Hai!
Diposkan oleh rizkidwika


Pagi ini, di Gerbang Kutek, aku melihatmu. Lagi.

Sudah tiga bulan belakangan, mengawali awal pekan dengan berpapasan dengan kamu menjadi ritual tersendiri, selain pertemuan rutin yang tak sengaja kita setiap Rabu siang, Kamis malam, dan Jum’at pagi.

Aku hapal benar pertemuan perdana kita. Haltek, lebih tepatnya bis kuning, beberapa bulan yang lalu.Waktu itu, aku terpaksa malam-malam ke Margonda hanya untuk mencetak laporan desainku. Beruntungnya aku bisa duduk waktu bikun sedang penuh-penuhnya. Beruntungnya lagi, kamu berdiri tepat di hadapanku.

Aku mulai menyadari keberadaanmu saat tak sengaja menengadahkan pandangan ke atas, ke arahmu. Matamu besar, mengeluarkan tatapan dingin yang penuh curiga. Garis wajahmu tegas, tampil angkuh dengan earphone yang sebelahnya menggantung di satu sisi bahumu yang kokoh.

Awalnya aku tak acuh dengan keberadaanmu. Tanpa alasan, setelah pelan-pelan kuperhatikan, aku menyukaimu. Saat itu. Sesederhana itu.

Aku menikmati perjalanan dengan penuh curi pandang. Beberapa kali berhasil, beberapa kali aku kecolongan. Mata kita sempat beradu, tepat sebelum kamu turun di Halte FKM.

Aku sedikit kecewa. Kita tak sempat berkenalan, apalagi tegur sapa. Kamu tidak tahu siapa namaku. Aku juga tidak tahu siapa namamu. Bahkan sampai saat ini.

Yang kutahu, kamu juga anak Teknik. Metalurgi. Dari kausmu. Cuma itu. 





Siang ini, di Kantek, aku melihatmu. Lagi.

Seperti biasa, aku sedang sibuk memilah kardus bekas yang layak guna sebagai bahan maket eksplorasi untuk presentasi esok hari, hal yang tidak biasa dilakukan oleh mahasiswi, tapi pengecualian bagi anak arsitektur sepertiku.

Saat Kantek sedang penuh-penuhnya itu, kamu pun melintas, sendiri, mengenakan flanel biru yang lengannya digulung hingga siku. Kedatanganmu membuatku kikuk, membuat fokusku kabur hingga belasan kardus terlepas dari ikatan tanganku yang mengendur.

Kamu pun berlalu.






Lagi-lagi, di SelasArs, aku melihatmu. Lagi.

Sejak pertemuan –atau lebih tepatnya dipertemukan tiga bulan yang lalu, kita jadi sering berpapasan. Dan entah mengapa, pertemuan kita minggu ini terjadi lebih intens dibanding minggu-minggu biasanya.

Meski sempat tertarik, awalnya aku tidak terlalu peduli. Tapi, lama-lama malah aku yang mencari-cari. Tanpa alasan yang jelas, aku sering keluar Studio. Entah ke Kantek, Haltek, menelusuri semua selasar, maupun lobby. Aku cuma ingin memberi tahu keberadaanku, identitasku, syukur-syukur bisa berkenalan langsung denganmu.





Sore ini, di Gedung S, tebak apa yang terjadi.

Saat gedung sedang lengang, aku sendirian di depan lift sambil mengatur tumpukan kertas gambar yang ingin kubawa ke atas. Kelar menyusunnya, aku menekan angka enam dan lift pun menutup. Perlahan.

Tak lama, terlihat dari dalam bayangan seseorang yang berlari, tampak buru-buru menekan tombol naik. Pintu lift terbuka lagi.

Nampaknya, sore ini aku sedang sial. Kali ini, aku tidak hanya melihatmu. Aku, kamu, kita bersisian. Kita bersebelahan. Seseorang yang tadi itu ternyata kamu.

Kamu masuk lalu menekan angka lima. Suasana sepi. Kita masih sibuk dengan diri sendiri. Saat itu, dalam hati aku merutuk, ingin mengutuk. Aku belum siap dengan pertemuan yang sedekat ini.

Lift perlahan naik. Segera, angka pada layar berganti dengan pasti.

Satu.....

Dua.........

Tiga...

“Hai!” Kita berdua berteriak, berbarengan memecah keheningan.

Hari ini adalah perkenalan perdana kita sekaligus kelanjutan komitmen setelah tiga bulan diam-diam dalam proses penjajakan.

Ya, kita jadian.




 ***

Photo

27/10/2012

di 12:59


Label:

Lasbeg's Diary: Kudus-Jepara Istimewa
Diposkan oleh rizkidwika

 The Cast
(Mau Tau Siapa Aja? Mau Tau Aja apa Mau Tau Banget?
JANGAN KLIK DI SINI )

Keterangan: Postingan ini diangkat lagi untuk mengikuti kontes
#NekadBlog dari #NekadTraveler Telkomsel Flash!
main-main ke sindang yey, seus!
telkomsel.com/nekadtraveler
tsel.me/TVCNekadTraveler
:3



HOLA MANTEMAN! :"D
Sebelumnya, Rizki Dwika bersama Nikita Willy mengucapkan
Selamat Idulfitri 1433 H! (eh, sekarang mah 1434H -red.)
Mohon maaf lahir dan batin ya
*kibas abaya renda*

Ceritanya, postingan kali ini adalah kelanjutan dari petualangan sebelumnya,
Maaf baru di-update sekarang, jujur, lagi males banget men.
Dan sekarang nggak kerasa liburan kuliah tiga bulan udah hampir selesai, dan semesta UI bakal kembali sibuk dalam rutinitasnya.
Well, kita kembali ke tema yang sebenarnya.



Pagi-pagi di Kosan Dezky,
Kami bertiga telat bangun. Rencana awal pergi ke Kudus jam 07.00 batal dipenuhi.
Setelah mandi, dan sebagainya, dan sebagainya, kami meninggalkan Kawasan Undip jam 09.00
menuju terminal Terboyo, Semarang.

Gara-gara disuruh Nyokap gara-gara ternyata gue mendadak nekad pergi ke Semarang nggak bilang-bilang, gue disuruh untuk sekalian nyekar makam Eyang Kakung yang terletak di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Petuah orang Jawa, katanya ziarah tanpa bunga bagai hidup tanpa cinta. Akhirnya, sebelum berangkat ke terminal, gue pergi ke Pasar Jatingaleh demi segenggam bunga kubur.

Iya, seminggu di Jawa Tengah membuat gue secara mau nggak mau mengaktifkan bahasa roaming gue. Maksudnya ya, menggunakan bahasa lokal setempat. Percayalah, gue berdialog dengan bahasa Jawa.
Sekilas info, katanya, kalo kita berbelanja atau nawar suatu barang dengan bahasa Jawa, harga yang diberikan si penjual tadi bakal jauh lebih murah.
Well, challenge accepted.

"Mbah, kembang sawure limangewu, nggih?" (Nek, bunga taburnya lima ribu, ya?)
Gue mempraktikan dialog itu kepada nenek-nenek setempat. Lidah gue gatel sendiri.
"Piro le?" (Berape, tong?)
Gue loading, agak lama.
"Nggih, limangewu, Mbah" (Iya, lima ribu, nek)
Gue berhasil.

***



Sesampainya di Terminal Terboyo, Semarang, kami bertiga bertemu dengan Fitri yang semalamnya nginep di kosan teman sesama Lampungnya. Dari sana, kami menggunakan Bus Nusantara menuju Kudus yang ditempuh sekitar dua jam aja.
Setelah melewati hamparan padi, sungai, pasar-pasar, serta Masjid Agung Demak, jam 11.00 kami tiba di Kabupaten Kudus.

Kota ini memiliki predikat sebagai kota kretek, alias kota rokok. Gimana nggak? Beberapa perusahaan rokok nasional berawal dari kota ini, misalnya Djarum, Minak Djinggo, dan masih banyak lagi.
Rokok dan masyarakat Kudus itu satu kesatuan, katanya.

Sebagai pendatang, kalo boleh mengganti gelar kota itu seenaknya, maka gue akan menobatkan Kudus sebagai kota terpanas se-Asia Afrika. Asli, neraka bocor di sana. Puwanas banget.
Begitu sampai di terminal Kudus, kami langsung ke destinasi pertama.
Pesarean, alias pemakaman.

Di Pesarean, gue sempat kesusahan mencari makam Eyang sendiri, karena biasanya setiap nyekar gue selalu bareng sama keluarga. Sori, agak keliatan ya, durhakanya.
Nah, berbekal nggah-nggih-nggah-nggih lagi, akhirnya makam Eyang Kakung ketemu juga.
Kami berdoa secara khidmat, tapi nggak lama, Dezky menghancurkan kekhusyu'an tersebut.
"Fat, fotoin gue dong. Kuburannya keren, kaya di mana gitu, nisannya warna-warni"




Dengan sedikit paksaan, akhirnya jadilah foto bertema mysterious gothic di atas.
Gue nggak tahu apa motivasinya.

