Laman Catatan Perjalanan

Rizki Dwika, S.Ars.

(n) an Architecture-Interiorist. Makhluk Tuhan Paling Bekasi. Menulis, Jalan-jalan, Ber-arsitektur.

Kerandoman & Catatan Perjalanan

#SabdaDwika: Ta'kenal Maka Ta'aruf



Halo, Netijen!
Mon maap, gue memilih nggak menggunakan Yutub dan membuat video pengakuan ala-ala dikarenakan gue nggak mahir ngedit video, kurangnya peralatan, dan nggak tega membuat kuota kalian terbuang sia-sia hanya untuk mengetahui Nicsap itu siapa. Tapi semoga pesannya bisa tersampaikan lewat tulisan ini.

Nggak ada angin, nggak ada ujan, dan tanpa tedeng aling-aling, dua minggu yang lalu sebuah pesan broadcast tersebar dari akun line -Arsiteg!- yang konon dikirim langsung oleh Nicholas Saputra. Pesan itu berisi sebuah link instagram yang kemudian membongkar siapakah sosok Nicsap dan apa yang mau diumumkannya lewat dunia maya.

Gue yakin beberapa dari kalian bergumam, "paan sih neh tahun baru udeh ganggu aje".

Nggak taunya, dalam waktu yang nggak nyampe sejam engagement yang masuk ke instagram -Arsiteg!- pun lumayan gede, di mana setiap stories yang diupload dilihat minimal sama enam ratus orang. Ternyata stories itu menceritakan tentang sebuah project buku yang baru aja selesai diterbitin oleh sama Nicsap sang admin akun -Arsiteg- dan beredar di Gramedia se-Indonesia.
Dan ternyata… sosok Nicsap itu adalah gue sendiri.

Perkenalkan. Nama gue @RizkiDwika (klik aja kalo mau kepoin profil dan CV-nya, trims), aktor intelektual di balik akun nista di LINE@ bernama -Arsiteg!- yang sekarang sibuk menjadi asdos di kampus paling kuning se-Indonesia. Sebetulnya, kebanyakan dari mahasiswa di kampus gue udah banyak yang kenal siapa Nicsap sebetulnya, hanya saja gue berpura-pura polos, nggak tahu apa-apa dan tetap behave sebagai asdos yang keliatan cerdas dan mencerdaskanYa iyalah! namanya juga dibayar buat jadi orang bener, mana ada asdos dibayar buat nge-receh yekan?! 

Selama ini, gue memilih nama alter Nicholas Saputra (Nicsap) dan mengaku-ngaku sebagai dia disebabkan kesamaan wajah, jurusan, dan almamater antara gue dan Nicsap, di mana doi merupakan anak Arsitektur UI angkatan 2002, sedangkan gue 2011. Jadi, bisa dikira-kira lah ya gue sekarang umurnya berapa.

Secara usia, mungkin gue emang udah agak terpaut jauh sama kalian para pengikut akun nista -Arsiteg!-. Tapi jangan salah, gini-gini gue masih bisa dihitung maba karena tahun ini gue bakal kembali melanjutkan studi gue di program S-2 Institut Tehnologi Bandung Borromeus yang ada di Ibu Kota Priangan sana.Kuy nak-anak Bandung pemuja Yogurt Cisangkuy mana suaranya??! 

***


Ambisi Lama yang (Akhirnya) Terselesaikan
Awal 2019, gue akhirnya membuka identitas gue bersamaan dengan meluncurnya naskah komedi gue ke toko-toko buku di bawah bendera Elexmedia milik grup Kompas Gramedia. Naskah ini gue beri judul A-SH*T-TORTURE: Epos Heroik Mahasiswa Arsitektur yang isinya menceritakan perjalanan suka, duka, dan betapa pahitnya hidup di dunia persilatan sebagai mahasiswa arsitektur.













Buku ini nggak cuma ditujukan bagi kamu-kamu mahasiswa arsitektur yang sedang meratapi nasib karena sebentar lagi perkuliahan semester baru bakal dimulai. Secara khusus, buku ini juga ditujukan bagi para alumni yang sekarang udah berkarir menjadi budak biro dan korporat, orang awam yang penasaran gimana rasanya kuliah arsitektur, serta ditujukan bagi dedek-dedek SMA yang berminat masuk arsitektur tapi nggak punya gambaran tentang apa yang bakal dipelajarinya kalo keterima di kampus idamannya.

