebelumnya. Masjid Kang Ridwan Kamil menurut gue secara arsitektural memenuhi syarat masjid. Kenapa?


Pertama, masjid ini nggak ada tiangnya. Dari ujung ke ujung, saf jamaah bisa nyambung tanpa terputus. Sering kan lu ngerasain Jumatan tapi sebelahnye tiang. Mana melingker pula, disenderin juga nggak enak.

Kedua, elemen-elemen ruang yang dipasang nggak berlebihan. Lantainya polos dan fungsional, dibedakan dua warna yang dipake sebagai garis saf jamaah. Kelihatan nggak ada corak marmer heboh sesuatu yang membuat kita mikir pas lagi salat: ini kok lantainya kek siluet muka beruang ya?

Karpetnya juga gitu. Masih banyak masjid yang make karpet heboh gambar masjid alaiyumgambreng yang malahan membuat kita yang lagi salat jadi nggak fokus. Ngebayangin rupa macem-macem sambil nunggu bacaan imam. Sepele, tapi bisa mengganggu kekhusyukan.


Selain itu, kaligrafi dinding juga dipasang di lokasi yang pas. Setinggi mata manusia. Bukan di kaki, bukan juga di atap sampe bingung bacanya gimana. Ruang kaki digunakan untuk diffuser AC. Biar kalo solat nggak gerah. Jelas, berguna banget.

Ketiga, hemat energi dan nggak boros listrik. Pas siang hari, general lighting bisa masuk dari celah di atas dan dari mihrab. Cahaya di kaligrafi dipasang untuk estetika, makanya warnanya dibedain yakni kuning. Sejalan dengan ayat Al-Israa di atas.

Sekarang masalah yang paling seksi, bagian mihrabnya yang berbentuk segitiga dan dijudge sebagai lambang penyembah Dajjal. Oke, jadi begini. Gue bukanlah expert dalam illuminati apalagi gelar gue itu S.Ars., bukan S.Dajj., tapi menurut artikel wiki dan sumber kutipannya ini, lambang All-seeing-eye, Eye of Providence, alias segitiga si mata satu ini muasalnya dari kepercayaan Mesir, Kristen, dan beberapa kepercayaan lainnya. Sedangkan di Islam nggak ada riwayat yang menceritakan penggambaran bentuk segitiga bermata satu, yang ada hanya kisah tentang Dajjal di akhir zaman. Silakan disampaikan kalo ada dalil tentang larangan segitiga, takutnya gue yang fakir ilmu ini nggak tahu. Lagipula, emangnya kalo segitiga berarti dajjal?

Plis lah. Kita tau geometri dasar itu cuma sedikit. Persegi, persegi panjang, lingkaran, segitiga, jajargenjang, belah ketupat. Oleh cendikiawan Islam dan seniman pertengahan, mereka bermain gimana caranya geometri dasar itu diotak atik. Nggak gampang, pake rumus. Jadi, kalo Eropa punya gereja megah dengan lukisan-lukisan tentang kitab agama mereka, di masa yang sama, Islam (di Timur Tengah) punya ekspresi keindahan yang sama. Karena ngelukis haram, disalurkan lewat warna dan geometri. Hal tersebut udah dilakuin seribuan tahun lalu, masa iya kita berjalan mundur gara-gara beginian? Plis lah.

Ragam lukis di dinding dan atap gereja di Eropa
Contoh ornamentasi yang ada di masjid di Iran

Lantas, seperti penjelasan di awal, apakah kubah itu Islam? nggak lah, orang Yunani duluan yang nemuin. Apakah atap tumpuk tinggi itu Hindu? Loh, Pagoda China gimana? Kalo segitiga, pasti dajjal! Dari mana ceritanya? Bentuk geometri yang terbatas jumlahnya itu dipake banyak peradaban di seluruh dunia, alias yang make bukan cuma lu doang kali.

Segitiga bukanlah melulu kuil penyembahan Dajjal dan sebagainya. Bentuk geometri ini lazim ditemukan, bahkan udah lama dipake di masjid-masjid. Lalu kenapa yang satu ini jadi trending topic?


Masjid Faisal Pakistan (1987)
Masjid Raya Batam dengan fragmen-fragmen segitiganya
Masjid Agung Palembang. Kurang piramid apalagi coba?

Moyang kita pun nggak alergi dengan bentuk geometri tertentu. Ini hayuk, itu hayuk. Yang menjadi pembeda di arsitektur kita (terutama untuk bangunan masjid) setelah masuknya Islam: di Islam dilarang membuat hiasan berupa makhluk hidup (hewan/lukisan real wajah manusia). Makanya seniman Islam sedari dulu bermain dengan geometri dan kaligrafi.