***


 
Selain terkenal dengan rokok, Kudus juga terkenal dengan......... sotonya!
Di Kudus, soto bisa dibilang unik kalo dibanding sama kota-kota lainnya. Setiap pedagang soto di sana menawarkan dua pilihan, yaitu soto ayam dan soto kebo. Iya, kebo yang itu.
Bener aja, bro. Di Kudus, kebo didayagunakan nggak cuma buat bajak sawah aja, tetapi juga diolah menggantikan daging sapi. Uniknya, ada cerita tersendiri di balik penggunaan daging kebo ini.

Waktu era penyebaran Islam di Tanah Jawa, Sunan Kudus memerintahkan pada muslim di kota itu untuk menyembelih kerbau, bukan sapi. Hal ini ditujukan untuk menghormati pemeluk Hindu di Kudus, karena di agama Hindu sendiri, sapi merupakan hewan yang disucikan.
Maka jadilah kebo sebagai makhluk multifungsi di Kudus.

Dari Pesarean, kami berempat ngebecak menuju salah satu cabang soto yang terkenal di sana, Soto Bu Jatmi di daerah Panjunan. Setelah ngebecak-ngebecak cantik, kami tiba di sana, memesan empat porsi soto kebo serta lauk-lauk gorengan seperti perkedel, sate jeroan, dan..... otak sapi goreng. Favoritku! :3




le Fitri, le Gue (masih dengan android yang belum kecopetan) :")

le Fatah, le Dezky


Abis kenyang, kami kembali ngebecak lagi menuju salah satu destinasi wisata yang paling terkenal di Kudus: Masjid Menara!
Masjid Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan Sunan Kudus waktu menyebarkan islam di sana. Yang unik dari masjid ini adalah....... arsitekturnya.
(men, gue liburan, ngapain bahas beginian -___-)



berterimakasihlah pada Wikipedia.Org
Di samping masjid eksisting, dibangun sebuah menara masjid yang dibuat dari susunan teracota atau batu bata menyerupai konstruksi candi Hindu. Selain itu, menara yang difungsikan untuk mengumandangkan adzan ini juga ditempeli porselen-porselen China di dindingnya.

Yang bikin menara ini unik, biasanya konstruksi candi di Jawa menggunakan putih telur sebagai perekat, tapi menara masjid ini nggak memakai barang sebutir telur pun, loh.
Jangan tanya, gue juga nggak tahu gimana cara nyatuinnya gimana.




***



Wisata di Kudus telah selesai, jam tiga sore kami memutuskan untuk pergi ke Jepara. Mengejar matahari terbenam, ceritanya.
Lagi-lagi, berbekal nggah-nggih-nggah-nggih, entah keajaiban dari mana, kami bisa melalui perjalanan itu dengan selamat.

Dari Kudus ke Jepara, kami harus menaiki minibus dari Terminal Jetak.
Busnya penuh, tapi berhubung kami berempat naiknya duluan, jadi kami bisa asik sendiri di kursi belakang.

Asal tau aja, penduduk di daerah yang kecil seperti itu kayanya hidupnya bahagia banget, kaya nggak ada beban hidup sama sekali. Muka mereka lebih bebas, beda jauh sama kami berempat yang udah terkontaminasi bau kota.
Bus terus jalan. Gue melanjutkan karaoke teruskanlah-nya Agnes Monica diiringi sound system bus yang berdegup kencang.

Setelah satu jam, kami bingung turun di mana.
Awalnya kami bakal ke Pantai Bandengan, namun karena target mengejar sunset takut nggak tercapai, kami memilih ke Pantai Kartini yang lebih dekat.
Berdasarkan nggah-nggih-nggah-nggih lagi, kami turun di bibir gang menuju Pantai Kartini, kemudian jalan sekitar setengah kilometer.
Kawasan pantai lagi rame-ramenya. Usut punya usut, Ada Band lagi ngadain tur di sana.
Oke, kami kesini bukan buat nonton Doni Ada Band dan kawan-kawan kok, sungguh.

Anyway, Pantai Kartini jauh dari ekspektasi gue yang mendambakan pasir putih, ombak, dan laut berwarna cyan.......
Duh iya, gue kacyan.

Tiba-tiba, bapak-bapak dengan toa-nya meneriaki pengunjung untuk menyeberang ke Pulau Panjang.
Sebagai Manusia-Yang-Nggak-Pernah-Menyeberangi-Pulau-Jawa, gue langsung tergugah untuk mengajak Dezky, Fatah, dan Fitri.

Dengan perahu motor, kami menyeberangi pulau yang jaraknya ditempuh sekitar lima belas menit.
Lima menit pertama, gue memandang pesisir Jawa sambil berkaca-kaca, kemudian mereka menyelamati gue satu per satu. Sisanya, gue nyelupin tangan ke dalam laut, mainan ombak, sambil teriak-teriak imbisil.
Laut, pantai, sunset, gue adalah makhluk paling berbahagia pada saat itu.


Dari Pinggir Pantai Kartini

Fitri-Fatah di Perahu

Sopir Hangover

Call me Dewa Neptunus!!!

First Step, Terminal Pulogadung. Check your belongings...

LASBEG!

Berasa KD-Rahul Lemos

Wo-wo-wo-wo Anak Pantay!

Nggak Tahu Harus Komen Apa

Keterangan: Tinggi Kami Sama, Pantainya Landai

Catatan (yang dibuat dengan) Kaki

SUNSET!



Ternyata, kebahagiaan barusan semu belaka.
Berdasarkan info, katanya, kalo udah jam enam, angkot maupun bus di Jepara udah pada nggak jalan.
Mampus. Nggak mungkin kan kami nginep di kota ini?

Malu bertanya, sesat di jalan. Kami nanya sana-sini supaya bisa pulang.
Menurut titah tukang becak, kami disuruh ke alun-alun Jepara, berharap masih ada bus yang bisa mengantarkan kami pulang ke Semarang. Kami ngebecak lagi. Di malam yang sepagi ini, sepinya Jepara udah kayak kota mati.
Di alun-alun ternyata banyak juga orang yang nungguin bus di sana.
Awalnya, kami hampir ditipu sama travel busuk. Mereka menawarkan ke Terboyo dengan itungan per kepala Rp.30.000,00.
Kemudian, si bapak becak yang tadi menjelaskan sambil narik badan gue
"Jangan mau mas, sampeyan ditipu! Nanti mas naik bus toh ke terminal X, nanti dari sana mas naik taksi mbalen!"
Gue iya-iya aja. Nggak lama, bus yang dibilang datang juga.
"Itu mas!" Bapak becak menunjukkan.
Asli, masih banyak orang baik di Indonesia :")

Kami menaiki bus itu tanpa arah, cuma nurut apa kata kondektur aja. Kemudian, kondektur menurunkan kami di salah satu perempatan.
Sambil ngemil-ngemil di emperan minimarket, kami nunggu transportasi moda bernama taksi mbalen. Gue rada nggak ngerti sama apa yang dimaksud bapak becak.

Apa itu taksi mbalen?
Sebuah mini jeep-kah? Pick-up kah?
Apakah truk terbuka yang disebut oleh penduduk sekitar dengan sebutan taksi?
Entahlah. Gue bingung.

Tetiba, taksi dalam bentuk normal seperti biasanya datang menghampiri kami. Bapak-bapak parkiran minimarket langsung menyetopnya buat kami.
Ternyata, yang dimaksud dengan taksi mbalen oleh bapak becak adalah taksi yang mbalen alias balik ke Semarang. Biasanya, dari Semarang ada yang mencarter taksi hingga Jepara. Nah, daripada si sopir kembali ke Semarang tanpa penumpang, mending dia narik penumpang dengan tarif yang murah. Oh gitu!

Dengan tarif 15.000,00 aja, kami menempuh jarak Jepara-Terboyo. Gila, nggak kebayang kalo kami jadi kejebak sama travel busuk yang tadi. Mendingan naik ini, meuni nyaman, ber-AC, full music lagi!
Perjalanan kami akhiri dengan nyanyi-nyanyi selama tiga jam di dalam taksi. 
Gue karaoke lagi, kali ini Syahrini.

...........................
...................
.............
.......


Bersambung, kakak.
Ber-sam-bung.

Photo

28/08/2012

di 11:11


Label:

Lasbeg's Diary: Semarang Sesuatu
Diposkan oleh rizkidwika

 The Cast
(Kiri-Kanan)

Dezky Oka
Mahasiswa baru SBM ITB 2012.
Di postingan selanjutnya akan diceritakan saat dia memasang avatar di kuburan bertemakan mysterious gothic guy untuk memikat hati-hati yang kesepian.