Meski gue sengaja menceritakannya dalam kemasan yang ringan dan komedinya kadang kelewat recehan, menurut testimoni para dosen yang gue ajak ngobrol mengenai buku ini, A-SH*T-TORTURE adalah buku pertama di Indonesia yang secara gamblang menceritakan tentang apa dan gimana jurusan arsitektur itu sebetulnyasoalnya hampir sepuluh tahun yang lalu pernah ada buku yang mengangkat hal yang sama, tapi buku itu nggak berhasil menyampaikan perbedaan antara arsitektur dengan teknik sipil.

FYI, ketahuilah bahwa buku ini bukanlah buku yang dibuat secara instan. Kitab komedi ini udah ada sejak 2013 dan menyertai cerita pasang surut kehidupan pribadi gue, mulai dari hampir berlabuhnya naskah ini di penerbit yang sama dengan Raditya Dika tapi gagal deal, sedih euy- kemudian gue harus menjalani studio di tahun akhir, skripsian, wisuda, menjadi budak biro interior, hingga balik lagi ke kampus asal sebagai asdos demi pemanasan sebelum ngelanjutin sekolah lagi.


Naskah Pertama yang direject Semesta :(






Akhirnya, selama lima tahun naskah ini mendekam sia-sia di drive D laptop gue, padahal gue yakin betul buku ini menjadi buku yang sangat penting karena selama ini nggak ada buku yang bisa menjelaskan pada dunia betapa menderitanya kuliah di bidang arsitektur dengan segala tetekbengeknya. Kalo bukan kita yang nulis, siapa lagi coba?

Mei 2018, ndilalah naskah ini menemukan jalannya sendiri.

Lewat Twitter, gue dikasih tau temen gue tentang twit seorang editor yang lagi nyari naskah buat diterbitin. Setelah berkabar dan ngirimin soft-file nya, sebulan kemudian gue mendapatkan lampu ijo lewat sebuah email di kotak masuk. Damn. tembus...


Automimisan dalam 3...2...


















Setelah melewati proses ketemuan di kantornya, editing, bahas konten dan layout, dan lain sebagainya mulai dari sebelum lebaran hingga November 2018, akhirnya naskah ini naik cetak di akhir tahun dan per Januari ini, ada 2000 eksemplar yang dilepas ke seluruh Gramedia dan toko buku lainnya se-Indonesia. Beberapa dari kalian pasti udah ada yang khilaf buat membeli dan membacanya, karena beberapa pembaca stranger banyak yang tiba-tiba nge-DM dan ngirimin foto mereka beserta testimonial setelah membaca bukunya.
Ah, sebahagia itu rasanya.










   

Di Balik Akun -Arsiteg!-

Sementara naskah gue mendekam di harddisk dan di tengah keputusasaan gue karena gagal deal dengan penerbit sebelumnya, semenjak NAVER mengeluarkan fitur bernama LINE@ dan mulai banyak official account bermunculan, gue terinspirasi untuk membuat OA sendiri. Maka pada akhir 2015, lahirlah akun bernama -Arsiteg!- yang mencoba dikenal lewat postingannya yang absurd, random, dan kadang kelewat receh. Dimulai dari pengikutnya masih sedikit dan cuma di kalangan kampus sendiri, kemudian akun ini mulai merambah temen-temen arsi di Indonesia terutama di kampus-kampus yang berbasis di Pulau Jawa.

Ketimbang akun-akun OA lainnya yang bermunculan, hal yang sengaja gue buat beda adalah di akun -Arsiteg!- ini gue membuka interaksi chat satu per satu sehingga siapa aja bisa ngobrol dengan admin yang anonim secara pribadi. Nggak usah kebayang gimana rasanya, capek banget bor!

Setiap hari menjelang pengumpulan tugas, gue membalas satu-satu chat dari para jamaah -Arsiteg!- yang begadang dan minta ditemenin, bahkan gue sempat membayar mahasiswa gue buat menyambi admin karena gue kewalahan ngurus -Arsiteg!- sendiran. Randomnya lagi, nggak jarang ada mahasiswa gue yang ngeluhin tugas padahal doi nge-chat dengan asdosnya sendiri tanpa ia sadari.
Tapi nggak apa-apa, semua demi membahagiakan netizen, aku jabani.

Per hari ini, jamaah pengikut akun -Arsiteg!- udah mencapai angka 8300. Angka yang mungkin sedikit kalo dibandingin sama akun receh lainnya, tapi kelewat besar bagi gue yang nggak nyangka bakal sebanyak ini.
Per hari ini juga, identitas gue udah nggak dirahasiakan lagi. Buku gue juga bisa ditemukan di sana sini.