"Loh tapi kok di masjid kaligrafinya ditaroh di lantai selevel kaki?? Menista?"
Coba perhatiin jarak sajadah imam dengan kaligrafinya. Jaraknya jauh. Kenapa ditaroh di situ, karena massa bangunan geometri lancip menyisakan ruang mati (yang useless). Makanya ditutup kaligrafi.

Mihrab Masjid 

"Nah itu ornamen gantungnya kenapa di tengah???? Kenapa juga bulet??? Biar kaya mata???"
Gusti nu agung... Yang digantung itu kaligrafi. Bukan mata satu. Dipasang di tengah biar simetris. Soal bentuk bulet, gue perhatin Ridwan Kamil emang punya signature dengan bola bulet-bulet.


Bollard di Jalan Riau, Bandung
Interior Museum Tsunami Aceh


Ridwan Kamil udah menjelaskan langsung ke publik. Beban moral gue buat berbagi pengetahuan dan berpendapat sesuai keilmuan pun udah kelar. Terus apa?

Kesimpulan dari gue: hentikan gorengan-gorengan yang nggak perlu. Gue pribadi kalo boleh ngasih saran, mungkin bandul kaligrafi yang di atas bisa dicopot saja atau bentuk mihrabnya dimodifikasi sedikit. Bukan soal kalah atau menang argumen, tapi lebih ke mengakomodasi masukan masyarakat, apalagi terkait apa yang mereka percayai (dengan segala yang dipersepsikan manusia). Semoga saja mereka bener-bener karena resah beribadah, bukan karena beda pilihan politik dan ingin mematikan karir politik seseorang.

Sekali lagi, ini bukan tentang cebong-kampret, Jokowi-Prabowo, dst. dst. Jangan saling menggoblok-goblokkan satu sama lain dengan makian yang kotor. Gue capek, mau hidup damai. Gue nulis beginian karena punya tanggung jawab untuk bercerita dan nggak cuma diem liat betapa berisiknya minggu ini. Buat yang autonuduh gue sebagai kecebong, maaf aja. Baca ini dulu sebelum kebanyakan nuduh.

"Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa" - Al Maidah:8


Tulisan ini memang jadi kelihatan aneh karena buset, tumben-tumbenan ini orang yang kontennya biasanya absurd dan bechanda terus tapi ujug-ujug nulis topik serius, apalagi bertaburan ayat gini. Tapi beneran deh. Segitiga-segitiga yang dijadiin polemik ini lama-lama nggak baik. Sebagai orang yang kebetulan paham karena mendalami sejarah arsitektur dan juga menjadikannya profesi, gue merasa perlu untuk menceritakan ini supaya membuka pikiran orang banyak. Jangan terjebak sama simbol dan melupakan substansi, misalnya satu aja: lebih penting mana coba, ngurusin mihrab yang dituduh-tuduh illuminati padahal arsiteknya udah berkali-kali klarifikasi, atau melupakan esensi sahih tentang larangan boros dan bermewah-mewahan dalam membangun masjid?

Kalo ada circle dekat kita yang memposting dan menuduh-nuduh soal iluminati, jangan elu nyinyirin balik pake logo tepung segitiga biru, toblerone, kue awug, atau gambar nasi tumpeng. Jangan. Cukup lu kasih tulisan kayak gini saja, sambil doain dalam hati supaya mau terbuka pikirannya.

Berpersepsi dan waspada terhadap sesuatu itu boleh, baik, dan hak semua orang. Tapi jangan lupa: harus dimulai dengan berprasangka baik, berlaku adil di pikiran, dan disertai pengetahuan yang luas. Jangan menuduh dan menggiring isu ke sana-sini dengan trengginas. Seperti kata orang: adab dulu, baru ilmu.



@rizkidwika
admin -Arsiteg!- di LINE dan penulis buku A-SH*T-TORTURE.



***
referensi utama:
^ Ching, Francis D.K., Mark Jarzombek, and Vikramaditya Prakash. A Global History of Architecture. Print.
^ Nas, Peter M. Masa Lalu dalam Masa Kini Arsitektur di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009.^ Pusat Dokumentasi Arsitektur. Tegang Bentang: 100 Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012. 

^ Tjahjono, Gunawan. Indonesian Heritage: Architecture. Singapore: Archipelago Press, 1996.

@rizkidwika

rizkidwika

Bekasi-Jawa Barat