Rizki Dwika
Adik lain ayah lain ibu dari David Archuleta. Fans berat Maia Estianty.
Tidak bisa hidup tanpa Big Babol di sisinya. Satu lagi, baru kecopetan.

Fitriani dan Fatahillah.
Pasangan kekasih yang lain kampus. Mengaku siap kawin lari kapan saja.
Obsesi terbesarnya memiliki dua anak kembar yang kelak dinamakan
seperti kereta Jakarta-Jogja, yakni Gajahwong dan Bogowonto.

***




Keterangan: Postingan ini diangkat lagi untuk mengikuti kontes
#NekadBlog dari #NekadTraveler Telkomsel Flash!
main-main ke sindang yey, seus!
telkomsel.com/nekadtraveler
tsel.me/TVCNekadTraveler
:3

 

Lasbeg is back!
Juni lalu, empat orang bego ini kembali dipertemukan Tuhan dalam petualangan menakjubkan.

Kelar ditumpangin Dezky yang kembali mengikuti tes SNMPTN di Depok, gue yang kala itu sudah memasuki musim liburan memutuskan untuk ikut dia kembali ke Semarang. Selain melepas penat dari semester dua yang bikin sakit jiwa, tujuan gue ke Semarang saat liburan ini adalah demi sebuah investasi.

Investasi yang dimaksud adalah di sana gue punya banyak keluarga besar, nah, semakin banyak anggota yang disinggahi maka semakin banyak pundi-pundi salam tempel yang gue dapatkan.
Ngerti maksud gue kan?
Betapa culasnya seorang Rizki Dwika.


Nah, 17 Juni 2012, gue dan Dezky ambil 'flight' malem dari Stasiun Pasar Senen. Besoknya, pagi buta sekali kami mendarat di Stasiun Semarang Tawang.
Singkat cerita, beberapa hari setelah itu, ternyata Fitri dan Fatah mengagendakan untuk menyusul kami juga. Setelah semua personel lengkap, kami pun memulai Sabtu malam ceria di kota yang panasnya naujubila itu dengan menunaikan nazar di Pizza Hut Sukun.

Di semester dua yang lalu, saat ujian akhir aljabar linier dan diiringi petir serta rinai hujan, gue dan Fitri sempat bersumpah bakal nraktir kalo kita lulus dengan nilai B+ dan B.
Di akhir publikasi nilai, target gue dapet B+ tepat, sedangkan doi dapet A-.
Agak gila aja sih, UTS dan UAS kita sama, tapi poinnya dikasih beda.
Ternyata, kesetaraan gender belum diterapkan di kampus ini.

Perjalanan dilanjutkan dengan tambahan peserta baru, yakni Satsu, temen sepergaulan Fitri di udiknya, Bandar Lampung. Kami berlima menuruni Semarang 'atas', kemudian menggaul di Jalan Pemuda, jalan paling asyik kala malam hari di kota itu.
Puas nongkrong di sana, kami beranjak ke destinasi berikutnya. Lawang Sewu.




visualisasinya kayak gini, deh
(courtesy of tua-tradisionil.blogspot.com)

Yoi men. Lawang Sewu kini jauh dari kesan angker.
Semua gedungnya direnovasi besar-besaran, dicat sana-sini, serta dipasang pencahayaan outdoor maupun indoor. Lawang Sewu sekarang tampil romantis, jauh berbeda saat gue dan sodara gue ke sana empat tahun yang lalu.


(Empat tahun yang lalu)
Saat foto depan kaca kamar mandi masih ngehits dan
dianggap lagi unyu-unyunya



Gambar Kerja Lawang Sewu
Nggak kebayang berapa malem
mereka begadangnya
Dengan tiket Rp.10.000,00 serta biaya pemandu Rp.30.000,00, kami mengawali wisata di tempat ini.
Bukannya mengetahui tentang sejarahnya, misteri, atau sisi gelapnya, secara random bapak pemandu itu malah menjelaskan aspek arsitektural bangunan Lawang Sewu.
Penjelasan ini makin menjadi setelah sang pemandu tahu kalo gue adalah mahasiswa arsitektur.


Bapak itu menjelaskan, Belanda merancang Lawang Sewu sedemikian rupa. Berawal dari Kantor Jawatan Kereta Api, Lawang Sewu dibuat dengan perhitungan presisi. Bagaimana terjadi kesimetrian bentuk, letak langit-langit yang tinggi untuk pengudaraan, juga pertimbangan pergerakan manusia. Kampretnya lagi, rombongan diantar ke sebuah ruangan museum yang memajang contoh material beton yang digunakan bangunan ini dan gambar kerja arsitektural dari Lawang Sewu.
Hati gue menjerit. Pak, cukup pak, cukup!





Ekspektasi pertama gue ke tempat ini adalah ingin mengenang lokasi syuting Ayat-ayat Cinta, film Indonesia paling gue gila-gilai, dan kembali menirukan dialog opening filmnya:


duh, saya juga butuh kamu, mas

"Maria,... Maria..."
"Fahri?"
"Ana, ana bata!"
"Kamush Arobi?"
"La,.. la!"
"Kamush, English?"
"La,... la!"
"Eee?"
"Ana, ana baata anta ilasya'ati! Diluati!"


Kemudian gue malah dikasih kuliah umum tentang bangunan kolonial. Antiklimaks.
Ini kali kesekiannya gue nggak tenang saat liburan, dan mungkin, mahasiswa Arsitektur memang ditakdirkan untuk nggak bisa menikmati liburan.
Misalnya, waktu gue jalan-jalan, setiap nemu gedung yang lagi di bangun, gue langsung kepikiran elemen pembentuk bangunannya: bagaimana balok, kolom, atap, pondasi, konstruksi beban, material, dan hal-hal berbau semen lainnya.
Fix, gue ke Semarang dalam rangka studi tur.

Nah, setelah puas berkeliling gedung, pandangan gue tertuju pada lokomotif tua yang dipasang di halamannya. Kami pun ke sana untuk bermain-main.
Sebelas-duabelas sama orang bego, kami me-reka ulang adegan Wild West, di mana para koboy melakukan aksi tembak-tembakan di atas kereta yang lagi jalan. Demi menghindari tembakan musuh, gue pun nyobain sendiri gimana rasanya selonjoran di bawah lokomotif dengan posisi menahan berat badan pake tangan.
Satu lagi obsesi bodoh dalam hidup gue terselesaikan.




***


Wisata malam kami belum selesai.
Kelar nge-drop Fitri di kosan temennya, kami melanjutkan perjalanan a la laki-laki di Semarang. Dipimpin oleh pria jalang bernama Dezky, dengan iring-iringan tiga motor, kami menuju pusat remang-remang 'Sunan Kuning' di kawasan Kali Banteng yang letaknya dekat bandara Ahmad Yani.

Sesampainya di sana, gue speechless.
Deretan rumah sederhana dicat mentereng serta dilukis gambar-gambar di bak truk pantura. Tak lupa, plang lokasi bertuliskan nama-nama centil seperti Barbie, Lucky, dsb. dipajang di depan untuk mengundang pengunjung masuk ke sana.
Beberapa penjajanya terlihat duduk santai di luar. Ada yang ceking, yang berisi, original, banci permak seadanya, ada juga mbak-mbak yang rambutnya dicat supaya mirip Beyonce namun apa daya wajah membuatnya mirip personel Trio Macan.

Nothing to do here, I said.
Kelar zinah mata, kami meninggalkan lokasi terlarang itu.
Ng...nggak usah nanyain foto. Waktu masuk kompleks itu aja gue nggak lepas dari istigfar.


Kurang puas, ternyata, si pria jalang kembali mengajak kami ke daerah lainnya.
Dekat Pasar Johar, di balik gelapnya gedung-gedung tua peninggalan Belanda, terdapat lokasi sejenis lainnya, namun jablay-jablaynya standby di pinggir jalan layaknya pedagang hawa nafsu kebanyakan.
Karena motor Satsu dan Fatah takut nantinya tiba-tiba ditumpangi mereka saat uji nyali melintas di sana, akhirnya cuma gue dan Dezky yang berani ngelewatin mereka.

Begitu melintasi jalan itu, tangan-tangan lencir tapi perkasa itu melambai-lambai.
Motor terus melaju konstan. Pertama kali dalam sejarah, Dezky tidak mengagung-agungkan kegantengannya.



***


Selesai wisata malam, kami berempat nongkrong di Polder Stasiun Tawang sambil menikmati orang yang mancing tengah malem.
Sambil sayup-sayup terdengar lagu Gambang Semarang dari stasiun Tawang yang menandakan ada kereta eksekutif yang datang, kami memutuskan untuk pulang dan menyiapkan tur selanjutnya yakni ke Kudus dan Jepara di esok harinya.