Ke depannya, gue berencana untuk menyeriusi akun -Arsiteg!- dan meramaikan instagram dengan konten yang lebih berfaedah dan mencerdaskan buat yang kepengin menjadi arsitek yang nggak sekadar artsy tapi juga ngerti tentang hal-hal semisal sejarah, teori, dan sebagainya yang nggak kalah pentingnya.
Ke depannya juga, gue berencana bekerjasama dengan beberapa akun masuk kampus/PTN supaya bisa ngasih pengalaman yang mencerahkan buat anak-anak kelas tiga SMA supaya mereka nggak salah jurusan (kayak yang terlanjur kamu-kamu ini rasakan) nantinya.
Rencana lebih panjangnya, kalo buku pertama ini laris, gue bakal membuat sekuelnya untuk tahun depan. Jadi, jangan lupa sisihin tabunganmu sebesar Rp79.800,00 buat belanja buku ini dan promosikan juga ke dedek-dedek kamu yang masih SMA! Kemahalan? Tenang. Weekend ini bakal gue kasih tahu promosi menarik apa aja yang bisa lo dapetin buat membeli buku komedi nista ini.

Intinya sih, salam kenal lagi, ya!
Jangan lupa dibeli bukunya >:)



___________________________________

Rizki Dwika (alhamdulillah sudah) S.Ars.
Architecture interior-ist.
Junior Researcher and Teaching Assistant.
Interior Architecture, Universitas Indonesia.
twitter, ig, etc. @rizkidwika

#CurhatDong: OOTDedeh dan Kesederhanaan Mamah


2018 adalah tahun kelima keluarga gue menonton acara sahur yang sama.
Yha, sejak meredupnya acara sahur yang diwarnai dengan cikidaw-cikidaw-aweu-aweu selama satu bulan disebabkan pencekalan KPI, aksi tidak senonoh, dan lain sebagainya (sebut saja program Yekaes), keluarga gue mencari acara teve alternatif yang bisa ditonton buat sekadar menemani sahur. Berhubung bokap-nyokap di saat itu adalah pengikut acara Dangdut Academy dan kebetulan MC-nya pun elu-lagi-elu-lagi, pada tahun 2014 keluarga gue pun tertambat pada acara bernama AKSI Indosiar.

Berbeda sama acara sahur yang gue ganyemi di tahun-tahun sebelumnya yang kurang berfaedah, AKSI Indosiar mengedepankan ajang pencarian bakat dai-dai’ah baru yang dipertandingkan selama bulan Ramadan. Masing-masing peserta diberi waktu ceramah selama lima menit, kemudian mereka bakal dikomentari oleh penceramah-penceramah yang udah punya jam terbang di Indonesia, mulai dari Ustaz Subki, Ustaz Wijayanto, Ustaz Al-Habsy, hingga pendakwah favorit gue dari dulu hingga detik ini.
Iya, Mamah Dedeh





Meski gue nggak pernah bertemu langsung dengan Mamah Dedeh, entah kenapa gue merasa memiliki keterikatan batin yang cukup kuat dengan pendakwah yang satu ini. Gimana nggak? sejak gue masuk SMA alias tahun 2008, ceramah Mamah Dedeh di Indosiar selalu menemani keluarga gue sebelum beraktivitas. Soundtrack Mamah dan Aa yang dibawakan grup kasidah Annabawi di rumah gue pun menjadi alarm yang menandakan kalo sekarang udah jam enam pagi. Belum pernah denger? Lihat video yang ini deh, gerakan tangan ibu-ibu pengajian yang saling bertabrakan niscaya bakal bikin elu ketawa sendiri. NIH TONTON DI LINK INI NIH!

Ditemani sebungkus nasi uduk sambil gue masang sepatu dan manasin motor, kami sekeluarga menonton ratusan ibu-ibu yang membentuk formasi lingkaran mengelilingi Mamah Dedeh dan Cing Abdel dengan warna yang gonjreng persis kaya kue-kue di pasar subuh. Rasa-rasanya pagi di keluarga gue seperti belum lengkap kalau bokap-nyokap gue belum sindir-sindiran waktu nonton acara Mamah dan Aa di Indosiar. Rutinitas ini kami lakukan setiap hari, tahun demi tahun, gue keterima di kampus, lulus, hingga sekarang. Terhitung 2018 ini, artinya udah sepuluh tahun keluarga gue mengikuti ceramah doi di televisi.

***



Nggak tahu kesambet angin apa, di awal bulan Ramadan kemarin gue tiba-tiba tergerak untuk mendokumentasikan pakaian Mamah Dedeh di layar kaca setiap harinya. Utas panjang itu gue posting di twitter dan instagram gue dengan label berjudul #OOTDedeh, gabungan antara #OOTD dengan Mamah Dedeh (selengkapnya bisa klik twitter gue untuk mengikuti utasnya dari hari ke hari). Begitu gue cc-in ke Cing Abdel Achrian, pemuja Bubur Palapa yang juga menjadi MC di acara Mamah dan Aa, utas yang gue buat di twitter pun mengundang reaksi yang cukup positif dari pengguna twitter lainnya. Setiap hari selama Ramadan, gue memposting setiap tampilan Mamah Dedeh dengan warna yang cenderung itu-itu aja. Merah, biru, hijau, abu-abu, kuning, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon, jambon. Nggak ada yang berbeda dari gamis dan kerudungnya, terkadang yang membedakan cuma lain di warna saja (dan juga asesoris atau bros yang menempel di sebelah kiri). Tampilah yang sederhana, bahkan kalo kata gue kelewat sederhana bagi pendakwah yang memiliki pengikut militan di kalangan ibu-ibu yang tersebar se-Indonesia Raya. 



Nggak ada angin-nggak-ada-ujan, di pertengahan bulan Ramadan ini tiba-tiba gue menemukan video liputan di balik layar ceramahnya Mamah Dedeh yang dibuat secara ekslusif oleh VICE ID dari tab mention di twitter. Video selama 18 menit yang ditayangkan itu memberikan gue berbagai fakta tentang acara Mamah dan Aa yang belum pernah gue ketahui sebelumnya, mulai dari ibu-ibu yang ternyata di-briefing supaya waktu tanya jawabnya nggak salah sebut, latihan gerakin tangan sesuai lantunan lagu nasyid, hingga antrean penonton acaranya yang harus menunggu sampai tiga tahun supaya bisa diundang ke Indosiar. Men, tiga tahun men. Itu diundang pengajian apa namatin sekolah?

Selain memberikan pandangan baru tentang acara Mamah Dedeh, video liputan VICE itu juga membuat gue semakin bertambah hormat pada sang penceramah. Di akhir bagian liputan ekslusif itu, Mamah Dedeh ditanyai pendapatnya soal banyaknya dubsmash, youtube, tiktok, atau video-video parodi ceramah mamah yang ditampilkan dengan dandanan yang alayhum-gambreng. Di luar dugaan, bukannya marah atau bernada tinggi seperti biasanya, Mamah Dedeh malah menyatakan dirinya tidak tersinggung diparodikan anak-anak zaman sekarang. Secara bijak, Mamah Dedeh malah bilang kalo semakin diparodikan, berarti tausiahnya melekat di otak dan artinya ceramahnya berhasil.

Gokil, sikap Mamah Dedeh membuat gue berpikiran bahwa beliau merupakan panutan yang sesungguhnya.

***



Pendapat ini emang nggak populer, tapi sejujur-jujurnya, kelakuan fans yang mendewa-dewakan ulamanya sebagai manusia kayak gini membuat gue sebagai orang seagama yang biasa-biasa aja membuat gue merasa nggak simpati cenderung geli terhadap fenomena di Indonesia yang ramai setahun dua tahun belakangan ini. Belajar tuh dari Mamah Dedeh. Dua kali beliau pernah slip lidah dalam ceramah dan ditegur masyarakat, secara gentle dia meminta maaf dan membuat klarifikasi, bukannya teriak penghinaan lah, penistaan ulama lah, kriminalisasi lah, elah... fans fanatik. Segitunya amat sih ngebelain manusia?

Namanya juga manusia yang nggak sempurna dan punya khilaf, kalau emang salah mah salah aja, kali. Mau bawa nasab keturunan a-b-c-d-e? Lah, anaknya nabi-nabi juga banyak yang nggak beriman kok. Malahan Ratu Inggris yang sekarang disebut-sebut punya nasab yang bisa diteruskan jejaknya hingga ke Nabi Muhammad. Ada yang inget adegan ShahrukhKhan di film My Name Is Khan waktu menanggapi ulama provokatif yang berdakwah diMasjid? Dia mengambil kerikil kecil dan langsung melemparkan kerikil itu ke sang penceramah sambil teriak: setan! Itu setan!

Nah, kalau elu merasa abis dengerin ceramah, kuping lu malah budeg karena diteriakin dan hati nggak menjadi tentram, bisa jadi ulama yang elu hadapi sama dengan apa yang ditemui Shahrukh Khan tadi.