Di tengah jalan, gue menerawang.
Semarang bukan kota yang baru gue kenal kemarin sore.
Bagi gue, Semarang itu kampung halaman.
Surga yang nggak bakal abis dieksplor dalam satu hari.
Setiap ke kota ini, selalu ada aja cerita dan pengalaman baru yang gue dapatkan.
Yang jelas, setiap ke kota ini, gue jatuh cinta.
. . .
. .
.



Photo

17/07/2012

di 13:40


Label:

Welcome to Sophomore!
Diposkan oleh rizkidwika

ASTAGA, ini beneran gue punya punya kesempatan buat nulis lagi?
Demi apa? Nggak becanda ini gue sempet nulis?
Sumpah, ini jari gue lagi bersenggama dengan keyboard?
KYAAAAAAAAA!

Oke, lebay. But, hello there! Dwika strikes back!
Hampir dua bulan gue vakum di dunia beginian,
Kok lama? Iya.
Diculik? Nggak mungkin, siapa yang sudi nyulik perawan macam gue.
Terus kenapa?
Kemunculan gue di sini bukan karena jelang-jelang mau pilkada, tapi semata-mata hanya ingin merayakan surga yang telah didapatkan setelah melalui neraka bernama,... SEMESTER DUA
(-------- #np Dewi Sandra feat Olla Ramlan-Stop--------)


FYI aja, semester dua di Arsitektur ini bener-bener bikin panjang gigi.
Terkisah dua mata kuliah yang namanya tak seindah tugasnya, mereka adalah Tekomars dan Pengars.
Tekomars? Jejadian apa itu? Apa korelasinya perabot wajib pesta teh dengan planet mars?
Lalu, Pengars? Kenapa dipenuhi akhiran -ars -ars?


***



Pertama, Pengars. Pengars adalah akronim dari Pengantar Arsitektur.
Ibarat Cherrybelle, menurut gue mata kuliah ini adalah mata kuliah paling istimewwwa.

Setiap Kamis, mahasiswa Ars satu angkatan berkumpul di Auditorium, kemudian diberikan materi kuliah mengenai arsitektur dan seluk beluknya oleh dua dosen paling istimewwwa, yaitu Pak Jaya dan Pak Nanda.
Oleh keduanya, otak kami yang kosong dan nggak tahu apa-apa soal arsitektur seolah diisi terus sampe meluber ke luar-luar. Kami dikenalkan dengan bagaimana bangunan terbentuk, bagaimana struktur kolom-balok-pondasi-atapnya, keterkaitan bangunan dengan lingkungan, serta arsitek-arsitek dunia dan karyanya.
Akhirnya gue nggak cuma kenal Soekarno, Ridwan Kamil, dan Fauzi Bowo.

Hari Kamis adalah hari paling indah, tapi tidak dengan hari sebelumnya.
Sebelum masuk Auditorium, mahasiswa harus mengumpulkan tugas mingguan kepada fasilitator masing-masing. Sebagai mata kuliah paling istimewwwwa, tugasnya pun sama istimewwwwa-nya.
Setiap mahasiswa harus menganalisis bangunan yang berbeda tiap minggunya, kemudian dibahas sesuai materi yang sedang berlangsung. Misalnya lagi belajar skala dan proporsi, maka kita harus ngebahas skala dan proporsi yang diterapkan oleh sang arsitek pada bangunan itu. Intinya, kita harus banyak mempertanyakan kenapa didesain seperti itu, kemudian kita jawab sendiri berdasarkan alasan logis.
Singkatnya, lihat skema Da Vinci ini.


Sesuatu, right?


Tercatat udah banyak bangunan yang jadi korban analisis gue, mulai dari benda sekecil jemuran kosan, kantin fakultas, pos satpam, sampe bangunan mahamegah kaya' Masjid Istiqlal dan Pasar Tanah Abang. Setiap minggunya, laporan analisis itu dituangkan ke dalam buku, kemudian dikumpulkan.

Ngerjain ini nggak segampang masak aer, jek!
Gue dan temen-temen banyak yang nggak tidur sama sekali, melek sampe pagi dan nggak mandi, bahkan sebagai hiburan, tiap jam tiga pagi abis nyeduh kopi, gue nge-dance Heavy Rotation sendirian di kamar.
Tercatat udah tiga buku dengan total nggak kurang 120 halaman yang udah gue tulis, dan Alhamdulillah, saat ini gue masih hidup.


***



Kemudian, Tekomars. Teknik Komunikasi Arsitektur (Tekomars) merupakan mata kuliah paling nggak punya jati diri bagi gue. Gimana nggak? Teknik iya, Komunikasi iya, Arsitektur juga. Namanya sedikit nggak berpendirian.
Dilirik dari gabungan ketiga keyword tersebut, tujuan mata kuliah ini adalah mengkomunikasikan ide dan rancangan secara visual lewat penggambaran dengan tepat sasaran.
Dengan bobot enam SKS, mata kuliah wajib ini membunuhku men, membunuhku :'|

Tugas yang diberikan macam-macam, dibagi menjadi beberapa project, mulai dari menggambarkan emosi dan ekspresi, menuangkan objek alam ke dalam media gambar, membuat gambar kerja arsitektural -baik bangunan maupun furnitur, mendeskripsikan proporsi tubuh manusia dan pergerakannya dalam ruang, dan masih banyak lagi (intinya, mata kuliah ini nggak jauh dari yang namanya gambar).




TUGAS AKHIR
Komunikasi Ruang Sederhana
(Gambar Kerja+Maket Ruang)

Gambar Kerja Arsitek itu kaya gini loh


 Kalo Satu Bundel Gambar Kerja dikumpulin kaya gini loh



Semua yang termuat dalam foto ini dibuat oleh si ganteng menyedihkan berikut
dalam waktu satu minggu saja loh ._____.




Kuliah di Arsitektur faktanya memang membuat mahasiswanya nggak pernah mimpi buruk (karena tidak tidur, men, tidak tidur!).
Kalo lagi hectic ada dua deadline Tekomars dan Pengars, senam Heavy Rotation jam tiga pagi masih kurang bikin gue melek. Biasanya, kalo udah gini, gue menyiapkan lagu-lagu reject dalam sebuah playlist yang disetel terus menerus dengan earphone full speaker.

Lagu-lagu berikut adalah:
1. Anang-Ashanty - Jodohku
2. Trio Macan - Iwak Peyek
3.  Syahrini - Sesuatu
4. AKB 48 - Heavy Rotation
5. Dewi Sandra feat Olla Ramlan - Stop
6. Maia feat Cinta Laura- Penghianat Cinta
7. Ayu Tingting - Sik Asik
Kampungan? Kalo gitu gue nggak melek sampe pagi menjelang, broh!
*tuing kacamata*


Kuliah Arsitektur memang sesekali bikin sinting, sakit jiwa, dan tekanan batin,
Siapa bilang?
Di tengah penderitaan ini, kami punya sisi lain yang kadang memalukan.
Terkisah sekumpulan gila yang ditakdirkan bersama, yang kerjaannya menghibur diri dengan segala sesuatu yang ada di Studio, mulai dari lem aibon, fox, meja, bangku, dan lain sebagainya.
Yes, we are creeeezieh!


Dwika-Ochan: Sexy, Single, and Free

Human Body Movement: Komposisi Gerak
(dan gue jadi instruktur aerobiknya.........)


Keluarga Cemara :3
(@ Galeri NuArt, Bandung)



***
 
Somehow, Semester dua udah kelar, broh!
IP udah keluar dan memuaskan!
Jadi,... WELCOME TO SOPHOMORE GUYS!

Photo

07/07/2012

di 18:40


Label:

#JAKARTA7ODOHKU
Diposkan oleh rizkidwika

Photo

13/05/2012

di 14:52


Label:

Kom-Unik-Asi
Diposkan oleh rizkidwika

Communication - the human connection - is the key to personal and career success.
Paul J. Meyer


Komunikasi adalah aktivitas primer yang mencakup semua hal dalam kehidupan sehari-hari. Semua orang, tua dan muda, laki-laki atau perempuan, entah di bidang apa dia berada, semuanya membutuhkan komunikasi. Omongan ini bukan cuma teori doang. Sebagai salah satu mahasiswa yang pernah memilih jurusan komunikasi waktu SNMPTN tahun lalu, gue merasakannya.

Hampir setahun gue resmi jadi mahasiswa Arsitektur Interior di salah satu PTN paling kuning di Indonesia. Siapa sangka, di jurusan hasil kawin silang antara seni dan sains seperti jurusan gue ini, terselip mata kuliah komunikasi di silabusnya. Di semester dua ini, gue ketemu sama salah satu mata kuliah bernama Teknik Komunikasi Arsitektur, di mana sang calon Arsitek diarahkan bagaimana mengomunikasikan rancangannya ke client dengan tepat, secara verbal/nonverbal.