***

Sebagai seorang muslim yang bukan fanatis dan cenderung biasa-biasa aja, Mamah Dedeh membuat gue tertarik untuk mempelajari agama lewat kesederhanaan yang ditunjukkannya. Kesederhanaan yang ditunjukkan Mamah Dedeh bukan sekadar dari tampilannya yang cuma gamis dan jilbab langsung pakai tanpa perlu dililit, diputer, dikombinasi warna, dan lain sebagainya, tetapi kesederhanaan beliau juga ditandai dengan cara dakwahnya. Bukannya meminta dipanggil sebagai Ustazah apalagi Ibu Hajjah, beliau lebih nyaman dipanggil sebagai seorang Mamah—malah sering menyebut dirinya sebagai nini-nini, hal yang sangat berlainan dengan penceramah yang sering gue temukan di pinggiran jalan protokol yang menuliskan gelar sepanjang rangkaian commuter line mulai dari gelar akademis, haji, sampai gelar keagaman lainnya padahal Mamah Dedeh sering berkata kalau Rasulullah SAW aja nggak pernah minta dipanggil Haji Muhammad. 

Mungkin bagi gue, Mamah Dedeh adalah satu dari segelintir penceramah yang kredibel dan gue percaya sebagai panutan di tengah gelombang masyarakat Indonesia belakangan ini yang nggak segan-segan mencampuradukkan agama buat politik praktis semata. (Gue membagikan pendapat gue di bawah ini di twitter dan alhamdulillah mendapatkan respons yang serupa dari sebagian warganet. Oh gini rasanya, hape bergeter terus dapet notifikasi)...




Nggak cuma itu, sekonyong-konyong tadi pagi gue mendapatkan mention dari Cing Abdel di twitter berupa video yang mengagetkan di pagi buta. Ebuset. Sepuluh tahun nonton Mamah&Aa dikasih kecup syar'i sama beliau pulak! Cing, aku mimisan cing!






***

Berani berbicara, berani minta maaf, berani bertanggung jawab dengan omongannya. 
Pertahankan tertawa EHEHEHEU-mu dan sehat selalu di usiamu yang Agustus nanti 67, Mamah Dedeh...
Akhirul kalam, selamat Idulfitri para pembaca dan jamaah semua!
Taqabalallahu minna wa minkum!
Mohon maaf lahir dan batin!

#CurhatDong: O Gini Rasanya Jadi 24



Mulanya, hari-hari berjalan seperti biasa.
Tapi seminggu yang lalu, ketika gue terbangun dari tidur jam tujuh pagi, gue lantas tersadar akan suatu hal.
Anying. Umur sekarang umur gue udah 24.
Seminggu lalu, tepatnya di tanggal 17 adalah hari di mana gue sudah 24 tahun terlahir ke dunia. Ya, sebetulnya ada miskonsepsi mengenai umur di masyarakat kita sih, entah itu disadari atau nggak. Soalnya, hari kelahiran biasanya dianggap sebagai awal dari umur baru, padahal yang terjadi adalah kebalikannya. Hari kelahiran itu sebetulnya merupakan hari terakhir kita berada di usia tersebut. 
Misalnya gini deh. Seorang bayi lahir di tanggal 25 bulan 4. Setelah menjalani kehidupan selama setahun, kemudian keluarganya pun merayakan ulang tahun sang anak yang ke-1. Padahal, secara teori, saat itu umur sang anak sudah berada di dunia yang tubir ini selama setahun dan mulai menapaki kehidupannya yang ke 2 tahun. Dengan demikian, sebetulnya gue kini sudah menjelang usia 25 dan gue sedang menjalani kegalauan umur seperempat abad.
Ketahuilah bahwa fenomena "anjir-bentar-lagi-gue-udah-25" is real, saudara-saudara. Itu bukanlah isapan jempol, suatu hal yang mengada-ada, apalagi dilebih-lebihkan. Kerap kali keputusan-keputusan penting mulai dari karier, pendidikan, jodoh, urusan perduitan, dan lain sebagainya dikeluarkan pada rentang usia tersebut. Gue sendiri mungkin sudah memutuskan pilihan apa yang harus gue ambil ke depannya, yang pastinya nggak bisa gue bocorkan seluruhnya ke masyarakat ramai (karena nggak ada yang peduli juga sih, emangnya gue Nikita Mirzani, ngomong dikit menghebohkan Lambe Turah). Tapi bocorannya adalah... sejauh ini gue nggak kepingin menjalani kehidupan kantoran lagi dan memilih untuk konsisten menjadi pekerja lepas sampai dapet kesempatan buat sekolah.
***

Sebetulnya kerja di kantoran itu kelihatannya emang enak. Gajinya tetap, lingkungan kerjanya jelas, kerjaannya pun jelas karena ada prosedurnya. Selain karena gue bosenan dan nggak betah duduk depan layar komputer selama 10 jam lebih setiap harinya (iya, postur tubuh favorit gue ketika lagi ngerjain suatu desain adalah tengkurep di lantai plus bantal, bukan duduk manis dengan kemeja panjang di kursi kantoran. Udik emang). Tapi, setelah gue menjalani setahunan menjadi budak korporat, gue memilih untuk resign dan mengejar target besar gue sambil menjadi freelancer palugada, apa lu minta, gue ada.
Kerjaan nulis kisah perjalanan secara berbayar, ng-endorse situs perjalanan dengan nulis testimoni sebagai buzzer, ngawasin kerjaan kontraktor di proyek, ngasdos, ngebantu riset dosen, ngedesain dan disuruh ikut koordinasi lapangan ke Surabaya secara cuma-cuma, hingga berkesempatan keliling berbagai kota di Sumatera dan Jawa selama tiga bulanan pun sudah gue lakukan demi keberlangsungan hidup dan dapur di rumah. Selama hampir dua tahun menjadi freelancer palugada, berbagai tawaran dan kesempatan yang mustahil gue terima jika gue menjadi full-timer di sebuah kantor pun satu per satu gue dapatkan. Kedengaran menyenangkan? Kenyataannya, nggak juga.
Namanya juga pekerja lepas, rezeki pun kadang ada yang nyantol, ada yang lepas. Terkadang duit di tabungan mengalami paceklik alias kemarau panjang sampai gue pun gagal panen waktu narik duit di ATM, terkadang ada masa di mana rekening gue bermandikan uang hingga tumpeh-tumpeh, bawaannya ingin lempar-lemparin lembaran Sukarno-Hatta ke muka setiap netizen layaknya Bu Dendy. Iya, siklus per-rekening-an gue sebagai seorang freelancer dalam satu tahun benar-benar nggak jelas. Apalagi masih harus dihadapi dengan kondisi invoice (tagihan jasa kita ke client) yang suka telat cair.
"Hadeh, kalau begini, besok Ara sama Agil makan apa, Abah....."
Masalah itu belum seberapa. Sebagai freelancer, kadang gue kelepasan buat menolak atau menerima suatu pekerjaan mengingat kebutuhan gue dengan lembaran bernama uang.
"Wah, ada peluang ini nih, ambil ah.""Eh kok kedengerannya seru sih. Oke gue gabung.""Oke saya siap, bisa kok kalo kerjaannya tiga bulan doang..."
"Mmmm diterima ga ya"
Eh... Tiba-tiba kerjaan gue dalam sebulan udah empat biji aja... Bidang kerjaannya beda-beda semua lagi.... Aduh ini gimana bagi waktunya.
Begitulah hidupku beberapa bulan ini. Jadi dewasa kok kayanya melelahkan banget ya......
***

Jika menarik panjang waktu ke belakang, emang nggak ada waktu yang mengalahkan betapa enaknya masa-masa SD di mana masalah terbesar yang dihadapi paling banter cuma ulangan MTK dan radang tenggorokan, itu juga gara-gara kebanyakan jajan ciki di sekolah. Nggak ada kata revisi, bayar tagihan itu ini, apalagi masalah client yang kabur dan nggak bayar setelah desain diserahkan. Di tengah tren dedek-dedek berusia wajib belajar di zaman sekarang yang berupaya dengan keras menumbuhkan brewok, tampil dengan dandanan tante-tante, bahkan di sekolahan manggilnya pun udah Papah-Mamah, gue justru ingin melakukan yang sebaliknya.
Ya Allah,... Baim pengen kembali kecil seperti masa-masa yang lalu :(
Beruntungnya, di usia gue yang berjalan menuju angka 25 ini gue masih memiliki muka yang kebocah-bocahan. Bukan berniat sombong, tapi emang gue mau jumawa sebab udah setahun belakangan ini gue sering dikira orang lain lebih muda ketimbang umur yang sebenarnya.

Pertama, di stasiun dan halte busway, gue pernah dipanggil sama Mbak-mbak maupun mas-mas stranger dengan panggilan "Dek".
Kedua, gue pernah dikira mahasiswa S1 sama orang di stasiun yang lagi nyari responden buat kuisioner skripsian-nya.
Ketiga, gue bayar angkot lima ribu, dikasih kembalian dua ribu. Dis-is-fo-real.
Keempat, lebih miris lagi, gue dikira mahasiswa S1 sama dosen yang gue asistenin. Kebayang nggak gimana rasanya?