Mengamini apa yang udah gue bilang, cakupan komunikasi itu luas banget! Bayangin, apa jadinya dunia tanpa komunikasi yang baik? Misalnya, seorang client meminta dibuatkan sebuah hunian tipe minimalis. Namun, karena komunikasi yang buruk, sang arsitek malah membuatkannya hunian minim-abis, yang ukurannya cuma muat ditempati sama satu orang posisi kayang. Akibatnya, arsitek itu kehilangan reputasi dan jasanya nggak bakal dipake sama orang lagi. Itu baru bidang sepele, gimana kalau menyangkut masalah vital, seperti komunikasi antarbangsa. Salah-salah bisa menimbulkan perang berkepanjangan. Bahaya, kan?


***

Nah, di zaman berteknologi layar towel seperti sekarang ini, kita memiliki banyak kemungkinan untuk bisa berkomunikasi secara luas ke siapa saja, lewat sebuah dunia yang udah kita kenal sekitar satu dasawarsa, dunia maya.
Bukan, bukan.Maya yang gue maksud bukan Maya yang suka nyatok rambut namun tetap berkilau seperti yang ada di TV-TV. Maya yang gue maksud adalah: internet……
*mata menerawang*

Sekali klik, kita bisa berkomunikasi tatap muka dengan teman yang letaknya berjauhan.
Sekali twit, kita bisa bertukar pikiran sambil kamseupay-kamseupay-an.
Sekali upload, besoknya kita jadi bintang iklan produk sosis siap makan. Ajaib kan?
Teknologi mempermudah kita berkomunikasi, sob! Bersyukurlah lahir di zaman ini!

Tapi, berkomunikasi bukannya tanpa celah. Dalam berkomunikasi, terdapat gangguan-gangguan yang dapat menghambat tersampaikannya pesan dari informan ke penerima alias miskomunikasi. Gangguan-gangguan itu dapat berupa salah interpretasi, keterbatasan bahasa, termasuk gangguan teknis, seperti gadget dan sinyal.

Mengenai kedua hal ini, gue punya pengalaman pribadi.
Gue termasuk orang yang langgeng, nggak kerasa kami udah lima tahun. Romantis? nggak, nggak ada romantis-romantisnya. Bener gue udah lima tahunan. Bukan sama cewe, tapi sama hape gue, N70... *nangis galau*

#prayfordwika


Di tengah gempuran ponsel minim keypad sampai yang kepenuhan keypad, hape gue masih sanggup bertahan. Bertahan dalam kengenesan. FYI aja, hape gue udah tidak hapesiawi lagi. Casingnya retak di mana-mana, keypad jebol sehingga gue tambal dengan selotip, serta baterai yang bocor mewajibkan gue memiliki tiga baterai cadangan. Tiga, saudara-saudara. Tiga!

Penderitaan bertambah. Bukan, bukan karena gue jomblo, melainkan salah pilih operator.
Berawal dari iming-iming promo operator X, gue pun menduakan nomor IM3 gue yang dipakai sejak 1 SMP. Karena terjebak promo palsu, karena teledor, nomor IM3 gue hangus gara-gara lewat masa tenggang. Gue desperate seketika, apalagi setelah tahu kalo nomor yang hangus nggak bisa dibangkitdarikuburkan lagi.

Ke-desperate-an gue memuncak. Waktu ngekos di Depok, selain krisis cinta, gue juga krisis sinyal. Di kosan gue, sinyal operator X persis Aurel Hermansyah. Putus nyambung, guys! Di dalam kamar, sinyal satu bar. Ke luar, bisa lima bar. Miring ke tenggara, no signal. Menghadap kiblat, cuma tiga bar. Promonya pun bodong. Harga miring, tapi kualitas sinting. Terjebak!
I WANNA GET MY IM3 BACK, PLEASE!

Jujur, kondisi yang mahatidakkeren ini menyulitkan gue untuk berkomunikasi. Gadget bapuk, sinyal busuk. Kemudian, gue kembali tergoda untuk beralih ke IM3 yang sedang gencar ngasih program Anti Galau seharian. Murah beneran ditambah sokongan sinyal kuat Indosat? Sakit jiwa! Nggak becanda kan?! KYAAAA~ KYAAAA~ *mimisan*


***

Seperti yang gue bilang. Sekarang ini, kebutuhan manusia akan berkomunikasi sangat besar. Selain itu, teknologi yang terus berkembang memudahkan kita untuk berkomunikasi dimana saja, kapan saja, dan lewat media apa saja.

Tapi ingat, jangan cuma berkoar di dunia maya saja, komunikasi di dunia nyata itu penting loh, manteman. ‘Bacot’ di socmed boleh, tapi, berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar nggak boleh dilupakan! Seratus persen fisik kita ada di dunia nyata, jadi jangan cuma ngandelin interaksi via koneksi gprs aja. Get a real life!

Ada kata ‘unik’ di dalam kata ‘komunikasi’,
dan keunikan itu adalah cara kita mengekspresikan diri kita sendiri :)

Photo

11/04/2012

di 19:29


Label:

Untitled
Diposkan oleh rizkidwika

Hai kawan-kawin,
manteman pengunjung situs terlarang bernama personal blog ini!
(itu juga kalau ada yang ngunjungin)
Walau gagal dapet Panasonic Awards, Nikita seneng banget bisa bertemu dengan kalian semua :'D
Maaf salah prolog.

Tapi bener deh. Gue bahagia.
Gimana nggak bahagia, padetnya kuliah Arsitektur Interior bikin gue nggak punya waktu buat nulis lagi. Seketika hidup gue penuh dengan warna-warni (dalam arti sebenarnya, alias gambar terus sampai jari ledes)
Dan FYI aja, minggu lalu adalah minggu UTS, di mana gue yang kapasitas otaknya tinggal sekian MB doang ini disuruh menghadapi Aljabar Linier, Fisika Dasar, Agama, dan mata kuliah jurusan: Pengantar Arsitektur, dan Teknik Komunikasi Arsitektur.
Hasilnya, gue tidur paling cepat jam 2 pagi.
Satu hari pernah nggak tidur sama sekali.


Anak Arsitektur memang tidak pernah tidur,
that's why they call us mata panda :'')



***

Anyway, mmmm.
Waktu rasanya berjalan cepat banget. Baru kemarin tahun baru, sekarang udah April.
Mmmmm, sebenernya banyak yang gue mau share tentang kejadian di bulan lalu.
Mmmmm, kasih tau nggak ya, mmm,
Oke mmm, stay cool pemirsa, tetap cantik....
Mmmmm,
BOOOOOOOOO GUA FACE TO FACE SAMA ROSSIANA SILALAHI BOOOOOOOOO, DAPET TANDA TANGANNYA RIDWAN KAMIL JUGA BOOOOOOOOOOOO
KYAAAAAAAAAA~KYAAAAAAAA~
*Masuk RSCM*

Tapi, bodohnya adalah gue nggak bawa foto-foto kejadian itu.
Mereka tergeletak rapi di Kosan sana.
Jadinya, postingannya dipending dulu ya :')

Anyway, mmmm.
INI BULAN APRIL PEMIRSA, APRIL!
TETRALOGI SUPERNOVA DATANG LAGI! :'D
Ada yang mau ngasih kado gue buku Supernova: Partikel?
Cuma 79.000 kok...
Mmmmm, kode, mmmmm,.....
Ciao! Kecup bibir!

Photo

07/04/2012

di 17:18


Label:

Sunday Ars 2012: Let The Magic Begins!
Diposkan oleh rizkidwika

Sabtu, 10 Maret 2012.
Hari eksekusi akhirnya datang juga. Bertolak belakang dengan akhir pekan yang ceria, sejak jam delapan Studio Dept. udah riweuh dipenuhi Panitia SA2012 yang wara-wiri ngangkat ini-itu, mempersiapkan keberangkatan peserta SA2012.

Pagi itu, rencananya warga Ars UI bakalan ngadain tradisi Malam Keakraban (Makrab) tahunan, yaitu Sunday Ars 2012. Tahun ini, yang kami usung menjadi tema SA2012 adalah HogwArs, terinspirasi dari sekolah sihir Hogwarts di film Harry Potter.

Setelah persiapan dan registrasi peserta, jam setengah sebelas, bus pariwisata yang disulap menjadi Hogwars Express 2 pun berangkat. Kami pun siap melawan kemacetan Lenteng Agung yang melegenda, lima jam menuju Pantai Anyer, Banten.