Bukan cuma tampang aja, kelakuan gue di umur menuju 25 ini pun gue masih melakukan banyak rutinitas yang nggak pernah absen gue lakukan dari sejak kecil.
Jajan batagor, siomay sapu-sapu, pempek KW, telor gulung, segala jenis camilan mecin yang biasa mangkal di depan sekolah atau Pintu Gerbang Kutek, bahkan di usia di mana teman-teman sepantaran gue antusias ngikutin judul serial TV atau Netflix yang rumit, gue justru memilih untuk menghabiskan lebih dari empat jam buat nonton beberapa judul kartun di Nickelodeon atau Cartoon Network dalam sehari semalam, malahan gue masih bisa ketawa ngakak setiap nonton Spongebob maupun Gumball. Gue juga terkadang heran sama kelakuan gue sendiri.  O inikah hikmah dari bermuka bocah? 
***


Teman-teman yang gabut sehingga menyempatkan untuk membaca tulisan yang maha tidak jelas, ketahuilah bahwa tulisan ini memang tidak ada juntrungannya. Janji deh... tulisan setelah ini bakal lebih berfaedah. Tapi, pesan yang ingin gue sampaikan adalah...  persetan dengan usia. Usia hanyalah hitungan deret angka biasa, lebih tepatnya angka-angka yang digunakan oleh para om, tante, budhe, saudara-saudara, bahkan netijen untuk mengglorifikasi pertanyaan "MANA CALONNYA?""EEEEHHH, GIMANA, KAMU KAPAN NIKAH?"

Menjadi dewasa adalah keniscayaan, tetapi bukan berarti kita nggak bisa menikmati hidup yang menyenangkan, tanpa beban, nggak banyak spaneng menghadapi segala problematika kehidupan, sama halnya yang kita jalani sewaktu kita masih anak-anak. Kalo kita bisa menjalankannya bersamaan, kenapa nggak?
Yauda segitu aja ah, mau jajan cilor lagi. Nggak usah kayak netizen rese' yang terus menanyakan kapan-nikah-kapan-nikah deh, kalau ngana nggak ngesponsorin seragam pager ayu dan pager bagus atau bayarin katering. Intinya, mohon doanya supaya rekeningku setahun ke depan diwarnai dengan musim hujan yang deras yha!!!!!!!

#SabdaDwika: April Apalah-Apalah


(parental advisory: tulisan ini lebih enak dihayati dengan iringan lagu Nella Kharisma - Jaran Goyang)
Assalamualaikum! Sampurasun, wahai pembaca-pembaca edun!
Setelah sekian lama berpisah dikarenakan beberapa faktor yang melanda setahun belakangan ini (baca: kemalasan gue dalam mengisi blog dengan berbagai tulisan nirfaedah, rutinitas belakangan ini sebagai seorang freelancer palugada—apa lu minta gua ada, dan kesibukan gue yang sempat nulis berbayar di situs orang dengan harga menggiurkan tapi sayangnya itu semua sudah berakhir, hiks) akhirnya gue memutuskan untuk kembali menulis di rumah nan sederhana ini.
Ya, kali ini gue pulang ke blog gue sendiri.
2018 masih ngeblog? Ngapain! Nge-vlog keleuz, jadi selebhram, di-endorse suplemen peninggi badan, Youtube-youtube-youtube lebih dari TV-boom!
Hm... untuk yang satu itu sih jujur kayaknya Deva Mahenra kurang berminat. Sori-sori aja, ya.
Bukannya Deva nggak menerima pergeseran zaman, tapi sejujurnya gue masih gagal paham kenapa banyak orang Indonesia yang rela membuang-buang kuota buat mantengin seseorang yang nggak dikenal ngoceh di dunia maya berujar “hello wazzap guyzzz” ke seluruh pemirsanya... Itupun kalo emang ada yang jadi pemirsanya.
Bukan, bukan berarti gue nggak menikmati Youtube. Gue juga menggunakan situs streaming tersebut buat nonton beberapa video dari berbagai channel misalnya re-run Mata Najwa, Indonesia Lawyers Club, ocehannya Pandji, atau Deddy Corbuzier yang mana merupakan entertainer beneran dan punya karya sungguhan di Indonesia. Gue juga menggunakan Youtube buat sesuatu yang kadang kurang ada manfaat bagi umat seperti nonton Fluxcup, Hati2diinternet, mantengin berbagai pertikaian yang videonya viral berkat lambe turah, mulai dari video Bu Dendhy yang menebar duit di depan muka Mbak Nyla Nylala sang pelakor, berita saling sindir antara Via Vallen - Ayu Tingting, hingga yang rame dua minggu terakhir ini: perang urat syaraf-jakun-dan-silikon antara Melly Bradley dan Lucinta Luna yang nggak berkesudahan. Kalo udah merasa lelah dengan apa yang terjadi di Indonesia, biasanya gue bakal melakukan aktivitas berselancar di dunia maya yang paling epik: nonton On The Spot di Youtube...
Yes. I do watching that Youtube-based TV program, directly in Youtube..........
Tapi, beneran deh. Apa serunya sih, nonton orang non-seleb yang memunculkan dirinya di Youtube secara rutin?  Gue masih nggak habis pikir aja, anak zaman sekarang itu kalo ngisi paket bulanan tuh berapa gigabit, sih? Gue aja harus melakukan ritual semedi seharian hanya buat milih paket tilkumsil yang harganya murah tapi paling worth it setiap paket mau abis....
Alhasil, di tengah pergeseran budaya tersebut akhirnya gue memilih untuk bertahan dengan cara lama: nge-blog. Entah kenapa, gue masih percaya dengan besarnya kekuatan tulisan —ya... meski belakangan pembaca blog ini nggak sebanyak beberapa tahun silam. Gue merasa bahagia aja gitu, kalau misalnya gue tiba-tiba dikirim email pembaca (sebut saja begitu) yang menanyakan berbagai hal tentang isi tulisan yang gue buat, terutama tulisan tentang jalan-jalan.
***