Pantai Anyer dipilih panitia sebagai tempat diselenggarakannya makrab ini. FYI, gue adalah salah satu orang yang paling excited dengan pemilihan pantai ini. Kenapa?

Pertama, gunung is too mainstream, men! Bayangin, berapa juta acara makrab atau konsol di Teknik yang menggunakan pegunungan sebagai destinasi wisatanya. Kalo nggak Puncak, ke Bogor desa-desa. Mentok-mentok paling ke Lembang.

Kedua, gue adalah petualang newbie. Sebagai catatan aja, rekor berkelana gue itu cupu abis. Paling jauh ke timur Indonesia itu Cepu, Jawa Tengah, dan paling jauh ke barat Indonesia itu Tangerang. Lebih tepatnya, selama tujuh belas tahun gue terlahir di dunia, gue terpenjara di Pulau Jawa. Kemarin itu kali pertama gue melintasi BSD, dan gue bahagia banget bisa ngelewatin perbatasan Tangerang. *tumpengan*


***

Bener aja, begitu liat pantai dan ombak segede gaban dari jendela, gue udah sumringah bahagia-bahagia gimana, layaknya dua sejoli yang melepas rindu karena LDR. Tak lama, Hogwars Express tiba di Pondok Bengras, lokasi penginapan SA2012. Peserta pun turun dari bus dan tim advance sudah bersedia menyambut kedatangan kami. Senior pun diajak bermain games di pantai terlebih dahulu, sementara panitia yang baru tiba mempersiapkan acara malam puncaknya.



Upacara Penyambutan

Sunset Mahakece



Setelah free time dan makan malam, acara puncak pun tiba. Acara puncak diawali dengan pemutaran video angkatan dan film pendek yang bodohnya nggak ada obat: Ponary Potter and the Celup Stone, sekuel kelanjutan Harry Potter 7 yang gagal tayang di XXI karena tidak lulus uji toksisitas.

Makin malam makin seru. Band-band senior tampil di depan, malam akustikan. Hingga yang dinanti-nanti datang juga, persembahan angkatan. ARSUI2011 dandanan boleh Heavy Metal, tapi hati kami tetap Heavy Rotation!

Yup, this is it: ARS 48! Sebuah girlband yang terdiri dari cewek-cewek Arsitektur yang skill dance-nya nggak kalah sama Cherrybelle, SNSD, SKSD, SIAKNG, apa pun namanya. Kelar ARS48, giliran Bintang dan Marci yang mimpin semua peserta untuk flashmob sekaligus menutup acara puncak.



The Magicians dan gue dengan poni belah gadis desanya

ARS48!

Peserta Sunday Ars 2012

Total Blackout




***

Minggu, 11 Maret 2012.
Malam makin larut. Masuk ke acara total blackout, acara bebas. Tidur boleh, ngerumpi boleh, serah lu. Setelah mati gaya dan mati kekenyangan abis masak indomie, gue dan Nanas pun berniat ke Pos Keamanan di depan. Ternyata, cowok Ars 2011 yang dari tadi nggak keliatan sedang bikin rapat bujang di sini. Diiringi angin laut, kami tertawa lepas layaknya orang yang pesta sabung ayam.

Sekitar jam dua, kami kembali ke stage utama. Masih ada senior yang genjreng-genjreng gitar, main kartu, dan lain sebagainya. Hingga tiba-tiba dibentuklah acara gombal-gombalan. Gue dan Ala maju sebagai perwakilan 2011, Dije dan Ka Vania wakilnya 2010, dan Ka Anu wakil tahun 2009.
Gombalan berjalan dengan menjijikkan.

Satu gombalan yang gue bikin:
"Kos-kos apa yang paling kece di Teknik?
Nggak tau? Kos you're amazing, just the way you are..."
Tolong. Gue nggak mau tinggal di bumi ini lagi.


***

FYI, malem itu gue nggak tidur sama sekali. Gue dan sekawanan pria lainnya ngobrol-ngobrol ceria bareng trio 2008, Ka Miktha, Ka Hadi, dan tentu saja, kakak asuh, Ka Rizky. Bersama mereka yang telah berpengalaman, kami diajarkan bagaimana metode menganalisis yang baik dan benar, yang kelak ilmunya dapat kami terapkan di matkul Pengantar Arsitektur.

Kami membahas tentang banyak hal, thesis skripsi tentang Jomblo dan Pengaruhnya terhadap Arsitektur, Single dan Perancangan Kamar Tidur, dan masih banyak lagi. Obrolan kengenesan ini kami teruskan sampai langit membiru, bicara kartun masa kecil ini, kartun itu, sembari hidung di-PHP-in sama gorengan nugget yang tak kunjung matang.

Habis sarapan, kita main-main ceria di pinggir pantai. Pertama, gue merasa excited. Gue lari-larian di pinggir pantai dengan jubah hitam yang gue kenakan. Rasanya seperti Krisdayanti yang bercengkrama dengan Raul Lemos di Pantai Dilli. Bedanya, gue nggak pernah operasi hidung sama jidat, gue bukan diva, gue nggak nafsu sama Raul Lemos, dan seandainya gue homo, selera gue nggak Raul Lemos juga kali.

Setelah itu, gue lebih memilih menyendiri, nyari pantai yang jauh, duduk di batuan karang. Bukan karena gue forever alone, tapi bagi gue, pantai adalah saat yang paling tepat untuk galau. Sambil menatap nanar menanti sapuan ombak, gue merasa merindukan sesuatu yang gue sendiri nggak tahu. Nggak, nggak. Gue nggak guling-gulingan di atas karang sambil nyanyi Rindu-nya Agnes Monica kok, tenang aja. Di tengah kebesaran-Nya, gue menikmati kondisi ini. Ea.


Lintas Angkatan Penuh Ceria



Kelar main-main di pantai, jam delapan kami check-out dari Pondok Bengras, Anyer. Setelah bebenah lalu masukin tas ke bus, kami keluarga Arsitektur UI foto-foto ceria sambil menikmati pantai untuk terakhir kalinya. Jam sembilan, lima bus Hogwars Express meluncur kembali ke Depok tercinta, diiringi dengkuran dua ratusan mahasiswa-mahasiswa nokturnal yang sudah kehabisan tenaganya.



***


Photo

24/03/2012

di 12:45


Label:

Duit, Do-it!
Diposkan oleh rizkidwika

It’s not about the money, money, money.
We don’t need your money, money, money.
We just wanna make the world dance,
Forget about the price tag.
Jessie J, 23 tahun, penyanyi omdo. Ngaku nggak butuh duit tapi tiketnya di Pond’s Teen Concert Rp. 350.000,00


Halo kawan-kawin yang berbahagia,
Entah mengapa, dua bulan belakangan ini gue keracunan lagu di atas, lebih tepatnya sejak karaoke bersama Geng Ketje (baca:Ke-ce, dibaca seperti biasa), geng curhat yang dibentuk secara insidental, terdiri dari Ardi, Afkar, Susil, Tyas, dan David Archuleta Gue sendiri. Selain catchy, kalau ditela’ah liriknya, lagu ini memang benar.

Money can’t buy us happiness.
Tapi, dalam kasus ini, persetan dengan semua itu.
Akhir-akhir ini gue lagi butuh duit, butuh sekali.


***

Dalam rangka pre-event Makrab Arsitektur UI: Sunday Ars 2012, maba-maba yang bertindak sebagai panitia harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, atau bahasa anak kampusnya: ngedanus. Nge-dana-usaha, nyari dana dengan usaha. Sebagai bagian dari divisi Danus SA 2012, pengalaman susahnya mencari duit pun gue rasakan di sini.

Berbagai cara mulai dari jualan kue-kue, piscok, ngamen sepanjang Margonda, sampai jualan di GBK udah kita lakukan. Rencana-rencana ‘loe-sakit-jiwwa-tauw-nggawk?’ kayak jual ginjal masing-masing bahkan udah sempet kita pikirkan. Tapi, rencana Divisi Danus yang paling kece adalah, mmm, here we go.



Jum’at (24/02) lalu, 17 maba Departemen Arsitektur dengan mengenakan pakaian 80’an, pagi-pagi buta sudah berkumpul di Halte Teknik. Diindikasikan mereka cabut kuliah MPK Agama, untuk tampil di acara dengan total lima puluh juta, Rangking 1 Trans TV. Karena orangnya banyak, kami berangkatnya pun misah-misah. Sebagian naik satu mobil, sisanya masuk empat taksi.

Gue, Isnat, dan Mushab berangkat setengah enam dalam taksi yang sama.
Setelah melawan kejamnya macet di Lenteng Agung hingga Pancoran dan pandangan mata yang tak lepas argo yang terus bergulir, jam setengah tujuh akhirnya kami sampai di Tendean, masuk Kompleks Trans Corp.

Abangnya pun nurunin kami di parkiran dalam, samping setting rumah Big Brother. Abis bayar abang-abangnya, kami bertiga turun dari taksi. Kesan pertama, gue ternganga-nganga. Ibarat meme-nya 9gag, iler gue berpelangi. Kenapa?

Bagi gue, menginjakkan kaki di gedung ini sama rasanya waktu gue menginjakkan kaki di Stasiun Pondok Cina setahun lalu. FYI, gue adalah Transmania, sebutan orang yang freak sama Trans Corp dan tetek bengeknya. Waktu Amingwati dan lipgloss-nya masih jaya-jayanya, gue punya obsesi besar untuk bisa bekerja di sana. Saking niatnya, waktu SMP gue intens kontak-kontakan sama presenter Jelajah kaya Fransisca Rathy, Riyanni Djangkaru, dan Adita Nanda via Friendster. Dan sekarang, gue berada di markas besar mereka?!
Ambulans! Panggilkan Ambulans!!!


From Sevel Tendean


Kembali ke topik.
Abis turun dari taksi, kami bertiga berjalan nyari-nyari Studio 10, tempat syuting Rangking 1. Hari masih pagi, namun suasana di luar studio sudah hectic. Orang-orang dengan kostum warna-warni yang sulit gue identifikasi mana yang alay dan mana yang peserta sudah sibuk wara-wiri sambil berfoto-foto ria. Tak lama, mas-mas mancung berseragam yang mukanya mirip Pak Lili guru biologi mengadakan instruksi. Kami semua masuk ke studio.

Pagi itu, tim yang akan bertanding antara lain Arsitektur UI, Desain Interior UPH, Perpajakan yang gue lupa entah dari mana, satu tim rekayasa yang disetting bakal keluar di soal pertama, plus kru dan selebriti kurang terkenal di balik layar Termehek-Mehek. Di dalam studio, kami langsung memilih tempat. Lucky number seventeen, dengan sigap gue ngambil posisi yang mepet di depan itu.

Tiga puluh menit pertama, kami dikasih instruksi cara menjawab soal, bagaimana angkat papan dan taruh di dada, goyang-goyangin papan, sampai teriak jargon ‘pinter nggak tuh’ sambil muter jari lalu tepuk tangan dengan baik dan benar.

Saat itu, gue sempat-sempatnya bimbang. Pertama, gue ngantuk mampus, secara malamnya gue cuma tidur lima belas menit karena bikin maket dari stik eskrim. Kedua, AC-nya dingin banget, rasa-rasanya Toshiba, Samsung, LG, Sharp, Denso, Sanyo, dan merk-merk KW super kaya Changhong lagi perang siapa yang paling dingin di dalam sini. Ketiga, sebagai dampak dari kondisi kedua, gue kebelet, tapi nggak tau kebelet apa. Entah pipis, entah ee, gue dilema.


Mushab, Isnat, Eliezer, dan Archuleta kurang tidur yang mabuk minuman ditambah mabuk judi


***

Five, Four, Three, Two, One!
SHOWTIME!
Dua pembawa acara dengan tarif eksklusif namun tinggi badan minimalis, Ruben Onsu dan Sarah Sechan, membuka acara dengan haha hihi basa basi. Mereka pun membacakan soal pertama, isi kata.

Dengan suara seadanya, mereka berdendang.
“Maju tak gentar, membela yang benar. Maju tak gentar, titik-titik kita diserang.”
Kampret, soal macam apa ini. Like a boss, gue pun menulis dengan gegap gempita.
“Lima, empat, tiga, dua, satu. Angkat papan.”
“Jawabannya HAK!”
Papan-papan bergoyang. Alay-alay yang disetting untuk keluar pun turun panggung, wait what? Perwakilan ARS UI, Eliezer juga keluar? Pantesan tadi kru disamping gue ngebisikin jawaban ke arah kami, ternyata soal pertama dikasih pur toh :v

Soal kedua, masih terlalu konyol. Bahasa inggrisnya lawan pangeran. Princess, simple. Papan-papan bergoyang. Pesertanya bertahan semua.
Masuk soal praktikum, gue mulai keringetan. Gue dengan otak yang nalarnya kurang mumpuni ini disuruh menebak fenomena fisika?!

Soalnya begini. Profesor Sogi dan Master Tarno ngegosokin sedotan plastik, lalu ditaruh di atas botol plastik. Apabila tangan didekatkan ke sedotan tadi, apakah sedotannya akan Mendekat atau Menjauh?
Gue bingung, oke, gue ngasal: mendekat. Pas liat jawaban Anita, Isnat, Mushab yang jawab menjauh, gue makin galau. Pas dicoba.
“Jawabannya mendekat!”
Papan-papan bergoyang. Setengah ARS UI turun tahta.
Emak! Bapak! Anakmu yang lemot bisa ngelewatin Babak Praktikum!
*dadah-dadah ke kamera*

Masuk segmen ketiga, Aku Ingin Tahu.
Sogi ngasih VT tentang burung-burungan. Pertanyaannya, burung apa yang bisa menirukan suara manusia? A. Beo, B. Nuri, C. Betet, D. Ketiganya.
Lima, empat, tiga, dua, satu. Mati, gue ga sempet mikir.
Yaudin, gue nulis: A. Beo
VT dilanjutkan.
“Jawabannya D. Ketiganya!”
Papan-papan bergoyang. Yah, keluar. Gue nengok ke belakang, yah kami habis semua…


***

Kami pun menonton sendu babak selanjutnya dari bangku penonton.
Gagal punya chance dapet lima puluh juta itu nyesek, jenderal!
Lebih nyesek lagi adalah udah bolos berjama’ah, yang masuk final itu Talent yang nggak bisa jawab soal ecek-ecek dan cuma dapet satu juta doang, bung!
Harga diri, mana, harga diri?!

Acara pun selesai. Peserta joget-joget nggak jelas, kami foto-foto, terus dapet nasi box plus ngembat nasi boxnya lagi. Di depan gedung Trans, kita ngedumel sambil bercerita.
Yang lalu biarlah berlalu,
Danus harus bekerja lebih giat lagi. Kami pun melangkah keluar, numpang makan di Seven Eleven Tendean, bersama alay-alay lainnya...


Gagal Pulang ke Depok dengan 50 juta


***

Setidaknya, gue dapet pelajaran.
Nyari duit bukanlah perkara gampang.
Nyari duit itu nggak ada yang instan.
Anak-anak di Kantek yang jual tisu, koran, sama risol aja sanggup berjuang demi uang, masa gue nggak?

Nyari duit itu butuh usaha,
Nyari duit itu butuh do-it, kerjakan! Jangan ngomong doang!
Anyway, sebagai tambahan, gue mohon restu ke kalian. Rencananya mulai Maret hingga tahun depan, gue sedang melancarkan rencana berdagang kaos dan mencoba survive di Depok dengan living cost Rp. 30.000,00 per minggu.
Demi backpacking to Singapore 2013, kawan-kawan!
Lain kali saya ceritakan,
Oh Singapore :’)

Photo

03/03/2012

di 19:48


Label:

JKT48!
Diposkan oleh rizkidwika



"I want youuuuuuuu~"
*mulut dimanyunin*
"I need youuuuuuuu~" *tangan di pinggang*
"I love youuuuuuuu~" *pantat nungging*

Oke, jangan muntah dulu. Plis jangan ngebayangin gue yang melakukan hal seperti itu, yang melakukan gerakan ini adalah empat lusin cewek 13-23 tahunan. Iya, empat lusin!
JKT48!

Apa? Ada yang nggak tau JKT48 itu apa?
JKT48 (Jey-Key-Ti-Fo:ti-Eit') adalah idol group yang diadaptasi dari kakak mereka, AKB48, grup paling kece dan paling terkenal di Jepang sana. JKT48 muncul di tengah demam girlband yang makin menyebar di mana-mana. Tapi, mereka ini beda, karena mereka, empat puluh delapan

Dan, di Hellofest yang diadakan KDRI (Kementerian Desain Republik Indonesia) dan Hellomotion Design Academy, gue berkesempatan bertemu dengan mereka.
Setelah menunggu lama dan sekitar stage benar-benar udah padat, segerombolan cewek dengan kostum anak-anak di sekolahnya Sailormoon datang dari belakang panggung.

"Anjiiiiiiir, Geidaaaaaa"
"Kyaaaaaaaaaaaaa"
"Fourty Eight! Fourty Eight!"
Pasar Hellofest riweuh seketika.

Oh iya, di Hellofest8, gue bareng sama Kak Yo, jomblo ngenes lainnya dari departemen yang sama dengan gue. Kebetulan rencana kami sama: mau ngeliat langsung JKT48 dengan jarak sedekat mungkin. Karena telat dateng ke sekitaran stage, kami kejebak di tengah-tengah, posisi yang nggak enak untuk ngeliat ke panggung karena panggungnya terlalu pendek, dan gue juga yang terlalu pendek.....