Belum lama ini, gue dikirim DM sama seseorang dari sebuah production house TV swasta yang kebetulan mau liputan ke Ho Chi Minh City dan tanya-tanya mengenai apa aja yang harus dipersiapkan saat berkunjung ke sana karena dia membaca blog gue. Ya, ternyata di tahun anjing api ini masih ada aja manusia yang lebih memilih untuk googling dan membaca ketimbang nontonin orang tak dikenal dari layar ponselnya. Gila, seneng aja rasanya bisa berguna buat sesama pejalan.
Berbekal motivasi itu, akhirnya di bulan yang baru ini gue kembali meneguhkan hati untuk menulis di blog sendiri yang kemudian bisa memberi pengetahuan dan inspirasi buat banyak orang. Supaya rajin memperbarui blog di setiap bulannya, gue melakukan empat penyegaran kecil dan besar.

Pertama, blog gue ganti rumah. Platform-nya sih sama, domainnya pun masih pakai domain yang lama setelah tiga bulan ini mati dan nggak bisa diakses lagi. Kali ini, gue mau lebih banyak menulis perihal jalan-jalan dengan sedikit bumbu-bumbu berbau arsitektural —mengingat gue udah diizinkan semesta untuk blusukan ke 17 provinsi dalam tiga tahun belakangan. Tentang pengalaman ngerasain bandara di setiap kota, tips milih merek oleh-oleh yang paling khas di setiap kota, mencicipi makanan setempat yang rasanya lezat, sampai cara terbaik milih seat di pesawat... sayang aja rasa-rasanya kalo gue nggak membagikan pengalaman bodoh yang gue alami sendiri ke pembaca yang lebih luas cakupannya.

Kedua, tampilan layout yang gue gagas pun citarasanya lebih baru dan “agak” profesional ketimbang sebelumnya yang masih dibuat saat gue merasakan kerasnya hidup sebagai mahasiswa. Di tampilan blog yang baru ini, gue juga menambahkan halaman depan yang berfungsi sebagai portfolio online gue sendiri—meski konsekuensinya jadi banyak banget muka gue terpampang besar-besar di laman situs ini. Yhaa... barangkali di antara pembaca yang terjebak di situs nista Rizki Dwika dan kebetulah butuh jasa interior atau renovasi rumah, cincai laa hubungi langsung ke saya. Pesan sekarang! Hari Senin harga naik!

Ketiga, dalam setiap bulannya gue akan mencoba istiqomah menulis setidaknya tiga artikel setiap bulannya dengan tema yang beragam, mulai dari pemikiran random mengenai isu terkini yang menerpa bangsa kita dan heboh di dunia maya, tentang destinasi wisata, catatan perjalanan, dan tips perjalanan yang pernah gue lalui, atau sesekali mengulas objek arsitektur kecil-kecilan seperti fasilitas umum kota yang kehadirannya ada dan dekat di sekitar kita.

Keempat.... silakan kencangkan sabuk pengaman, membuka penutup jendela, melipat atau mengunci meja di hadapan, serta menegakkan sandaran kursi dan segenap awak kabin berseragam gemesh mengucapkan “Selamat datang, selamat menjelajah rumah Rizki Dwika yang satu ini!”
Dengan mengucapken basmallah seraya memotong tumpeng dan sembelih kerbau, bersama dengan Pak Harto dan istri, secara resmi, saya memutusken, meresmiken kembali blog penuh ketidakseriusan ini dan ditujukan untuk kepentingan umum. Woo-hoo!

@rizkidwika

rizkidwika

Bekasi-Jawa Barat