Posisi gue bener-bener kegencet. Di sebelah kanan kiri gue ada gerombolan cowok jomblo nan menyedihkan. Sementara itu, depan gue cina-cina tinggi semua. Nggak hanya sampai di situ, tangan mereka sibuk megangin camdig dan hape mereka buat ngerekam aksi JKT48. Kampret.

***



"WE ARE, JE KEY TI FOTY EIT!!!"
"Kyaaaaaaaaaaaaa"
"One Two Three Four! I want yoouuuuuu~ I need youuu~~"


Mereka melakukan koreografer yang tadi gue jelasin. Goyang sana-sini sambil nyanyi lagu Heavy Rotation, lagu yang dijadiin soundtrack Pocari Sweat. Kampret, kaga keliatan, jing!
Nggak ada jalan lain. Gue akhirnya mencoba jinjit.
Akhirnya dengan sedikit usaha (jinjit sepuluh menit), akhirnya gue bisa ngeliat mereka, walaupun cuma keliatan kepalanya.

Setelah menyanyikan Heavy Rotation dan Aitakatta, MC pun datang dan mengajak JKT48 untuk memperkenalkan diri mereka satu per satu. Anjir, baru selesai jinjit, gue harus jinjit lagi.
Oh iya, sebenernya, perkenalan yang mereka buat itu sok diunyu-unyuin, loh. Kaya udah ada pakem yang harus diikutin. Perkenalan mereka itu kaya gini.

Orang I:
*Senyum*
*Nyipitin Mata*
*Nyemprengin Suara*
Aku gadis yang selalu semangat lincah gembira. Hai, aku Bunga!
"Hai Bungaaaaa!" Kata gerombolan cowok jomblo nan menyedihkan.

Orang II:
*Senyum*
*Nyipitin Mata*
*Nyemprengin Suara*
Biarpun mataku sendu, aku bisa membuat kamu tersenyum, Halo, namaku Mawar!
"Hai Mawaaaaar!" Kata gerombolan cowok jomblo nan menyedihkan.

Orang III:
*Senyum*
*Nyipitin Mata*
*Nyemprengin Suara*
Hobiku sembahyang, sedekah, dan mengaji. Hai, nama aku Melati!
"Hai Melatiiiiiii!" Kata gerombolan cowok jomblo nan menyedihkan.


Nggak bohong, gerombolan cowok jomblo yang ada di sebelah gue memang benar-benar menyedihkan. Sebelum JKT48 perform, bahkan mereka beli satu set foto JKT48 yang dijual di stand JKT48 seharga Rp40.000,00 dengan bonus voucher bersalaman dengan personel JKT48-nya. Biarpun gue jomblo, gue nggak se-sedih itu. Gue bermartabat.
*nuing kacamata*

Oh iya, ternyata personel JKT48 sekarang baru ada 56 buah 28 orang. Mereka baru gelombang satu, kalo nggak salah baru Tim J sama tim K. Nah, masih dicari lagi 20 cewek bertalenta untuk menggenapkan jumlah mereka. Makin banyak pilihan dong? Muehehe.
Gue sebenernya dilema, antara mau ngambil satu dari mereka buat pajangan di rumah, atau malah ikutan audisi buat tim T-nya. Tuhan, tolong aku, ku tak dapat menahan rasa di dadaku...
#abaikan

***


Di luar segala keunyuan mereka dan lagunya yang terus berputar di alam bawah sadar gue, gue juga sering kepikiran: Mereka banyak banget, mau nyanyi atau penerimaan siswa baru?
Terus, bagi gajinya gimana? Bayaran kecil dibagi satu RW? Satu orang ceban, gitu?
Biarin, yang penting mereka bening.
*mimisan*
*mati syahid*


----------------------------------------------------------
EXTRAS: JKT48's VIDEO CLIP!
Siapin tissue kalian, guys!

Photo

05/02/2012

di 10:34


Label:

SENT!
Diposkan oleh rizkidwika

Untuk Blog Contest Mizan.com


2010.

Gue ingat hari itu. Salah satu Selasa dari banyak Selasa di 2010, saat masih SMA. Seperti Selasa-selasa lainnya, waktu istirahat setelah olahraga, gue pergi ke perpustakaan, belajar jelang kuis kimia.

Semesta menakdirkan. Gue ingat perjumpaan dengannya. Satu novel usang bin kertas nguning plus cover bolong tengahnya terselip secara random di rak buku kimia.
Supernova: Akar, judulnya tercetak dengan aksen naga merah di sekitarnya.
Nggak pikir panjang, gue langsung sewa buku itu, setengah lupa kalo nanti ada kuis kimia.

Bagi gue, baca Akar itu kaya berpetualang beneran. Satu bab di Bangkok, beberapa halaman kemudian gue dilempar ke ladang ganja di Indochina.
Nggak ada malam tanpa Bodhi. Kelihatannya keren, elegan, baca novel berbahasa berat, tapi jujur: tiap halaman, harus gue baca dua kali. Itu pun pasti dibantu KBBI. Modar.
Setelah mengkhatamkan buku kedua, temen di kelas cerita kalo dia punya seri satunya, Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.

Dhimas, Reuben…
………………………………
(halaman dilipat, ngantuk berat)
…………………………………
Diva, Ferre, Rana…
……………
………
……
Dengan KBBI dan iringan Malaikat Juga Tahu, buku satu selesai. Gue coba menghubungkan kedua seri tersebut. Buku satu tambah buku dua, sama dengan buku tiga,
Supernova: Petir. Otak gue kesamber petir.

***




2011.Era Twitter, gue semakin kenal dengan sosok dibalik Supernova, Ibu Suri Dee Lestari. Saking noraknya, berkali-kali gue mention Ibu Suri sampai membuahkan prestasi: di-RT dua kali.

Lewat Twitter, gue baru tahu kalo Malaikat Juga Tahu adalah salah satu lagu dari buku yang juga disertai album lagu: Rectoverso bersama lagu lainnya termasuk Firasat, lagu galau tingkat cumlaude yang dulu gue kira lagu itu hanya lagu yang dinyanyikan oleh peserta ajang pencarian penyanyi karbitan.
Pantesan, asa asing kitu maca Supernopa bari ngadenge’keun Malaikat Oge Nyaho!

Berasa ketinggalan zaman satu dekade, gue baru tahu kalo ternyata selain Trilogi Supernova, masih banyak karya Dee lainnya. Filosofi Kopi salah satunya.
Kejadiannya hampir sama, di Perpustakaan, tapi, kali ini statuslah yang membedakan, dari masihsiswa menjadi mahasiswa.

Entah kesambet angin apa, di perpustakaan yang ber-starbucks itu, gue mendatangi rak buku 899- rak buku sastra. Lagi-lagi terselip buku kertas nguning dengan sampul menyedihkan di antara jejeran buku tebal lainnya. Dee, Filosofi Kopi.
Berbeda dengan Supernova, Filosofi Kopi ini merupakan kumpulan cerpen dan prosa dari Ibu Suri yang dikemas dengan bahasa yang lebih manusiawi bagi gue, karena nggak butuh KBBI.
Sepertinya takdir kehabisan skenario. Belom tuntas dibaca, lagi-lagi teman nawarin gue buku Dee lainnya untuk gue habiskan. Kali ini Madre, novel Dee paling anyar yang bertahan lama jadi pajangan di etalase best-seller toko buku besar.

***




2012.
Lewat kemahirannya, Ibu Suri berhasil menginspirasi gue dan puluhan bahkan ratusan penulis amatir lainnya. You Influence Me, Madam!
Lihat, betapa banyak tulisan sok-unyu sok-galau dan sok-romantis kayak ini, ini, dan ini, yang ditulis ba'da baca cerita-cerita garapanmu.

Lewat tangan dinginnya, Ibu Suri telah berhasil menginspirasi gue dan puluhan bahkan ratusan penulis amatir lainnya. Bahkan salah satu karyanya: Perahu Kertas -novel tebal yang belom gue baca karena keterbatasan dana dan SDM- sudah siap diangkat ke layar lebar tahun ini.

Lewat kebahasaannya, Ibu Suri benar-benar berhasil menginspirasi gue dan puluhan bahkan ratusan penulis amatir lainnya. Dia memberi sentuhan baru di Sastra Indonesia dengan memberikan karyanya yang karyanya nggak bakal dilupakan para penikmat bahasa.

Lewat surat ini, semoga Ibu Suri membacanya.

***

Dari : Rizki Dwika Aprilian
Untuk :
Mizan.com

Photo

24/01/2012

di 20:31


Label:

@rizkidwika

fatwa halal

fatwa halal

Universitas Indonesia


jama'ah